in , ,

Hukum Belajar Pengurusan Jenazah dan Dalilnya _*

Dalam Islam, perkara pengurusan jenazah adalah ibadah yang hukumnya fardhu kifayah. Maka dari itu, tidak boleh sembarang meremehkan mengenai perkara pengurusan jenazah.

Dari Rasulullah Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam kepada โ€˜Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu ketika Abu Thalib meninggal:

ุงูุฐู’ู‡ูŽุจู’ ููŽูˆูŽุงุฑูู‡ู.

โ€œPergilah dan uruslah penguburannya.โ€

Diriwayatkan dari Hisyam bin โ€˜Amir Radhiyallahu anhu, dia berkata, โ€œSeusai perang Uhud, banyak korban yang berjatuhan dari kaum muslimin, dan sebagiannya lagi terluka, maka kami berkata,

โ€˜Wahai Rasulullah, untuk menggali lubang bagi setiap korban tentu sangat berat bagi kami, lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?โ€™ Beliau Shallallahu โ€˜alaihi wa sallam menjawab:

ุงูุญู’ููุฑููˆู’ุง, ูˆูŽุฃูŽูˆู’ุณูุนููˆู’ุง, ูˆูŽุฃูŽุนู’ู…ูู‚ููˆู’ุง, ูˆูŽุฃูŽุญู’ุณูู†ููˆู’ุง, ูˆูŽุงุฏู’ููู†ููˆุง ุงู’ู„ุฅูุซู’ู†ูŽูŠู’ู†ู ูˆูŽุงู„ุซูŽู‘ู„ุงูŽุซูŽุฉูŽ ูููŠ ุงู„ู’ู‚ูŽุจู’ุฑู, ูˆูŽู‚ูŽุฏูู‘ู…ููˆู’ุง ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูู‡ูู…ู’ ู‚ูุฑู’ุขู†ุงู‹ ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽุจููŠ ุซูŽุงู„ูุซู ุซูŽู„ุงูŽุซูŽุฉู, ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุฃูŽูƒู’ุซูŽุฑูู‡ูู…ู’ ู‚ูุฑู’ุขู†ู‹ุง, ููŽู‚ูุฏูู‘ู…ูŽ.

โ€œGalilah, lebarkanlah, perdalamlah, dan baguskanlah, kuburlah dua atau tiga orang dalam satu liang lahat, dan dahulukan mereka yang paling banyak menguasai al-Qur-an.โ€ Hisyam berkata, โ€œAyahku adalah salah satu dari tiga orang yang akan dikuburkan, dan dia paling banyak menguasai al-Qur-an, maka dia pun didahulukan.โ€

Pengurusan jenazah dalam Islam memiliki banyak hal yang harus diperhatikan sehingga perlu untuk dipelajari terlebih dahulu. Maka dari itu, hukum mempelajari pengurusan jenazah adalah sunnat.

Mereka akan mendapatkan pahala bagi yang mempelajarinya dan tidak pula mendapatkan dosa bagi yang tidak mempelajari asalkan dalam daerah tersebut ada yang telah mengetahui cara melakukan pengurusan jenazah.

Hukum yang menyarankan untuk mempelajari cara pengurusan jenazah juga terlihat dari beberapa dalil yang menunjukkan tahap-tahap dalam pengurusan jenazah.

Dimulai dari menutup mata dan mulut jenazah yang masih terbuka.

Dari Ummu Salamah Hindun bintu Abi Umayyahย radhiallahuโ€™anha, ia mengatakan:

ุฏุฎู„ ุฑุณูˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ูŽู‘ู…ูŽ ุนู„ู‰ ุฃุจูŠ ุณู„ู…ุฉูŽ ูˆู‚ุฏ ุดู‚ูŽู‘ ุจุตุฑูู‡ . ูุฃุบู…ุถูŽู‡ . ุซู… ู‚ุงู„ ุฅู†ูŽู‘ ุงู„ุฑูˆุญูŽ ุฅุฐุง ู‚ูุจูุถ ุชุจูุนู‡ ุงู„ุจุตุฑู

โ€œRasulullah shalallahu โ€˜alaihi wa salam ketika mendatangi Abu Salamah yang telah meninggal, ketika itu kedua matanya terbuka.

Maka Nabi shalallahu โ€˜alaihi wa salam pun memejamkan kedua mata Abu Salamah dan bersabda: โ€œSesungguhnya bila ruh telah dicabut, maka pandangan matanya mengikutinyaโ€ (HR. Muslim no. 920).

Syaikh Abdullah bin Jibrinย rahimahullahย mengatakan:

ูˆ ุดุฏ ู„ุญูŠูŠู‡] ูˆ ุฐู„ูƒ ู…ุฎุงูุฉ ุฃู† ูŠุจู‚ู‰ ูู…ู‡ ู…ูุชูˆุญุง ุญุงู„ุฉ ุบุณู„ู‡ ูˆ ุญุงู„ุฉ ุชุฌู‡ูŠุฒู‡ ููŠุดุฏ ุญุชู‰ ูŠู†ุทุจู‚ ูู…ู‡ ู…ุน ุฃุณู†ุงู†ู‡]

โ€œKetika mayit meninggal [ditutup mulutnya] yaitu karena dikhawatirkan mulutnya terbuka ketika dimandikan dan ketika dipersiapkan. Sehingga hendaknya ditutup sampai bersatu antara gigi dan mulutnyaโ€ (Ad Durar Al Mubtakirat Syarah Akhsharil Mukhtasharat, 1/424).

Seorang yang mempelajari tentang pengurusan jenazah akan diajarkan pula untuk memandikan, mengkafani, hingga menguburkan jenazah.

Dari Abdullah bin Abbasย radhiallahuโ€™anhu, beliau berkata:

ุจูŠู†ูŽุง ุฑุฌู„ูŒ ูˆุงู‚ููŒ ู…ุน ุงู„ู†ุจูŠูู‘ ุตู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ู ูˆุณู„ูŽู‘ู…ูŽ ุจุนูŽุฑูŽููŽุฉูŽ ุŒ ุฅุฐู’ ูˆูŽู‚ูŽุนูŽ ุนู† ุฑุงุญู„ุชูู‡ู ููŽูˆูŽู‚ูŽุตูŽุชู’ู‡ู ุŒ ุฃูˆ ู‚ุงู„ ูุฃูŽู‚ู’ุนูŽุตูŽุชู’ู‡ู ุŒ ูู‚ุงู„ูŽ ุงู„ู†ุจูŠูู‘ ุตู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ู ูˆุณู„ูŽู‘ู…ูŽ : ุงุบู’ุณูู„ูˆู‡ู ุจู…ุงุกู ูˆุณูุฏู’ุฑู ุŒ ูˆูƒูŽููู‘ู†ููˆู‡ู ููŠ ุซูŽูˆู’ุจูŽูŠู’ู†ู ุŒ ุฃูˆ ู‚ุงู„ูŽ : ุซูŽูˆู’ุจูŽูŠู’ู‡ู ุŒ ูˆู„ุง ุชูุญูŽู†ูู‘ุทููˆู‡ู ุŒ ูˆู„ุง ุชูุฎูŽู…ูู‘ุฑูˆุง ุฑุฃุณูŽู‡ู ุŒ ูุฅู†ูŽู‘ ุงู„ู„ู‡ูŽ ูŠุจู’ุนูŽุซูู‡ู ูŠูˆู…ูŽ ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉู ูŠูู„ูŽุจูู‘ูŠ

โ€œAda seorang lelaki yang sedang wukuf di Arafah bersama Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam. Tiba-tiba ia terjatuh dari hewan tunggangannya lalu meninggal. Maka Nabi Shallallahuโ€™alaihi Wasallam bersabda: mandikanlah ia dengan air dan daun bidara.

Dan kafanilah dia dengan dua lapis kain, jangan beri minyak wangi dan jangan tutup kepalanya. Karena Allah akan membangkitkannya di hari Kiamat dalam keadaan bertalbiyahโ€ (HR. Bukhari no. 1849, Muslim no. 1206).

Memandikan jenazah juga harus dilakukan dengan baik agar aurat tidak terlihat sebagaimana sewaktu jenazah masih hidup dulu. Jenazah wanita dimandikan oleh wanita atau suaminya, begitu pula sebaliknya.

Aliย radhiallahuโ€™anhuย dan kerabat Nabi mengatakan:

ุบุณู„ุชู ุฑุณูˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุตู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ูŽู‘ู… , ูุฐู‡ูŽุจุชู ุฃู†ุธูุฑู ู…ุง ูŠูƒูˆู†ู ู…ู†ูŽ ุงู„ู…ูŠุชู ูู„ู… ุฃุฑูŽ ุดูŠุฆู‹ุง , ูˆูƒุงู† ุทูŠุจู‹ุง ุญูŠู‹ู‘ุง ูˆู…ูŠุชู‹ุง , ูˆูˆู„ูŠ ุฏูู†ูŽู‡ ูˆุฅุฌู†ุงู†ูŽู‡ ุฏูˆู†ูŽ ุงู„ู†ุงุณู ุฃุฑุจุนุฉูŒ : ุนู„ูŠูู‘ ุจู†ู ุฃุจูŠ ุทุงู„ุจู , ูˆุงู„ุนุจุงุณู , ูˆุงู„ูุถู„ู ุจู†ู ุงู„ุนุจุงุณู , ูˆุตุงู„ุญูŒ ู…ูˆู„ู‰ ุฑุณูˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ูŽู‘ู… ูˆุฃู„ุญุฏูŽ ู„ุฑุณูˆู„ู ุงู„ู„ู‡ู ุตู„ูŽู‘ู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ูŽู‘ู… ู„ุญุฏู‹ุง ูˆู†ูุตูุจูŽ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู„ุจู†ู ู†ูŽุตุจู‹ุง

โ€œAku memandikan Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam. Dan aku memperhatikan jasad beliau seorang tidak ada celanya. Jasad beliau bagus ketika hidup maupun ketika sudah wafat.

Dan yang menguburkan beliau dan menutupi beliau dari pandangan orang-orang ada empat orang: Ali bin Abi Thalib, Al Abbas, Al Fadhl bin Al Abbas, dan Shalih pembantu Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam. Aku juga membuat liang lahat untuk Rasulullah Shallallahuโ€™alaihi Wasallam dan di atasnya diletakkan batu bataโ€ (HR. Ibnu Majah no. 1467 dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah).

Begitu pula ketika akan mengkafani jenazah, terdapat cara khusus agar jenazah terbungkus kain kafan dengan baik.

Dalam matanย Akhsharil Mukhtasharatย disebutkan teknis mengkafani mayit:

ูˆูŽุณู† ุชูƒููŠู† ุฑุฌู„ ูููŠ ุซูŽู„ูŽุงุซ ู„ูุงุฆู ุจูŠุถ ุจุนุฏ ุชุจุฎูŠุฑู‡ุง ูˆูŽูŠุฌู’ุนูŽู„ ุงู„ุญู†ูˆุท ูููŠู…ูŽุง ุจูŽูŠู†ู‡ูŽุง ูˆูŽู…ูู†ู’ู‡ ุจูู‚ุทู† ุจูŽูŠู† ุงู„ูŠูŠู‡ ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุงู‚ููŠ ุนู„ู‰ ู…ู†ุงูุฐ ูˆูŽุฌู‡ู‡ ูˆู…ูˆุงุถุน ุณูุฌููˆุฏู‡ ุซู…ูŽู‘ ูŠุฑุฏ ุทุฑู ุงู„ู’ุนู„ูŠุง ู…ู† ุงู„ู’ุฌูŽุงู†ูุจ ุงู„ุงูŠุณุฑ ุนู„ู‰ ุดู‚ูŽู‘ู‡ ุงู„ุงูŠู…ู† ุซู…ูŽู‘ ุงู„ุงูŠู…ู† ุนู„ู‰ ุงู„ุงูŠุณุฑ ุซู…ูŽู‘ ุงู„ุซูŽู‘ุงู†ููŠูŽุฉ ูˆูŽุงู„ุซูŽู‘ุงู„ูุซูŽุฉ ูƒูŽุฐูŽู„ููƒ ูˆูŽูŠุฌู’ุนูŽู„ ุงูƒุซุฑ ุงู„ู’ููŽุงุถูู„ ุนูู†ู’ุฏ ุฑุงุณู‡

โ€œDisunnahkan mengkafani mayit laki-laki dengan tiga lapis kain putih dengan memberikan bukhur (wewangian dari asap) pada kain tersebut. Dan diberikan pewangi di antara lapisan.

Kemudian diberikan pewangi pada mayit, di bagian bawah punggung, di antara dua pinggul, dan yang lainnya pada bagian sisi-sisi wajah dan anggota sujudnya.

Kemudian kain ditutup dari sisi sebelah kiri ke sisi kanan. Kemudian kain dari sisi kanan ditutup ke sisi kiri. Demikian selanjutnya pada lapisan kedua dan ketiga. Kelebihan kain dijadikan di bagian atas kepalanyaโ€.

Itulah sedikit penjelasan tentang hukum mempelajari pengurusan jenazah. Sungguh akan menjadi amal baik bagi mereka yang melakukan pengurusan jenazah dengan baik, maka dari itu sebisa mungkin pelajarilah proses pengurusan jenazah.

Demikianlah artikel yang singkat ini. Semoga artikel ini bermanfaat dan menambah wawasan dan keimanan kita. Aamiin.

Sumber : dalamislam.com

Alhamdulillah Allohumma Sholli โ€˜Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahli Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi โ€˜adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata โ€˜arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?

Written by jumat berkah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *