Cara Menghilangkan Kebimbangan dan Putus Asa Menurut Islam _*

Bismillah, dengan Nama Allah yang Maha Penentu Qodho dan Qodar ada di Rukun Iman Ke 6. Kondisi pandemi Covid-19 yang menjadikan sebagian besar manusia resah, khususnya Indonesia. Jika dilihat grafik ekonomi, pendidikan dan sektor lainnya berubah drastis. Belum lagi bencana alam yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia dari longsor, gempa bumi maupun banjir.

Sebagai manusia sudah pantas untuk bermuhasabah, dan memohon ampunan dari Allah atas segala dosa sengaja maupun yang tidak disengaja.
Namun, jika kita beriman semua ini bukanlah alasan menjadikan kita manusia yang berputus asa.

Allah tidak akan menurunkan cobaan kepada hambanya yang tidak mampu. Bersyukurlah kita kepada Allah yang tidak memalingkan wajahnya. Allah masih memberikan kesempatan kita untuk mengevaluasi diri.

Tidak pantas rasanya jika kita berlarut dalam keterpurukan, maka beberapa cara yang dapat menghilangkan kebimbangan dan putus asa, diantaranya:

1. Berdzikir

Berzikir kepada Allah, dari kita membuka mata di waktu pagi hingga waktu kita memejamkan lagi. Jika zikir sudah terbiasa membasahi lidah, Insyaa Allah akan memudahkan kita melafadzkan “Laa ilaaha illalah” di akhir hayat kita kelak.

2. Silaturahim

“Orang yang menyambung silaturrahmi bukanlah yang memenuhi (kebutuhan), melainkan orang yang menyambung hubungannya kembali ketika tali silaturrahmi itu sempat terputus.” (HR. Bukhari).

Dalam sebuah riwayat, disebutkan kisah mengenai silaturahim seorang sahabat bernama Asma binti Abu Bakar dengan Qutailah binti Abdul Uzza. Saat itu umat Muslim dan kafir Quraisy dalam suasana gencatan senjata melalui perjanjian Hudaibiyah. Karena kerinduan yang mendalam, maka Qutailah mengunjungi Asma di Madinah. Ia membawakan beberapa makanan untuk putri tercintanya itu.

Setibanya Qutailah di Madinah, Asma justru ragu untuk menemui dan menerima hadiah dari ibu kandungnya itu. Asma akhirnya bertanya kepada Rasulullah SAW.

“Wahai Rasulullah, ibuku datang kepadaku dan dia sangat ingin aku berbuat baik padanya, apakah aku harus tetap menjalin hubungan dengan ibuku?”

“Ya, sambunglah silaturahim dengannya,” tutur Rasulullah SAW. (Disarikan dari HR. Bukhari)

Demikianlah, hubungan Asma binti Abu Bakar dan Qutailah sempat terputus lantaran perempuan berjulukan Dzatu nithaqain ini masuk Islam, sedangkan ibundanya tetap memeluk agama nenek moyang. Selain itu, keduanya juga terpisah jarak yang cukup jauh setelah Asma dan ayahnya hijrah ke Madinah.

Akan tetapi Rasulullah SAW memerintahkan putri Abu Bakar ini untuk tetap bersilaturahmi meskipun ibu kandungnya bukanlah seorang Muslimah.

Betapa besarnya makna dari silaturahim, sehingga bukan hanya badan yang sehat namun jiwapun semangat.

3. Dengar nasihat dan jalin hubungan dengan Habib, Kiyai, Ustad dan Guru

Nasihat Orang yang harus didengarkan selain orangtua dan mertua adalah guru. Sebab Habib, Kiyai, Ustad dan guru adalah orang yang mengajari kita berbagai ilmu sampai menjadi seperti sekarang ini.

Tidak hanya ilmu pendidikan saja yang mereka ajarkan tetapi juga membentuk kita menjadi manusia yang beriman, mengerti tentang hal yang baik dan buruk, berbudi pekerti luhur, dan menjadi orang yang bertanggung jawab, baik kepada diri sendiri, masyarakat di sekitar kita, bangsa, maupun negara. Maka hendaklah menghormatinya dengan mengucapkan salam ketika berjumpa dengannya di mana dan bagaimana pun keadaannya.

“Sami’na Wa Atha’na”. Mentaati guru adalah sebuah keharusan jika ingin mendapatkan keberkahan ilmu. Sebagai anak didik yang salih dan baik maka jalanilah apa yang guru perintahkan selama tidak dalam kemaksiatan.

Wallahu’alam Bisshowab.

Sumber : dalamislam.com

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin