Anda Produktif atau Toxic Productivity? Pahami Bedanya _*

Toxic productivity membuat Anda ‘tak punya waktu’ untuk diri dan keluarga.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Saat pandemi, Anda biasanya ingin melakukan sesuatu yang produktif. Bahkan Anda ingin melakukannya dalam satu hari secara sekaligus, seperti belajar bahasa asing, mengerjakan berbagai macam proyek, atau meeting tanpa henti.


Mungkin Anda mengira, apa yang Anda lakukan itu produktif. Padahal, ada batas yang jelas antara menjadi produktif dan toxic productivity.


Pada umumnya, toxic productivity adalah istilah lain dari overworking, workaholic, dan kata-kata yang menggambarkanmu sebagai pribadi yang terlalu banyak bekerja hingga mengesampingkan istirahat. Salah satu psikolog Riliv, Graheta Rara Purwasono, M.Psi, mengatakan toxic productivity itu memunculkan rasa bersalah kalau tidak mengerjakan sesuatu.


“Ujung-ujungnya, mengalami burnout yang membahayakan kesehatan, dan itu harus dihindari,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima Republika.co.id, Ahad (10/10).


Pada akhirnya, tidak ada quality time bersama teman dan keluarga, apalagi, waktu untuk me-time karena Anda terlalu sibuk untuk bekerja setiap saat. Namun, jangan khawatir. Selalu ada solusi untuk segala permasalahan, termasuk toxic productivity.


Salah sagu solusinya, membuat batasan yang jelas. Ketika pekerjaan adalah satu-satunya hal yang berputar dalam pikiran Anda, maka sulit untuk memikirkan hal lain yang sama pentingnya. Apa contohnya? Mendapatkan istirahat yang berkualitas, atau menghabiskan waktu bersama keluarga terkasih.


Anda bisa menentukan batasan yang mengubah pola pikir dari yang hanya memikirkan pekerjaan ke hal-hal lain yang berarti dalam hidup, seperti tidak boleh bekerja selama tiga jam tanpa diselingi istirahat, harus quality time dengan keluarga pekan ini, harus tidur cukup selama delapan jam setiap hari, dan terapkan professional detachment.


Ini khusus buat Anda yang meeting lima kali dalam sehari, atau lebih. Ingat, ada yang lebih penting daripada pekerjaan, itu adalah kesehatan fisik dan mentalmu sendiri.


Pahami bahwa menjadi pekerja bukanlah identitasmu satu-satunya. Anda bukan hanya seorang pekerja, tetapi juga orang tua, pacar, teman, dan lain sebagainya.


Saat Anda menerapkan professional detachment, Anda memperlakukan pekerjaan sebagai sesuatu yang akan Anda tangani setelah menjalankan tanggung jawab lain di luar itu.


Selain itu, praktikkan mindfulness. Sudah bukan menjadi rahasia lagi kalau mindfulness dapat membantumu berhubungan dengan dunia dengan cara yang lebih sehat.


Melalui mindfulness, Anda akan lebih mudah menyadari apa yang dibutuhkan tubuh dan pikiranmu dan hal itu bukan toxic productivity. Mulai sekarang, yuk, tinggalkan toxic productivity. Produktivitas yang baik adalah produktivitas yang memberimu waktu untuk beristirahat, dan pada saat yang bersamaan, mendorongmu untuk mencapai tujuan dengan cara yang sehat.


Sumber : republika.co.id
Featured Image : unsplash.com
Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahli Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihiadada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?