Bergantung pada Allah, Setinggi dan Serendahnya Iman | Astaghfirullah


Setiap hamba harus tetap menggantungkan pengharapannya kepada Allah SWT.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Manusia biasa memang tidak luput dari dosa, dan juga tidak dipungkiri juga dapat memiliki keteguhan iman yang kuat. Namun demikian, dalam dua kondisi tersebut sudah seyogyanya setiap hamba harus tetap menggantungkan pengharapannya kepada Allah SWT.

Ibnu Athaillah dalam kitabnya Al-Hikam menjelaskan: “Laa nihaayata limadammika in arja’aka ilaika, wa laa tafrughu madaihuka in azhara judahu alaika kun bi-aushaafi rububuyatihi muta’alliqan, wa bi-awshaafi ubudiyyatika mutahaqqiqan,”.

Yang artinya: “Engkau akan terus-menerus menjadi orang tercela jika Allah membiarkan keburukanmu, dan engkau akan menjadi orang yang selalu terpuji saat Allah menampakkan kemurahan-Nya atasmu. Teruslah bergantung pada sifat-sifat rububiyah Allah dan laksanakanlah sifat-sifat ubudiyah-mu kepada-Nya,”.

Manusia, kata Ibnu Athaillah, selalu memiliki dorongan untuk berlaku keburukan. Jika ia menggantungkan pengharapan kepada Allah, maka segala usahanya untuk menjauhi keburukan itu akan terlaksana.

Ketahuilah, tidak ada jalan selamat dari hawa nafsu dan gejolaknya, kecuali dengan bergantung dan berlindung kepada Allah SWT. Untuk itu, Ibnu Athaillah menganjurkan agar setiap umat Islam dapat bergantung pada sifat-sifat rububiyah Allah SWT.





Sumber : republika.co.id

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahli Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published.