Bukan Cuma You Are What You Eat, Tapi juga Karena Lokasi _*

Jakarta, CNN Indonesia —

You are what you eat. Ungkapan ini tidaklah salah, namun sebuah studi sosio-antropologis juga membuktikan bahwa kebiasaan makan orang dipengaruhi oleh tren global tetapi juga oleh representasi, ruang, dan akar lokal mereka.

Survei yang melibatkan pemantauan skala kecil difokuskan pada apa yang orang makan, bagaimana mereka mengatur diri mereka sendiri untuk melakukannya, dan apa yang mereka katakan dan pikirkan tentangnya. Makan jauh lebih dari sekadar aktivitas asupan makanan, bahkan untuk yang paling rentan – itu juga tentang kesenangan, berinteraksi dengan orang lain, menjalin hubungan dengan lingkungan, sambil membangun dan membentuk identitas individu dan kolektif.

Di Meksiko misalnya, penduduknya saat ini menghadapi dualisme makanan. Negara ini memiliki salah satu tingkat obesitas tertinggi di dunia, namun telah mempromosikan makanan jalanan negara itu sejak diakui oleh UNESCO sebagai bagian dari warisan budaya takbenda kemanusiaan.

Beberapa kota di Afrika, Amerika Latin, dan Asia saat ini sedang dalam pergolakan untuk mengembangkan jaringan restoran cepat saji. Sementara supermarket pertama di Hanoi baru dibuka pada tahun 1998, sekarang ada lusinan, termasuk mal dengan hampir 150 toko. Ini membuka pintunya pada tahun 2015 dan milik rantai ritel Aeon Korea Selatan.

Mengutip Reuters, di Jakarta (Indonesia), kampung – secara harfiah berarti “desa” – adalah lingkungan miskin di mana ekonomi informal berkuasa. Mereka ditandai oleh pergerakan konstan dan percampuran populasi, seringkali pendatang baru dari daerah pedesaan. Banyak penduduk yang tidak memasak di rumah karena keterbatasan peralatan, ruang dan waktu.

Di lingkungan ini, warung makan bermunculan, semacam dapur umum swalayan di mana orang-orang membawa peralatan makan sendiri dan mendapatkan keuntungan dari syarat pembayaran yang fleksibel. Mereka membantu mempertahankan apa yang dipandang sebagai gaya makanan tradisional dan domestik, sambil memfasilitasi sosialisasi makanan masyarakat.

Di Indonesia katering populer adalah lahan subur untuk inovasi kuliner, di mana pertukaran antara standar peraturan yang berbeda muncul dan digabungkan. Hidangan baru, sering kali berasal dari rumah tangga kelas pekerja, secara teratur dianut oleh kelas menengah sementara terkadang menjadi ciri identitas untuk seluruh kota atau bahkan negara. Attiéké-garba mencontohkan tren ini di Abidjan, Pantai Gading.

Semua sistem ini hidup berdampingan dan tumpang tindih, sambil menawarkan sumber daya untuk memenuhi berbagai tantangan pangan di kota-kota yang berkembang pesat. Sumber daya ini menyediakan alat untuk mengatasi kesulitan dan ketidakpastian melalui “imajinatif dan sirkulasi”.

Daripada mengandalkan solusi teknologi eksternal, harta karun ini dapat dimanfaatkan untuk mendorong praktik dan standar yang kondusif bagi keadilan sosial dan ekonomi, koeksistensi damai perbedaan budaya, kesehatan, dan lingkungan.

(chs)

[Gambas:Video CNN]



Sumber : cnnindonesia.com
Featured Image : unsplash.com
Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahli Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihiadada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?