Hukum Berjalan di Depan Orang Shalat _*

BincangSyariah.Com— Pada suatu waktu Habib Salim bin Jindan pernah ditanya tentang hukum berjalan di depan orang yang shalat? Apakah lewat di depan orang yang shalat itu termasuk haram atau makruh seperti terjadi di masyarakat?

Habib Salim bin Jindan pun memberikan fatwa tersebut, sebagaimana termaktub dalam dalam kitab al-Ilmam bi Ma’rifat al-Fataawi al-Ahkaam yang sudah disunting dan dialihbahasakan ke bahasa Indonesia oleh Ibnu Kharish, Pimpinan Redaksi bincangsyariah.com. Menurut Habib Salim bin Jindan terdapat penjelasan dalam pelbagai hadis shahih mengenai perintah agar orang yang shalat membuat pembatas misalnya menghadap tembok, menggunakan kayu pembatas, kain pembatas, atau tongkat yang ditancapkan, atau bisa juga sajadah sebagai sutrah—pembatas orang yang shalat—, agar diketahui bahwa ia sedang shalat.

Di samping itu terdapat keterangan hadis Nabi Muhammad mengenai larangan lewat di depan orang yang shalat. Nabi bersabda;

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَيْ الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِينَ خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا

Artinya: Jikalau orang ang berjalan di depan orang shalat itu tahu sesuatu (dosa) yang akan ia dapatkan pada dirinya, niscaya ia tidak melakukannya hal baik maka sungguh berdiam—menunggu selesai shalat— selama 40 hari,  itu lebih baik baginya daripada berjalan di depan orang yang shalat. (HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Tirmidzi, Nasai, Dawud)

Menurut Habib Salim bin Jindan kebanyakan ulama mengatakan bahwa larangan yang dimaksud dalam hadits di atas adalah melewati antara tubuh orang yang shalat dengan pengahalang yang dijadikan sebagai pembatas. Pendek kata; larangan ini berlaku ketika ada di depan orang yang shalat ada pembatas, maka kita tak boleh melewati antara tempat ia berdiri untuk shalat hingga pembatas itu.

Misalnya, ia membuat di depannya kayu sebagai batas shalat, maka kita tak boleh lewat di antara kayu dan tubuh yang shalat. Atau  contoh lain seorang menjadikan sajadah sebagai sutrah (pembatas shalat), maka kita dilarang melewati di tengah-tengah sajadah orang yang shalat tersebut. Pasalnya, sajadah itu adalah batas orang yang shalat.

Adapun menurut Habib Salim bin Jindan batas penghalang di hadapan orang yang shalat itu di antara tempat ia berdiri dan tempat sujudnya. Ukuran atau jarak anatara tempat berdiri untuk shalat dan sutrahnya sekitar tiga hasta.  Lebih lanjut, menurut Habib Jindan pendapat yang zahir mengatakan bahwa orang yang shalat dianjurkan memperpendek sutrahnya.

Dalam kitab Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, dijelaskan bahwa menurut mazhab Syafi’i apabila orang shalat menggunakan sutrah (pembatas) maka hukumnya haram lewat di tengah orang yang shalat dan pembatasnya (baca; misal si A membuat sajadah atau kayu sebagai sutrah, maka haram lewat di tengah sutrah dan tempat ia berdiri untuk shalat).

اما الشافيعة فقد صرحوا بحرمة المر بين المصلي اذا صلى الى سترة وان لم يجد المار سبيلا آخر

Artnya: adapun di kalangan Mazhab Syafi’iyah , maka mereka menjelaskan tentang haram hukumnya lewat di tengah orang yang shalat bila ia memiliki sutrah, dan dilarang  lewat di antara orang yang shalat dengan adanya sutrah, maka diberikan dosa apabila lewat di tengahnya, meskipun orang yang lewat itu tak memiliki jalan lain.

Adapun bila tak ada sutrah, maka dianjurkan untuk lewat dengan mengambil jalan lain. Selain itu, para ulama sepakat bahwa lewat di depan sutrah hukumnya boleh. Begitu pun di belakang sutrah orang yang shalat, boleh hukumnya lewat. Dalam kitab Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah Jilid 24, halaman 185 termaktub;

لا خلاف بين الفقهاء في ان المروى وراء السترة لا يضر, وان المرور بين المصلي و سترته منهي عنه, فيأثم المار بين يديه

Artinya: tidak ada perbedaan pendapat ulama bahwa lewat di belakang sutrah boleh dan tidak ada mudharat, dan jika lewat di antara orang yang shalat dan sutrahnya (penghalangnya) maka itu terlarang, di diberikan dosa (baca; lewat ditengah orang yang shalat dan sutrahnya.

Demikian penjelasan hukum berjalan di depan orang shalat. Semoga bermanfaat.

(Baca: Fatwa Habib Salim bin Jindan tentang Salah Baca Al-Quran Saat Berdakwah)

 

 

Source : Bincangsyariah.com
Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?