Biografi Imam Al-Ghazali, Filsuf Muslim yang Berpengaruh dalam Peradaban Islam

[ad_1]

Imam Al-Ghazali adalah seorang filsuf Muslim Persia yang dikenal di dunia Barat abad pertengahan. Beliau juga dikenal dengan banyak karyanya yang memengaruhi sejarah peradaban Muslim dan pengaruhnya berdampak pada masa kini, siapakah Imam Al-Ghazali? Simak pembahasan di bawah lebih lanjut mengenai Imam Al-Ghazali.

Riwayat Hidup Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali memiliki nama lengkap Abu Hamid bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali. Al-Ghazali lahir di kota kecil yang terletak di dekat Thus, provinsi Khurasan, Republik Islam Irak pada thun 450 H (1058 M).

Nama Ghazali berasal dari ghazzal yang berarti tukang menenun benang, karena pekerjaan ayahnya adalah penenun benang wol. Sedangkan Ghazali juga di ambil dari kata Ghazalah yaitu kampung kelahiran Al-Ghazali dan nama inilah yang sering dikenal dengan Imam Al-Ghazalali.

Imam Al-Ghazali adalah tokoh sufi yang terkenal pada abad ke-5. Ayah juga menekuni sufi dan menjadi tasawuf yang hebat di wilayahnya.

Awalnya Al-Ghazali mengenal tasawuf ketika sebelum ayahnya meninggal, karena dulu orang tuanya gemar mempelajari tasawuf. Ayahnya menitipkan Al-Ghazali kepada saudaranya yang bernama Ahmad, seorang sufi dengan tujuan utnuk mendidik dan membimbing Al-Ghazali dengan baik.

Riwayat Pendidikan Al-Ghazali

Karena Al-Ghazali sejak kecil memang senang mempelajari ilmu pengetahuan dan sudah belajar dengan beberapa guru di kota kelahirannya. Gurunya di antara lain bernama Ahmad Ibnu Muhammad Al Radzikani.

Pada tahun 465-470 H ketika Al-Ghazali berusia 15 tahun memutuskan pergi ke Mazardaran, Jurjan untuk melanjutkan studinya dalam bidang fiqh di bawah bimbingan Abu Nasr al-Ismaily selama 2 tahun.

Setelah menamatkan studinya di Jurjan, pada usia ke 20 tahun Al-Ghazali melanjutkan pendidikannya ke madrasah Nizamiyah Nizabur dan berguru kepada Yusuf Al-Nassaj seorang pemuka agama yang terkenal dengan sebutan Immanuel Haramain ata Al-Juwayni Al-Haramain (seorang ulama Syafi’iyyah beraliran Asy’ariyyah) hingga pada usia 28 tahun.

Al-Ghazali diberi gelar Bahrum Mughriq (laut yang menenggelamkan). Al-Ghazali meninggalkan Naisabur setelah Imam Al Juwaini meninggal dunia pada tahun 478 H (1085 M), kemudian Ia mengunjungi Nizhdm al-Mar di kota Muaskar dan mendapatkan penghormatan yang besar sehingga diperbolehkan tinggal disana selama 6 tahun.

Pada tahun 1090 M Al Ghazali diangkat menjadi guru di Universitas Nizhfimiyah, Baghdad. Selain mengajar, Al Ghazali juga belajar filsafat secara otodidak, baik filsafat Yunani maupun filafat Islam, terutama pemikiran al-Farabi, Ibnu Sina dan Ikhwan al-Shafa.

Penguasaan terhadap filsafat terbukti pada karyanya.

Karya-karya Besar Al Ghazali

Karya-Karya Imam Al-Ghazali masih belum disepakati berapa banyak jumlahnya, dalam Thasi Kubra Zadeh di dalam Miftah as-Sa’adah wa Misbah as-Syiyadah disebutkan karyanya mecapai 60 buah. Ada yang menyebut Al-Ghazali telah memiliki 999 buah tulisan.

Karya-karya tulisannya meliputi berbagai ilmu pengetahuan. Dan berikut adalah beberapa warisan dari karya ilmiah yang paling besar pengaruhnya terhadap pemikiran umat Islam :

  • Maqfishid Al Falisifah (tujuan-tujuan pada filosofi) adalah karangan pertama berisi masalah-masalah filsafat.
  • Tahfifut Al Faldsifah (kekacauan pikiran para filosof) yang dikarang ketika jiwanya dilanda keraguan-keraguan di Baghdad dan Al-Ghazali mengecam filsafat para filosof dengan keras.
  • Mi’yfir Al Ilm (kriteria ilmu-ilmu).
  • Ibya Ulum Ad Din (menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama), merupakan karya terbesar selama beberapa tahun dalam keadaan berpindah-pindah antara Damaskus, Yerussalem, Hijfiz dan Thus yang berisi panduan antara fiqih, tasawuf, dan filasaf.
  • Al Munqidz Min Ad Dialfil (penyelamat dari kesatuan), merupakan sejarah perkebangan alam pikiran Al Ghazali dan merefleksikan sikapnya terhadap beberapa maam ilmu serta jalan mencapai Tuhan.
  • Al Malirif Al Aqliyyah (pengetahuan yang rasional).
  • Misykat Al Anwar (lampu yang bersinar banyak), pembahasan akhlaq tashawuf.
  • Minhaj At Abidin (mengabdikan diri pada Tuhan), merupakan bacaan mengeni beriman kepada Allah SWT semua ibadahnya dan amalannya hanya untuk Tuhan, karena itu cara untuk mendekatkan dirinya dengan sang khalik.
  • Al Iqtishad fi Al I’tiqad (moderasi dalam akidah) mengikuti ajaran dalam agama dan kepercayaan mereka.
  • Ayyuha Al Walad (wahai anak) mengajarkan tentang akhlak seorang anak dalam akidah Islam.
  • Al Mustasyfa (yang terpilih) orang yang terpilih dalam organisasi dalam Islam.
  • Iljam Al Awwam’an al Kalam (perkataan Tuhan kepada manusia).
  • Mizan Al Amal (timbangan amal) tentang akhlak amal seseorang.

Karyanya tersebut menjadi objek penelitian bagi pelajar dan ahli-ahli mulai dari kalangan umat Islam maupun dari kalangan non-muslim.

Kehidupan Masa Tua Al-Ghazali Hingga Akhir Hayat

Kehidupan Al-Ghazali pada masa tuanya telah mantap menjadi seorang sufi. Keyakinan Al-Ghazali bahwa tasawuf adalah jalan terbaik yang akan mengantarkan pada kebenaran hakiki.

Setelah berhenti mengajar, Al-Ghazali kembali ke kota kelahirannya di Thus dan mendirikan sebuah halaoh (sekolah khusu untuk calon sufi) yang akan Al-Ghazali asuh sendiri sampai Ia wafat.

Al-Ghazali wafat pada tanggal 14 Jumadil Akhir tahun 505 H (1111 M) dalam usianya yang ke 55 tahun dengan meninggalkan beberapa anak perempuan.

Al-Ghazali wafat dalam keadaan ketika sedang mempelajari ilmu tentang tradisi. Tapi, sumber lain mengatakan, Al-Ghazali sedang mempelajari Shahih Bukhari dan Sunan Abu Daud. Dan meninggal dunia dalam keadaan memeluk kitab Sahih Bukhari.

[ad_2]

Sumber : Dalamislam.com

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi.

Report

What do you think?

dalamislam

Written by dalamislam