Hakikat Manusia dalam Islam

Dalam Islam, ketika seorang hamba hendak mengenal Allah, maka ia terlebih dahulu harus mengenal siapa dirinya. Dengan demikian proses untuk mengenal Allah akan mudah untuk dilalui. Maka sebagai hamba Allah yang beragama Islam, sudah sepatutnya kita untuk mengenal lebih dalam tentang hakikat manusia.

Allah telah memberikan gambaran tentang makhluk bernama manusia dalam Al-Qur’an. Manusia diciptakan oleh-Nya dengan keistimewaan yang membedakannya dengan makhluk lainnya.

Secara garis besar hakikat manusia terdiri dari tiga unsur yang memiliki proporsi sama penting, yaitu jasmani, akal dan rohani. Lalu, bagaimana hakikat manusia dalam kajian Islam?

1. Manusia adalah Makhluk Allah

Keberadaan manusia di dunia ini bukan atas kemauan sendiri atau hasil evolusi alami, melainkan atas kehendak Allah. Manusia merupakan makhluk yang diciptakan oleh Allah, sehingga manusia tidak akan bisa lepas dari ketergantungan kepada Allah dalam hidupnya. Ia pun tidak bisa terlepas dari ketentuan-Nya.

Sebagai makhluk, manusia berada dalam posisi lemah atau terbatas. Dalam arti, ia tidak memiliki kemampuan untuk menolak, menentang, atau merekayasa yang sudah dipastikan oleh Allah. Dalam Q.S. at-Tin ayat 4 Allah berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Sesuai dengan fitrah penciptaannya, manusia hidup di dunia memiliki kewajiban untuk mengabdi hanya kepada Allah, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. adz-Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

2. Manusia sebagai Khalifah di Bumi

Sudah diketahui secara jamak bahwa manusia merupakan makhluk sosial. Menilik fitrah ini, manusia memiliki potensi untuk bersosialisasi dan berinteraksi secara positif dan konstruktif dengan sesama dan lingkungannya.

Sebagai khalifah, manusia mengemban amanah dan tanggung jawab untuk berinisiatif dan berpartisipasi secara aktif dalam menciptakan tatanan kehidupan dalam masyarakat yang baik, serta berupaya untuk mencegah terhadap pelecehan nilai-nilai kemanusiaan dan perusakan lingkungan.

Manusia sebagai khalifah dalam konteks Islam berarti manusia memiliki kelebihan yang banyak. Di antara kelebihan tersebut adalah kemampuan sebagai pengelola alam sekaligus memakmurkannya.

Secara tersurat dijelaskan bahwa manusia merupakan khalifah di bumi dalam Q.S. Fatir ayat 39:

هُوَ ٱلَّذِى جَعَلَكُمْ خَلَٰٓئِفَ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ فَمَن كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُۥ ۖ وَلَا يَزِيدُ ٱلْكَٰفِرِينَ كُفْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ إِلَّا مَقْتًا ۖ وَلَا يَزِيدُ ٱلْكَٰفِرِينَ كُفْرُهُمْ إِلَّا خَسَارًا

Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka.

Manusia diciptakan oleh Allah sebagai khalifah di bumi bukan dengan tujuan yang main-main, melainkan untuk mengemban amanah serta beribadah kepada-Nya. Di muka bumi, sepantasnya manusia selalu menegakkan kebajikan sekaligus mencegah keburukan dengan segenap tanggung jawab.

3. Manusia adalah Makhluk yang Memiliki Fitrah Beragama

Hakikat manusia dalam konteks ini, manusia mempunyai kemampuan untuk menerima nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari agama sekaligus menjadikannya sebagai tolok ukur dalam setiap tindakan atau perilakunya.

Allah berfirman dalam Q.S. al-A’raf ayat 172:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan),”

Fitrah manusia adalah suci dan beriman. Kecenderungan kepada agama merupakan sifat dasar dari manusia. Secara sadar atau tidak sadar manusia selalu merindukan Tuhan, taat, khusyuk, dan tidak ingkar. Pengalaman tersebut terjadi pada manusia terutama dalam kondisi manusia terhimpit atau mengalami malapetaka.

4. Manusia Berpotensi Baik dan Buruk

Manusia mempunyai dua kecenderungan dalam berperilaku dan bersikap. Pertama, kecenderungan ke arah positif, misalnya beriman dan beramal saleh. Kedua, kecenderungan ke arah negatif, misalnya musyrik, kufur dan zalim. Dengan demikian, manusia dalam hidupnya senantiasa dihadapkan pada situasi konflik antara benar dan salah atau baik dan buruk.

Dalam Q.S. asy-Syams ayat 8-10, Allah berfirman:

فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ -٨  قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ – ٩ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ – ١٠

Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

5. Manusia Memiliki Kebebasan Memilih

Manusia diberi kebebasan untuk memilih dalam hidupnya, apakah mau iman atau kufur kepada Allah. Manusia memiliki kemampuan untuk berupaya dalam menyelaraskan arah kehidupannya dengan tuntutan normatif dan nilai-nilai kebenaran yang dapat memberikan manfaat bagi dirinya serta kesejahteraan umat.

Di samping itu, ia juga memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupan yang berseberangan dengan tuntutan normatif dan nilai-nilai kebenaran, sehingga menimbulkan suasana kehidupan baik personal maupun sosial yang destruktif atau tidak nyaman.

Ditegaskan dalam Q.S. ar-Ra’du ayat 11, bahwasanya manusia diberikan kebebasan memilih kaitannya dalam memilih kebenaran atau keburukan:

لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٌ مِّنۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِۦ يَحْفَظُونَهُۥ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوْمٍ سُوٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Setelah mengetahui hakikat diri kita sebagai manusia, keimanan kita terhadap Allah akan meningkat. Pada dasarnya, manusia memang hamba yang lemah yang selalu bergantung kepada Allah. Kita tidak boleh merasa angkuh atas kesuksesan, serta tidak boleh merasa malas untuk berdoa atas kesulitan.

Sumber : Dalamislam.com
Hakikat Manusia dalam Islam
Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi.

Report

What do you think?

Written by dalamislam