Hukum Debat Kusir dalam Islam _*

Pengertian debat kusir menurut kamus besar bahasa Indonesiaadalah debat yang tidak disertai alasan yang masuk akal atau dapatdikatakan debat yang tidak berguna atau tidak ada kesimpulan akhir. Sedangkandebat memiliki arti pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu haldengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing masing.

Asal muasal debat kusir

Pada masa lalu di manadelman masih menjadi transportasi, saat menunggu penumpang beberapa kusir(sais) atau orang yang mengemudikan delman (dokar, sado) sedang asyik ngobrol.Tiba tiba kuda salah satu delman kentut, dan pemiliknya langsung berkata,“Sepertinya kuda saya masuk angin.” Kusir lain menimpali ucapan pemilik kudatersebut, “Bukan masuk angin, tapi keluar angin.”

Pemilik kuda tetap padapendiriannya menganggap kudanya masuk angin. Namun kusir lain jugamempertahankan pendapatnya bahwa itu keluar angin. Dari perdebatan kusir yangmasing masing mempertahankan argumentasinya tanpa penjelasan yang jelas makaistilah debat kusir dipakai.

Saat naik delman, posisipenumpang ada di belakang kusir dan duduk menghadap ke samping. Sedangkan pakKusir duduk menghadap ke depan. Dari posisi ini saja sudah menimbulkan sudutpandang yang berbeda jika membicarakan sesuatu.

Penumpang akan mengatakanpemandangan bagus karena duduk menyamping sehingga dapat melihat pemandangansawah yang terhampar di pinggir jalan. Sedangkan kusir bisa saja menjawabpemandangan membosankan karena terus menatap jalan di depan.

Jika ini didebatkan terus menerus akan tidak menemukan titik temu, karena masing masing memiliki pandangan berbeda. Nah bagaimana Hukum Debat Kusir dalam Islam yang berhubungan dengan hukum debat dalam islam? berikut selengkapnya.

Debat kusir wajib dihindari

Maksud “dihindari” pada kalimat di atas adalah segera meninggalkan debat kusir tersebut. Dunia internet dan media sosial merupakan sarana yang mudah untuk berdebat sesuai dengan bahaya internet dalam islam. Perlu diketahui bahwa berdebat khususnya debat kusir sangat merugikan apabila kita lakukan. Terutama di media sosial, walaupun kita sudah berniat berdiskusi dengan baik akan tetapi diskusi di internet dan media sosial tetap sangat sulit dilakukan.

Mengalah dari debat kusir agar terhindar dari tanda Allah SWT berpaling dari hamba Nya, karena “kita tidak akan bisa menang debat melawan orang yang bodoh dan tidak beradab“. Mengalah dalam debat, sebagaimana sebuah ungkapan:  “Tidaklah aku mendebat orang bodoh, pasti aku akan kalah

Kerugian debat kusir

  • Membuang buang waktu yang berharga sebab terdapat larangan menyia nyiakan waktu. Waktu kita akan habis untuk berdebat kusir yang terkadang tidak ada ujungnya.
  • Mengeraskan hati karena sering sakit hati dan berniat membalas padahal terdapat bahaya dendam dalam islam. Padahal tujuan dakwah adalah menasihati dan yang namanya nasihat itu menghendaki kebaikan pada saudaranya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat”.

  • Berdebat akan menimbulkan permusuhan di antarakaum muslimin, padahal kita diperintahkan agar menjadi saudara se iman.

Nabi Sulaiman ‘alaihissallam berkata kepada anaknya, “Wahaianakku, tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu ragu danmenentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan diantara orang orang yang bersaudara.”

  • Mengalah yaitu meninggalkan debat (walaupunnanti akan dikira akan kalah) bukanlah kalah yang sesungguhnya.

Mengalah untuk menang, mundur selangkah (mengambil kuda kuda) untuk melompat jauh ke depan. itulah kemenangan bagi mereka yang berjiwa besar menghidari debat tidak berguna. Oleh karena itu mengalah dan meninggalkan perdebatan, pahalanya sangat besar.

Rasulullah shalallahu‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapayang meninggalkan perdebatan sementara ia berada di atas kebatilan, maka Allahakan bangunkan sebuah rumah baginya di pinggiran surga. Dan barangsiapa yangmeninggalkan perdebatan padahal dia berada di atas kebenaran, maka Allah akanmembangun sebuah rumah baginya di atas surga.”

  • Walaupun sebenarnya  kita bisa menang dalamberdebat akan tetapi, bisa jadi dia menolak kebenaran karena gengsi kalah,padahal dia mengakui kebenaran telah datang.
    Terkadang dakwah ditolak bukan karena materinya yang salah atau orang yangmenyampaikan, tetapi cara dakwah yang tidak dapat diterima. Salah satunyaadalah dakwah dengan debat kusir yang tidak bermanfaat.

Sekali lagi dakwah ituuntuk kebaikan dan berniat kebaikan, perhatikan betapa tawadhu nya ImamSyafi’i, beliau berkata “Tidaklah aku mendebatseseorang melainkan dalam rangka memberi nasihat.”Beliau juga berkata, “Demi Allah, tidaklah aku mendebat seseorangmelainkan berharap akulah yang keliru.”

Hindari debat kusir

Di era teknologikomunikasi yang modern ini dengan karakteristiknya yang mudah, praktis, cepat,dan menjangkau banyak orang arus informasi semakin deras. Media sosial adalahsalah satu sarana yang paling banyak dipakai untuk menyebarkan berita, ilmu,opini, propaganda, dan sebagainya.

Di Facebook, Instagram,Whatsapp, dan sebagainya masyarakat diberi ruang untuk berkomentar tentangsuatu informasi dan saling menimpali satu sama lain antara yang pro dengan yangkontra. Keadaan ini membuka pintu perdebatan secara lebar.

Banyak yang terpancinguntuk masuk ke dalamnya meski tak memiliki kapasitas dan otoritas demimempertahankan dan membela sesuatu yang menurutnya benar atau sekadar unjukdiri serta hasrat mengalahkan dan menjatuhkan yang lain, tanpa peduli lawannyaitu adalah merupakan sesama keluarga, saudara, ataupun teman.Menurut Islam,debat diantara orang awam yang mana secara istilah disebut sebagai debat kusirini adalah merupakan suatu perbuatan yang tercela.

Syaikh Muhammad al Ghazalidalam Khuluq al Muslim mengatakan bahwa Islam memandang suatu pembicaraan dapatterpelihara dari hawa nafsu serta kurangnya berpikir dan pertimbangan (terburu buru)adalah dengan adanya larangan berdebat.

Oleh karena itu, Islammenutup rapat rapat pintu perdebatan baik mengenai kebenaran ataupun kebatilan.Karena di dalam perdebatan terjadi sesuatu yang sangat menekan jiwa, mendorongperasaan untuk mengalahkan lawan bicara, dan membuat orang suka menyerang oranglain dengan berbagai macam perkataan.

  • Debat kusir hanya menginginkan kemenangan, bukankebenaran

Orang yang berdebat lebihmementingkan “kemenangan” daripada menunjukkan kebenaran. Watak gemar menentangdan mementingkan diri sendiri menonjol dalam bentuk yang sangat buruk, sehinggadalam perdebatan tidak ada tempat atau kesempatan untuk menjelaskan persoalanataupun ketenangan.

Menurut ulama produktifasal Mesir ini, Islam memerintahkan orang supaya menjauhkan diri dariperdebatan seperti itu, karena Islam memandangnya sebagai bahaya yang dapatmerusak keselamatan agama dan keutamaan budi pekerti.Rasul Saw. bersabda:

Barangsiapa meninggalkan perdebatan dalam keadaan keliru, dibuatkanrumah di pinggir surga, dan yang meninggalkan perdebatan dalam keadaan sebagaipihak yang benar dibuatkan rumah di tengah surga. Sedang yang berbudi pekertibaik dibuatkan rumah di surga bagian atas.” (Abu Dawud).

Guru dari Syaikh Yusuf al Qaradhawiini mewanti wanti juga mengenai kemampuan berbicara yang kadang kadangmendorong orang yang bersangkutan gemar berselisih atau bertengkar dengan orangyang berilmumaupun yang bodoh, sekadar menuruti selera nafsu mengejarkemenangan, mengalahkan lawannya,

dan tidak jemu jemunyaberbuat seperti itu.Perdebatan yang menyangkut orang lain niscaya akanmelahirkan keburukan; bila menyangkut agama niscaya menodai kebagusan danmenghilangkan kewibawaannya.Islam sangat membenci orang orang yang cerewet danringan mulut seperti mereka itu.

Orang yang paling tidak disukai Allah ialah orang yang paling kerasmelancarkan permusuhan.” (al Bukhari).

Beliau Saw. juga berkata:

Suatu kaum yang telah memperoleh hidayah tidak akan sesat kecualisetelah mereka terlibat dalam perdebatan.” (at Tirmidzi).

Katanya lagi, orang yangsuka melibatkan diri dalam perdebatan seperti itu lidahnya tidak mau berhentipada satu batas. Ia selalu ingin berbicara dan ingin terus menerus bersainguntuk membanggakan diri.

Hal pertama yang palingpenting baginya adalah kata kata, sedangkan makna dan artinya dinomorduakan.Sedangkan tujuan yang mulia mungkin sekali olehnya ditempatkan paling belakangan,atau barangkali yang terpenting baginya adalah berada di tengah tengah hiruk pikuknyaperdebatan itu sendiri.

Adapun perdebatan hanya akan menyebabkan ketidakenakan, perselisihan,perkelahian, permusuhan, dan perpecahan antar sesama Muslim. Sesungguhnya, orang orang yang beriman itu adalah bersaudara, dilarang saling mencaci, saling berburuk sangka, saling menyakiti, dan saling menjatuhkan.

Sesungguhnya orang orang beriman itu bersaudara.” (Surat al Hujurat10).

Oleh karena itu, seseorangmesti bijak dan menahan diri saat berhadapan dengan sesuatu yang bertentangandengan pandangan pribadinya, tidak bersikap terlalu reaksioner, serta tidaktergesa gesa memvonis dan membantah. Jika ingin mendebat, ia mesti tahu diridengan mengukur kapasitasnya dan menghormati otoritas.

Perlu diketahui pula bahwaterdapat hal hal yang sebenarnya tidak perlu diperdebatkan. Banyak hal halsepele yang tabiatnya memang pasti mengandung perbedaan persepsi dan asumsisehingga bersikap keras dan intoleran dalam masalah tersebut sertamemperlakukannya seolah perkara pokok yang prinsipil adalah merupakan kekeliruansekaligus tidak beradab.

Kita pun perlu berlapangdada untuk mengalah meskipun kita benar jika sekiranya perdebatan terusdilanjutkan malah akan merusak hubungan persahabatan dan persaudaraan. Karenabagaimanapun para ulama terdahulu telah memberikan teladan bahwa persatuanlebih utama daripada sekadar menang adu argumen. Wallahu a’lam.

Sumber : dalamislam.com

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin