Biografi Abu Darda, Perawi Hadist dari Anshat

Abu darda adalah seorang sahabat perawi hadist dari anshat, dari kabilah khajraj. Abu Darda ia hafal al-Quran dari rasulullah shallallahu alaihi wassalam.

Dalam perang uhud rasulullah bersabda mengenai dirinya “prajurit berkuda paling baik adalah uwaimir”. Beliau ini di persaudarakan oleh rasulullah dengan salman al farisi.

Abu Darda mengikuti semua peperangan yang terjadi setelah perang uhud. Abu Darda bernama lengkap uwaimir bin zaid bin qais. Abu Darda lahir pada 580 masehi, beliau lahir di madinah arab saudi. Abu darda adalah orang bijaknya umat Muslim.

Dalam masa pemerintahan khalifah utsman, Abu Darda di angkat menjadi Hakim di daerah syam. Ia adalah mufti (pemberi fatwa) penduduk syam dan ahli fiqh penduduk palestina.

Ia meriwayatkan hadist dari sayyidah Aisyah dan zaid bin tsabit. Sedangkan yang meriwayatkan dirinya ialah anaknya sendiri Bilal dan istrinya ummu Darda.

Hadist yang ia riwayatkan mencapai 179 hadist. Tentang dia masruq berkata ” aku mendapatkan ilmu rasulullah shallallahu alaihi wassalam pada 6 orang di antaranya dari abu darda.

Abu darda bangun dari tidurnya pagi-pagi sekali. Setelah itu dia menuju berhala sembahannya di sebuah kamar yang paling istimewa di dalam rumahnya.

Dia membungkuk memberi hormat kepada patung tersebut. Kemudian di minyakinya dengan wangi-wangian termahal yang terdapat dalam tokohnya yang besar.

Sesudah itu patung tersebut di berinya pakaian baru dari sutera yang megah. Yang diperoleh kemarin dari seorang pedagang yang datang dari yaman dan sengaja mengunjunginya.

Setelah islam telah menyebar di madinah, banyak penduduk madinah yang memeluk agama islam . Namun abu darda tidak tertarik untuk menjadi pengikut rasulullah saw.

Abu Darda menyembah berhala dengan penuh ketaatan dan keyakinan. Abu darda bersahabat dengan abdullah bin rawahah sejak zaman jahiliyah.

Abdullah bin rawahah telah memeluk agama islam pada awal ajaran rasulullah saw, ini menyebar di madinah. Sementara perang badar terjadi Abu darda belum juga memeluk agama islam.

Suatu pagi abu darda pergi ketokohnya yang sangat besar. Di tengah perjalan abu darda berpapasan dengan banyak orang. Orang-orang itu adalah tentara muslim yang baru saja kembali dari medan perang badar.

Saat abu darda berada ditokohnya abdullah bin rawahan berkunjung ke rumah Abu darda. Disana abdullah menemui istri abu Darda.

Ia berpura-pura bertanya tentang keberadaan abu darda. Ummu tidak curiga sedikitpun dan ia berkata ” Abu darda sedang berdagang, tak lama lagi ia akan pulang “.

Abdullah meminta izin masuk ke rumah Abu darda. Ummu darda sama sekali tidak curiga mempersilahkan abdullah untuk masum kerumahnya.

Kemudian ummu darda sibuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anaknya. Hal ini dimanfaatkan abdullah untuk masuk keruang berhala.

Ia telah mengeluarkan kapak yang telah dipersiapkannya sambil mengutuk berhala itu ia melayangkan kapaknya ke arah berhala abu darda. Berhala pun hancur berkeping-keping.

Ummu darda mendengar suara mencurigakan dari ruangan berhala tersebut ia segera mendekatinya. Alangkah terkejutnya ummu darda melihat berhala telah hancur berkeping-keping.

Sementara itu abdullah pun segera pergi meninggalkan rumah Abu darda. Ketika Abu darda pulang ke rumahnya, ia melihat istrinya menangis di depan pintu ruangan berhala.

Abu darda pun terkejut melihat berhalnya hancur berkeping-keping. Ia menjadi marah dan berkata “siapakah yang berani melakukan hal itu? “.

Ummu pun menjawab abdullah sahabatmu yang menghancurkan berhala ini. Abu darda hendak menemui abdullah untuk memberi perhitungan atas apa yang ia lakukan itu salah.

Tapi saat itu ia terdiam dan ia berfikir kalau memang berhala ini tuhan mengapa ia tak membela diri. Perlahan lahan kemarahannya meredah.

Ia menjadi mengerti bahwa berhala itu pastilah bukan tuhan. Melindungi dirinya sendiri Sana ia tidak bisa apalagi melindungi diriku dan keluargaku pikir Abu darda.

Abu darda segera menemui abdullah bin rawahah. Kemudian ia dan abdullah pergi menemui rasulullah. Dihadapan rasulullah abu Darda menyatakan keislamannya.

Abu darda menjalankan ajaran agama islam dengan penuh keikhlasan. Abu Darda adalah saudagar madinah yang terkenal sangat jujur.

Masuk islam nilai kejujurannya banyak orang yang lebih suka berdagang dengan ketimbang dengan pedangan lain. Sebagai pedagang ia tak pernah menipu.

Suatu hari abu Darda di datangi oleh ummar bin khattab ra. Ketika menjadi hakim di damaskus keadaan rumanya gelap gulita.

Tidak ada lampu yang menerangi ruang tamunya. Umar pun mengetuk pintu.

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh” ucap ummar. Dan abu darda menjawab “walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh dan menjawab untuk mempersilahkan masuk ke rumahnya.

Umar pun mulai masuk pelan pelan dan merabah rabah sekelilingnya karean keadaan sangatlah gelap gulita. Ia tak melihat tuan rumahnya.

Keduanya kemudian duduk. Mulai membicarakan penting antara kedua sahabat rasulullah itu.

Mulai merabah bantal tempat duduk abu darda. Dirabanya kasur tempat tidurnya.

Ternyata tempat tidurnya hanya sebuah kasry yang berisi pasir . Kemudian selimutnya yang tipis yang cukup untuk menghangatkan badan di musim dingin.

Semoga allah melimpahkan rahmatnya wahai Abu darda. Maukah anda saya bantu maukah anda saya kirimkan sesuatu untuk melapangkan hidup anda?.

Abu darda terdiam dan menjawab ingatkan wahai amirul mukminin sebuah hadis yang disampaikan rasulullah saw. Ummar terkesiap dan menjawab hadis apakah gerangan?.

“hendaklah harta seseorang di dunia itu seperti perbekalan seorang musafir (secukupnya seadanya) Ucapan abu darda. Khalifah ummar mengiyakan apa yang di katakan oleh temannya tersebut.

Sejenak kemudian abu Darda berkata lagi “nah apa yang kita telah perbuat sepeninggalan beliau, wahai umar?. Akhirnya amiril mukmininpun menangis

Abu darda juga meneteskan air mata. Keduanya menangis hingga subuh. Abu Darda wafat pada 32 Hijriah. Inilah kisah para sahabat yang patut kita ambil hikmanya.

Sumber : Dalamislam.com
Biografi Abu Darda, Perawi Hadist dari Anshat
Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi.

Report

What do you think?

Written by dalamislam