Desy Ratnasari: Ditegur Allah di Masjidil Haram | Republika Online | Astaghfirullah

‘JANGAN pernah memiliki rasa sombong sedikitpun di dalam hati!’ Petuah ini sangat dicamkan artis cantik Desy Ratnasari. Hanya gara-gara memiliki sedikit rasa sombong dirinya sudah hafal bacaan doa umrah sehingga tidak lagi membutuhkan tenaga pembimbing, Desy akhirnya sama sekali tidak mampu membaca surat Alfatihah ketika mau melaksanakan shalat Tahiyyatul Masjid di Masjidil Haram ketika umrah tahun 1998.


Bintang sinetron, bintang iklan sekaligus penyanyi ini pun lalu mengungkapkan cerita kurang mengenakkan tersebut kepada Republika yang menemuinya di salah satu sudut Hotel Hilton (sekarang Hotel Sultan) Jakarta. Desy yang mengenakan baju lengan panjang dan celana jeans serta dibalut kerudung putih itu memaparkan, pada waktu umrah pertama tahun 1996, ia didampingi seorang pembimbing.

Pada umrah kedua tahun 1998, Desy merasa sudah hafal bacaan doa, karena itu tidak perlu lagi pembimbing. “Pas masuk Masjidil Haram, Al-fatihah aja saya nggak hapal. Sampai tiga kali aku ulangi shalatku tapi masih terus lupa,” paparnya polos.

Desy yang waktu itu berangkat umrah dengan sang nenek Hj Murdiah serta merta menanyakan masalah tersebut. “Ma, kok aku mau shalat lupa terus Alfatihah.” Mendengar pertanyaan itu, sang nenek malah balik tanya, “Kamu tadi mengapa? Pikiran kamu ke mana?” Mendapat pertanyaan begitu, Desy langsung istighfar dan duduk merenung, mengingat-ingat apa yang telah dikerjakannya. “Akhirnya aku baru inget. Oh, ya tadi mungkin gue bilang ‘ah udeh hapal nggak perlu guide,” papar Desy.

Sejak peristiwa tersebut, pelantun ‘Tenda Biru’ ini pun mengaku hati-hati dalam bersikap walaupun itu ngan sakeretegna hate (cuma tersirat di dalam hati, red) ternyata memang tidak boleh begitu. Menurut Desy yang 22 Februari mendatang bakal menunaikan rukun Islam kelima bersama dua adiknya AA (Mahdi Juniansyah) dan Delit (Media Apriliansyah) serta satu adik sepupunya Dian, di tanah suci memang kita gampang diingatkan Allah. Itu, karena yang dikerjakan di sana hanya ibadah dan istirahat. Diakuinya, di tanah suci terasa sekali dekat dengan Tuhan. “Persis lagu Bimbo itu, Aku Dekat Engkau Dekat, Aku Jauh Engkau Jauh.

Mestinya, tutur anak sulung dari empat bersaudara ini, kesadaran untuk terus dekat kepada Allah semakin bertambah, sehingga diingetinnya sama Allah pasti lebih cepat pula. Desy sendiri merasa ke tanah suci sebagai upaya untuk senantiasa mengingatkan dirinya kalau ia sudah terlalu lupa di tanah air. “Kalau orang sudah ditraining insya Allah nggak lupa. Nah, aku sebenarnya ingin diingetin saja selain ingin introspeksi.”

Tak kalah dengan pengalaman yang dialaminya sewaktu umrah, bulan suci Ramadhan lalu, Desy juga memiliki pengalaman batin yang sangat sulit dilupakan yakni ketika dirinya harus mengerem rasa marah di saat puasa. “Yang paling menyentuh? Nanti kalau yang besar-besar itu tidak aku rasakan sebagai yang paling berat, nanti disangkanya meremehkan. Yang paling menyentuh cobaan adalah ngerem pas puasa di awal-awal. Aku mau marah,” tandas Desy.

Ia pun lalu memaparkan peristiwa yang sangat sulit dilupakan tersebut. Waktu itu ia sedang merenovasi rumah, karena itu banyak puing di depan rumah. Akibat sulit menyimpan, ada sebagian puing yang terpaksa disimpan tukang di pinggir jalan. Sang developer pun marah dan mengiriminya surat teguran. Tentu saja, Desy tidak menerima. “Aku marah dan tersinggung. Rumah, rumah gue, di depan, depan rumah gue, sementara developer juga ada bikin rumah, toh sama juga banyak puing dan bikin kotor,” maki Desy geram.

Niatnya sudah bulat, usai suting besok ia bakal langsung datang ke kantor Developer dan melabraknya. “Kayaknya dia yang paling berkuasa? Padahal kita juga bayar,” gerutu Desy. Ia mau, pas marah di kantor Developer tersebut bukan gaya biki, yakni marah gaya perempuan yang cerewet, tapi harus marah yang intelek, marah yang kharismatik.

Ceritanya, begitu tiba di kantor Developer, Desy punya dua keperluan sekaligus. Keperluan mengurus surat-surat rumah dan keperluan mau marah tadi! Biar waktu marahnya dapat tenang, sengaja keperluan mengurus surat rumahnya didahulukan. Usai menandatangani surat-surat rumah, Desy siap-siap mau marah, tiba-tiba muncul pikiran, “Gue marah, tadi gue bangun sahur, gue shalat, gue puasa. Batal, wallahu a’lam. Memang tidak batal makan, tapi kan pahala puasanya bisa jadi batal. Udeh gitu batalnya buat manusia lagi, Developer pula. Ah, nggak ah!”

Desy pun ambil seribu langkah meninggalkan kantor Developer dan menangis sepuas-puasnya di dalam mobil. “Di situ pengalaman ujian terberat yang aku rasain menjadi sabar,” urai host ‘selamat pagi’ ini mengisahkan. Desy balik ke tempat suting. Padahal, ia sudah bilang sebelumnya mungkin datang agak telat ke tempat suting karena mau marah ke kantor Developer. Orang-orang sinetron pun terkejut dibuatnya, “Kok nggak jadi?”

Menurut Desy, “Itulah ujian terberat yang pernah aku rasakan. Memang itu unreal, tapi kalau kejadian yang jelas seperti ngadepin wartawan atau ketika papa meninggal, ya sedih aja, nggak bisa lihat jasadnya karena sedang di Australia waktu itu.”

Sedang yang lain Desy mengaku kuat menghadapinya karena beruntung memiliki keluarga yang hebat. “Aku punya keluarga yang hebat yang selalu mengingatkan. Doa-doa, shalat, ngaji, zakat dan lain sebagainya. Menurut aku, ya yang paling berat, saat melewati masa-masa kesabaran ini,” papar Desy yang sangat berterima kasih kepada neneknya Hj Murdiah yang banyak memberinya bimbingan dan nasehat.(damanhuri zuhri/Dokumentasi REPUBLIKA/Januari 2001)   

Sumber : republika.co.id

Featured Image : freepik

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahli Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published.