Karbala | Republika Online | Astaghfirullah

Enam puluh tahun sesudah Nabi SAW wafat, dunia Islam dikejutkan adanya peristiwa yang terjadi pada 10 Muharam di Irak, yang kemudian dikenang umat Islam sebagai Peristiwa Karbala.


Kini di hampir tiap belahan dunia Islam, orang yang belajar sejarah — tidak peduli mazhab apa yang mereka anut — mestilah mencermati apa yang terkandung dalam tragedi berdarah di Irak itu. Kita pun di Indonesia mengenangnya lewat iring-iringan ”Suroan” di Solo, perayaan Tabut di Sumatra, dan pembuatan Bubur soro di pelbagai daerah lainnya.

Abdul Hamid Kisyik, ulama tenar Mesir, dalam salah satu ceramahnya di Kairo bulan Suro (Muharam) menangis tersedu-sedu membacakan riwayat itu. Pendengarnya pun histeris, menyesalkan mengapa musti terjadi permbantaian keluarga dari rumah Nabi SAW oleh kelompok yang mengaku muslim yang lain.

Yakni ketika cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali dicincang dan kepalanya ditendang ke sama ke mari oleh pasukan Yazid bin Muawiyah.

Yang barangkali aneh bagi logika awam adalah, bahwa Husein dan para pengikutnya sebetulnya sudah tahu bahwa beliau akan mati syahid dalam perang yang tak seimbang itu.

Pada malam 9 Muharam, Husein malah sekali lagi meminta kepada pengikutnya untuk meninggalkannya sendirian saja. ”Diri sayalah yang diinginkan, bukan kalian,” ujarnya. Tapi pengikutnya berkukuh untuk tetap dalam barisan Husein. ”Seandainya saya dimatikan seribu kali dan dihidupkan lagi seribu kali, saya akan mengikutimu wahai cucu Nabi SAW,” kata salah seorang pengikutnya.

Logika awam mungkin mempertanyakan, mengapa musti membela Husein, kalau mereka tahu bahwa yang dibelanya itu akan gugur juga. Tapi para pembela kebenaran yang diperjuangkan Husein memang tidak peduli pada akal dan logika awam. Yang ada pada dada mereka adalah semangat perjuangan membela kebenaran dan membela yang lemah.

Singkat kata, mereka akhirnya gugur sebagai syuhada. Hanya beberapa saja yang selamat. Tapi berkat peristiwa itu, kita memperoleh pelajaran bahwa perjuangan mustilah dikerjakan dengan pengorbanan. Bahwa Islam cuma membolehkan pemimpin yang adil saja, dan menentang segala bentuk ketidakadilan, kendatipun penentangan itu musti dibayar dengan darah.

Kita tidak tahu apa jadinya sejarah Islam kalau tidak ada peristiwa itu. Mungkin saja kita tidak lagi akan pernah membela kaum yang lemah dan tertindas, dan cuma menjadi pembebek para penguasa otoriter. Wallahu a’lam bissawab. – ahi

Sumber : republika.co.id

Featured Image : freepik

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahli Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published.