in , ,

Hukum Terlalu Mencintai Dunia dalam Islam _*

Tujuan hidup seorang Muslim adalah akhirat, bukan dunia dengan cara tawakal dalam islam. Akhirat (surga) merupakan puncak cita cita seorang Muslim. Orang yang beriman dan berakal memandang dunia dan akhirat dengan sudut pandang yang benar.

Cinta seseorang kepada akhirat tidak akan sempurna kecuali dengan bersikap zuhud terhadap dunia dan melakukan cara agar sukses dunia akhirat menurut islam. Sementara, zuhud terhadap dunia tidak akan terealisasi melainkan setelah ia memandang kedua hal ini dengan sudut pandang yang benar.

Pembagian ini penting untuk diketahui, mengingat bahwa setiap hamba tidak dapat terlepas dari salah satunya. Dengan kata lain, orang yang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat dan tidak melakukan cara mencintai Allah lebih dari apapun disebabkan oleh dua faktor;

pertama adalah rusaknya iman, dan yang kedua adalah rusaknya akal. Sungguh, alangkah banyak orang yang mengalami kedua hal tersebut. Berikut selengkapnya mengenai Hukum Terlalu Mencintai Dunia dalam Islam.

Kisah di Jaman Rasulullah

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat Beliau mencampakkan dunia di belakang punggung mereka dan melakukan amalan masuk surga tanpa dihisab. Mereka memalingkan hati mereka dari dunia. Mereka mengabaikannya dan tidak merasa nyaman dengannya.

Mereka meninggalkannya dan tidak mengejarnya agar mendapatkan jenis surga dalam islam. Bagi mereka, dunia adalah penjara, bukan surga, sehingga mereka selalu bersikap zuhud dalam arti yang sebenarnya. Seandainya menginginkan dunia, niscaya mereka akan mendapatkan apa yang disenangi dan mencapai apa yang diinginkan.

Sungguh, Nabi Shallallahu‘alaihi wa sallam pernah ditawarkan kunci kunci perbendaharaan dunia, tetapiBeliau menolaknya. Dunia juga ditawarkan kepada para Sahabat Beliau, namunmereka tidak terpengaruh dan tidak menukar akhirat mereka dengannya. Merekatahu bahwa dunia hanya tempat melintas dan persinggahan, bukan tempat untuktinggal dan menetap.

Dunia adalah tempatkesedihan, bukan tempat kebahagiaan. Dunia tak ubahnya seperti awan pada musimkemarau yang membumbung di langit namun hanya sebentar lalu menghilang. Duniaseperti khayalan (mimpi) sesaat yang belum juga kita puas menikmatinya, tiba tibadiumumkan untuk berangkat (menuju tempat tujuan).

Hadist dan Ayat Al Qur’an tentang Cinta untuk Dunia dan Akherat

  • Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Apalah artinya dunia ini bagiku?! Apa urusanku dengan dunia?! Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia ini ialah seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon, ia istirahat (sesaat) kemudian meninggalkannya
  • Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Demi Allâh! Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian meletakkan jarinya  Yahya (perawi hadits) berisyarat dengan jari telunjuknya  ke laut, lalu lihatlah apa yang dibawa jarinya itu?
  • Allâh Azza wa Jalla berfirman:

Sesungguhnyaperumpamaan kehidupan duniawi itu hanya seperti air (hujan) yang Kami turunkandari langit, lalu tumbuhlah tanaman tanaman bumi dengan subur (karena air itu),di antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila bumi itutelah sempurna keindahannya, dan berhias,

dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya adzab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman)nya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda tanda (kekuasaan Kami) kepada orang yang berpikir. [Yûnus/10:24]

  • Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

Dan buatkanlah untukmereka (manusia) perumpamaan kehidupan dunia ini, ibarat air (hujan) yang Kamiturunkan dari langit, sehingga menyuburkan tumbuh tumbuhan di bumi, kemudian(tumbuh tumbuhan) itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan AllâhMahakuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak anak adalah perhiasan kehidupandunia tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya disisi Rabb mu serta lebih baik untuk menjadi harapan. [Al Kahfi/18:45 46]

  • Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa tujuanhidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai beraikan urusannya, menjadikankefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa yangtelah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalahnegeri akhirat, Allâh Azza wa Jalla akan mengumpulkan urusannya, menjadikankekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.

  • Allâh Azza wa Jalla berfirman:

Barangsiapa bertakwa kepada Allâh niscaya Dia akan membukakan jalan keluar bagi nya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka sangkanya [Ath Thalâq/65 : 2 3]

  • Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allâh Ta’ala berfirman,

‘Wahai anak Adam!Curahkanlah (gunakanlah) waktumu untuk beribadah kepada Ku, niscaya Aku penuhidadamu dengan kekayaan (kecukupan) dan Aku tutup kefakiranmu. Jika engkau tidakmelakukannya, maka Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan dan Aku tidakakan tutup kefakiranmu.’”

Hukum Terlalu Mencintai Dunia dalam Islam

Seorang Muslim danMuslimah tidak boleh tertipu oleh kehidupan dunia. Dan hendaklah ia mencurahkanwaktunya untuk beribadah kepada Allâh. Banyak manusia yang terlalaikan sehinggabanyakwaktu yang terbuang sia sia untuk mengejar dunia, waktu yang digunakan mulaidari pagi hingga malamhanya untuk mengurusi dunia, seperti mencarinafkah,dagang, kerja, lembur, mengerjakan tugas kantor.

Sedangkan rizki itudatangnya dengan pasti, setiap anak yang lahir itu sudah membawa rizki. Akantetapiyang belum pasti adalah keadaan kita dihadapan Allâhpada hari Kiamat,apakah amal kita diterima atau tidak,apakah kita akan masuk surga atau neraka.Oleh karena itu, jangan jadikan dunia ini sebagai tujuan.

Orang yang tujuannya duniaakan dicerai beraikan urusannya dan dijadikan kefakiran di depanpelupukmatanya. Sehingga ia selalu merasa kurang, tidakcukup, dan fakir,padahal Allâh telah memberikan nikmat yang banyak.

  • Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa tujuan hidupnyaadalah dunia, maka Allâh akan mencerai beraikan urusannya, menjadikan kefakirandi kedua pelupuk matanya,dan ia mendapat dunia menurut apa yang telahditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeriakhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dandunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.

Akan tetapi dunia tidak akandatang melainkan hanya seukuran apa yang telah Allâh Azza wa Jalla tentukan,meskipun ia telah kerja dari pagi sampai larut malam. Adapun orang yangtujuannya adalah akhirat, maka Allâh Azza wa Jalla kumpulkan seluruh urusannya,Allâh Azza wa Jalla jadikan hatinya itu merasa cukup dengan rezeki yang AllâhAzza wa Jalla berikan dan dunia akan datang dalam keadaan hina. Orang yangbahagia adalah orang cukup dan puas dengan rezeki yang Allâh Azza wa Jallaberikan.

  • Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Sungguh beruntung orangyang masuk Islam, diberikan rezeki yang cukup, dan dia merasa puas dengan apayang Allâh berikan kepadanya

Orang yang beriman denganiman yang benar, maka dia tidak suka dengan kedudukan dan jabatan, karenakecintaan manusia kepada jabatan atau kepemimpinan akan membawa kepadakerusakan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Yang demikian karena cinta kepada kepemimpinan(kedudukan/jabatan) merupakan sumber kejahatan dan kezhaliman.”

  • Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Dua serigala yang laparyang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkandengan sifat rakus manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusakagamanya.

Di dalam hadits iniRasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa ketamakan manusiaterhadap harta dan jabatan pasti akan merusak agamanya. Ketamakan manusiakepada harta dan kepemimpinan akan membawa kepada kezhaliman, kebohongan danperbuatankeji. Bahkan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Na’uudzubillahmin dzalik (kita berlindung kepada Allâh dari sifat dan perbuatan demikian).

Orang orang yang gila kepada harta, kedudukan, jabatan, dan cinta kepada dunia mereka akan menyesal pada hari kiamat, ketika mereka diberikan catatan amalnya dari sebelah kirinya. Semua kekuasaan, jabatan, dan hartanya tidak bermanfaat di akhirat.

  • Allâh Azza wa Jalla berfirman:

Dan adapun orang yangkitabnya diberikan di tangankirinya, maka dia berkata, “Alangkah baiknya jikakitabku(ini) tidak diberikan kepadaku.Sehingga aku tidak mengetahui bagaimanaperhitunganku,Wahai, kiranya (kematian)itulah yang menyudahi segala sesuatu.Hartaku samasekali tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah hilang dariku.” [AlHaqqah/69:25 29]

Oleh karena itu, seorangMuslim harus zuhud terhadap dunia dan qanâ’ah (merasa puas dengan rezekiyang Allâh karuniakan kepadanya). Setiap Muslim dan Muslimah harus ingat, bahwakita diciptakan oleh Allâh Azza wa Jalla untuk beribadah kepada Allâh Azza waJalla . Kita wajib meluangkanwaktu kita untuk ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla.

Kalau kita sibukkan dirikita dengan ibadah, melaksanakan ketaatan kepada Nya dan menjauhi larangan Nya,maka Allâh Azza wa Jalla akan menutupi kefakiran kita. Janganlah kitadisibukkan dengan dunia, dengan angan angan, cita cita, main main, senda gurau,dan menumpuk numpuk harta yang membuat kita tertipu dengan dunia.

Demikian yang dapatpenulis sampaikan, semoga bermanfaat, sampai jumpa di artikel berikutnya,terima kasih.

Sumber : dalamislam.com

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahli Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?

Written by jumat berkah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *