Jatuhkah Talak Suami Yang Mengaku Tidak Punya Istri ? _*

BincangSyariah.com – Satu ketika seorang suami mengaku tidak punya istri, apakah itu menyebabkan jatuh talaknya pada istrinya yang sah ? Sebelum lebih jauh membahas hal ini, terlebih dahulu akan dibahas sedikit terkait dengan persoalan cerai dalam Islam. Bagaimana cara menceraikan istri secara sah.

Perlu dipahami bahwa cerai atau talak dalam Islam dianggap sah jika sudah memenuhi rukun. Salah satu rukun talak itu adalah lafaz yang digunakan. Di dalam kitab fikih sunah Imam Syafi’i mengungkapkan bahwa lafaz talak itu ada dua; sharih dan kinayah.

a.    Lafaz sharih (jelas)

Adalah lafaz talak yang sudah bisa dipahami maknanya dari ucapan yang disampaikan suami. Artinya lafaz talak sharih tidak bisa dipahami maknanya kecuali perceraian. Misalnya: Kamu saya talak, kamu saya cerai, kamu saya pisah selamanya, kita bubar, silahkan nikah lagi, aku lepaskan kamu, atau kalimat yang semacamnya, yang tidak memiliki makna lain, selain cerai.

Di dalam kitab fikih sunah, Imam Syafi’i mengatakan lafaz talak yang sharih intinya ada tiga: talak (الطلاق), pisah (الفراق), dan lepas (السراح). Ketiga lafaz ini yg disebutkan dalam alquran.

b.    Lafaz kinayah (tidak tegas)

Adalah lafaz yang mengandung kemungkinan makna talak dan makna selain talak. Misalnya pulanglah ke orang tuamu, keluar sana, tidak usah pulang sekalian, atau kalimat semacamnya.

Cerai dengan lafaz tegas hukumnya sah, meskipun pelaku atau suami tidak meniatkannya. Sayid Sabiq dalam kitab fikih sunah mengatakan:

والصريح: يقع به الطلاق من غير احتياج إلى نية تبين المراد منه، لظهور دلالته ووضوح معناه

“Kalimat talak yang tegas statusnya sah tanpa melihat niat yang menjelaskan apa keinginan pelaku. Karena makna kalimat itu sangat terang dan jelas.”

Sementara itu, cerai dengan lafaz tidak tegas (kinayah), dihukumi sesuai dengan niat pelaku. Jika pelaku melontarkan kalimat itu untuk menceraikan istrinya, maka status perceraiannya sah. Bahkan sebagian ulama Hanafiyah dan Hanbali menilai bahwa cerai dengan lafaz tidak tegas bisa dihukumi sah dengan melihat salah satu dari dua hal; niat pelaku atau qarinah (indikator).

Misalnya, seorang melontarkan kalimat talak kinayah dalam kondisi sangat marah kepada istrinya. Di mana seorang suami mengucapkan kalimat tersebut menunjukkan bahwa dia ingin berpisah dengan istrinya. Sehingga dia dinilai telah menceraikan istrinya, tanpa harus dikembalikan ke niat suami tersebut.

Akan tetapi, pendapat yang lebih kuat, semata qarinah (indikator) tidak bisa jadi landasan. Sehingga harus dikembalikan kepada niat suami. Ini merupakan pendapat Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin, sebagaimana keterangan beliau di Asy-Syarhu al-Mumthi.

Demikian penjelasan tentang ucapan talak, lalu bagaimana dengan suami yang mengaku tidak punya istri ke orang lain, sementara ia masih menjadi suami yang sah.

Fitrah manusia memang diciptakan untuk saling mencintai ke lawan jenis. Ini tidak hanya berlaku kepada pemuda atau pemudi, tapi juga ke orang yang telah memiliki suami atau istri. Seperti halnya suami, sebagian orang jika ia tidak dengan istri maka ia akan mudah tergoda dengan wanita lain. Ia tidak memikirkan dampak yang serius terhadap rumah tangganya. Rasulullah saw mengingatkan:

إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ فِيهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِب

“Sesungguhnya ada hamba yang dia mengucapkan satu kalimat, yang tidak dia pikirkan dampaknya, namun menggelincirkannya di neraka sejauh timur dan barat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Jika suami mengatakan ke orang lain bahwa ia tidak memiliki istri, apakah sudah jatuh talak? Syekh Abdullah bin Abdul Aziz al-Aqil menggolongkan kalimat seperti itu sebagai bentuk kalimat cerai kinayah, karena mengandung dua kemungkinan makna, makna talak dan selain talak. Karena itu, untuk bisa dihukumi cerai ataukah bukan, kembali kepada niat orang yang mengucapkan.

Syaikh Abdullah al-Aqil ditanya terkait dengan masalah hal ini. Ada seorang lelaki yang mengatakan, Saya belum menikah.” Maksudnya bergurau. Kemudian diketahui ternyata dia telah menikah dan diapun mengakuinya. Dia beralasan, Saya hanya bergurau.” Bagaimanakah hukumnya?

Syekh Abdullah al-Aqil menjawab: para ulama telah menyebutkan masalah ini, ketika suami ditanya, apakah anda punya istri? Lalu dia menjawab, “tidak.” Dan maksud dia adalah dusta, sama sekali tidak berniat cerai, maka istrinya tidak dianggap cerai. Karena kalimat ini adalah kalimat kinayah, yang butuh niat talak, dan suami (pada kasus di atas) tidak berniat cerai. Nabi saw bersabda: “semua orang mendapatkan sesuai yang dia niatkan.”

Source : Bincangsyariah.com
Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?