Heboh Ivermectin Disebut Obat COVID-19 Palsu, Peneliti Membuktikannya

VIVA – Ivermectin merupakan obat yang umum digunakan untuk mengobati beberapa jenis infeksi parasit dan telah lama diberikan pada manusia dan hewan. Meski telah terbukti efektif mengobati beberapa penyakit, seperti kutu kepala dan kebutaan sungai atau Onchocerciasis. Dokter hewan juga sering menggunakan obat ini untuk mengobati beberapa infeksi cacing.

Ivermectin, bila diresepkan untuk manusia yang memiliki sistem kekebalan yang lemah atau kurang defensif, dapat membantu mencegah penyakit yang mengancam jiwa. Tapi, karena obat ini terutama ditujukan untuk hewan, penggunaannya bisa berbahaya dan hanya disetujui untuk penggunaan tertentu dan itu tidak termasuk COVID-19 atau infeksi pernapasan serupa.

Dilansir dari Times of India, Sabt,  9 Oktober 2021, hingga saat ini belum ada obat atau terapi pengobatan tunggal yang disetujui untuk mengobati COVID-19. Beberapa ahli dan kelompok penelitian pun telah menyelidiki efektivitas obat ini.

Gagasan pertama tentang Ivermectin, obat ini dapat membantu mengurangi keparahan COVID-19, bahkan mampu mencegah kematian pada pasien virus corona. Bahkan, tim peneliti Australia menetapkan, aplikasi obat ini mampu membunuh virus. Tidak lama kemudian, Ivermectin didorong untuk dilakukan uji klinis di seluruh dunia.

Ketika para ahli masih mempelajari efek obat tersebut, Ivermectin sudah beredar di pasaran, diresepkan oleh beberapa dokter, dipuji oleh para politisi, bahkan menjadi pengobatan substansial meski bukti ilmiah belum mendukung keefektivan obat.

Para ahli menemukan kontradiksi

Ivermectin obat COVID-19.

Ivermectin obat COVID-19.

Sumber : viva.co.id
Featured Image : unsplash.com
Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahli Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihiadada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?