8 Keistimewaan Masjid Agung Demak yang Perlu diketahui

 

Masjid Agung Demak merupakan salah satu situs bersejarah yang penting dalam sejarah penyebaran islam di tanah jawa. Masjid yang didirikan oleh Raden Fatah pada sekira 1401 atau abad ke-15. Abad ke-15 ini menjadi pusat berkumpulnya para wali songo ketika mengawali penyebaran islam di tanah jawa. Masjid yang berlokasi di desa kauman kabupaten demak jawa tengah ini meski berusia ratusan tahun tetap mempertahankan bangunan aslinnya.

Atapnya bersusun tiga berbentuk segitiga sama kaki mirip dengan pura umat hindu sekaligus wujud Akulturasi budaya setempat. Hingga mini masjid ini termasuk masjid tertua di Indonesia yang ramai di kunjungi para wisatawan atau para perziarah. Masjid Agung Demak berdiri ketika islam mulai berkembang di jawa. Seiring keruntuhan Majapahit yang pernah menjadi kerajaan hindu-budha terbesar di jawa bahkan nusantara .

Muhammad zaki dalam peristiwa riset bertajuk Muhammad Zaki dalam risetnya bertajuk “Kearifan Lokal Jawa pada Wujud Bentuk dan Ruang Arsitektur Tradisional Jawa” (2017) menyebutkan, pendirian Masjid Agung Demak terbagi dalam tiga tahap pembangunan. Tahap pertama adalah tahun 1466 M. Kala itu masjid masih berupa bangunan Pondok Glagah Wangi asuhan Sunan Ampel dan Raden Patah.

Tahap pertama adalah tahun 1466 M. Kala itu masjid masih berupa bangunan pondok glagah wingi asuhan suna ampel dan raden patah. Tahap kedua tahun 1477 M. Masjid di bangun kembali menjadi masjid di kabupaten glagah wangi demak. Tahap kedua tiga di lakukan pada 1478 M, bertepatan dengan diangkatnya raden patah menjadi sultan sehingga Masjid direnovasi. Berikut ini ada beberapa keistimewaan yang sangat menarik tentang masjid Agung Demak

1. Pusat penyebaran Islam di pulau Jawa

Babad tanah jawa di ceritakan bahwa masjid ini di bangun oleh raden fatah. Raden fatah yang ketika itu berada di lingkungan agama hindu.

Oleh sebab itu wali songo kerap berkumpul di masjid ini untuk mendiskusikan bagaimana cara mendakwahkan islam di pulau jawa.

2. Atapnya bercorak Hindu

Atap yang bercoran hindu persinggungan islam dengan agama hindu yang lebih dahulu ada. Masjid ini di sesuaikan dengan model arsitektur khas agama hindu.

Atap Masjid yang terdiri dari tiga tingkat. Tiga tingkat yang melambangkan tiga aspek yakni iman,islam,dan ihsan.

Akulturasi budaya ini menunjukkan betapa bijaknya pendakwah islam kala itu yang mampu membaur dengan masyarakat hindu. Konon salah satu dari tingkatan atap itu terbuat dari intip (kerak nasi) yang di buat oleh sunan kalijaga.

3. Tiang penyangga

Tiang penyangga dari tatal sisa ketaman. Sekilas memang tiang yang menyangga masjid ini terlihat seperti tiang pada umumnya.

Tiang atau juga di sebut saka ini menurut cerita yang berkembang di buat oleh empat wali yakni sunan ampel, sunan gunung jati, sunan bonang, dan sunan kalijaga.

Uniknya tiang yang di buat oleh sunan kalijaga berbahan dasar tatalan kayu (serpihan kayu) yang tidak utuh. Serpihan tersebut di satukan membentuk kayu utuh dan bertahan kuat hingga saat ini.

4. Pintu petir

Pintu petir dalam istilah jawa. Pintu ini sering di sebut sebagai pintu bledek.

Di kisahkan pintu bledek ini merupakan karya ki ageng selo. Ki ageng selo yang merupakan wali penangkap petir sekitar tahun 1446 di penuhi ukiran-ukiran indah sarat makna.

Ukiran yang paling menyita perhatian adalah kedua kepala naga. Dalam budaya jawa pasti menjadi simbol condro sengkolo (penanda waktu) yang berbunyi nogo mulat saliro wani.

5. Tempat wudhu

Tempat wudhu adalah bagian terpenting dalam sebuah bangunan masjid. Tempat wudhu di gunakan untuk mensucikan diri saat hendak melaksanakan ibadah shalat.

Di masjid Agung Demak terdapat tempat wudhu bersejarah. Tempat wudhu tersebut berbentuk sebuah kolam sedalam lima meter dengan tiga batu hitam yang berbeda ukuran.

Dahulu kolam tersebut merupakan tempat para wali songo wudhu. Namun saat ini tidak lagi di fungsikan dan di museumkan oleh pengelola masjid tersebut.

6. Gambar Bulus

Raden patah bersama wali songo mendirikan masjid demak dengan memberi gambar serupa bulus. Bulus ini merupakan candra sengkala memet.

Yang dengan arti sarira sunyi kiblating gusti yang bermakna 1401 saka. Gambar bulus terdiri atas kepala yang berarti angka 1, 4 kaki berarti angkat 4, badan bulus berarti 0. Ekor bulus berarti angka 1.

7. Makam raja kesultanan Demak

Ada makam raja kesultanan demak di dalam komplek masjid agung demak tersebut. Terdapat beberapa makam raja-raja kesultanan demak termasuk di antaranya adalah sultan fattah.

Sultan fatah merupakan raja pertama kesultanan demak dan para abdinya. Di kompleks ini juga terdapat museum masjid agung demak yang berisikan berbagai hal mengenai riwayat masjid agung demak.

8. Mihrab

Yang unik dan memiliki nilai sejarah tinggi adalah bangunan mihrab Masjid agung Demak. Bagian luar dinding mihrab ada hiasan berupa kaligrafi tulisan arab uang mengapit surya Majapahit.

Pada bagian Sandaran belakang mimbar khutbah (Dampar kencana) juga terdapat hiasan itu. Raden fattah sebenarnya adalah anak dari prabu kertabumi, yaitu putra mahkota brawijaya V kerajaan Majapahit.

Dikutip dari buku masjid agung demak oleh agus maryanto dan zaimul azzah (2012) . Masjid-masjid kuno sepertk masjid agung demak memiliki ciri-ciri bangunan sebagai berikut :

  • Memiliki pagar keliling
  • ruang utama berdiri pada fondasi berdenah bujur sangkar
  • Memiliki serambi dan kolam depan atau kanan kiri
  • Mempunyai pawestren atau tempat jamaah wanita
  • Beratap tumpanb dan puncak mustaka

Sumber : Dalamislam.com

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi.

Report

What do you think?

Written by dalamislam