Kartu Remi Sebagai Media Dakwah Perspektif Tindakan Sosial Max Weber _*

Islam sebagai agama rahmatan lil alamin sudah sepatutnya memberikan sebuah prakarsa terhadap kehidupan yang penuh dengan cinta damai. Islam merupakan agama yang memang diproyeksikan sedemikian rupa, sebagai agama penyempurna dari agama yang sebelumnya.

Islam yang kita ketahui adalah islam yang memanusiakan manusia, tidak rigid serta puritan dalam ajaran. Islam yang konservatif adalah sebuah noda yang sebenarnya menghambat prosesi perkembangan Islam itu sendiri.

Perkembangan zaman yang kian hari kian berbeda, bahkan perbedaan tersebut cukup signifikan. Sudah semestinya Islam sebagai teacher of life bersifat adaptif dan luwes. Dalam proses diseminasi benih-benih keislaman di lingkungan sekitar sudah tentu memiliki jalan yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.

Setiap lingkungan tidak bisa disamakan dengan lingkungan yang lainnya, misalnya saja lingkungan yang memang diselimuti dengan nilai-nilai religius sudah tentu berbeda dengan lingkungan yang alergi dengan nilai-nilai religius.

Kondisi yang pertama tidak bosan dan lebih suka dengan mendengar ceramah, pengajian dan semacamnya sedangkan kondisi yang kedua tentu tidak merasa tertarik jika disodorkan dengan metode ceramah, pengajian dan semacamnya. Untuk itu dicarilah jalan lain supaya mereka masuk dalam circle keislaman.

Sebelum mengambil tindakan lebih lanjut, sebagai agen harus memperhatikan poin-poin yang berkaitan dengan ilmu kemasyarakatan atau yang biasa disebut dengan ilmu sosiologi. Dalam memahami ilmu sosiologi, seseorang ditawarkan bagaimana ia bisa mengetahui dan memahami keadaan masyarakat secara realita, entah itu baik atau buruk.

Sebab dalam ilmu sosiologi poin baik atau buruk tidak menjadi sebuah sorotan. Itulah karakteristik sosiologi, non-etis. Seorang agen harus memahami masyarakat yang akan diberikan warna olehnya itu seperti apa sehingga langkah yang diambil dapat bekerja dengan optimal.

Pun seorang agen harus mengambil langkah bagaimana ia bisa memberikan sugesti kepada objek agar dapat terpancing ke dalam lubang misinya. Hal itu menurut Max Weber diberi sebutan sebagai tindakan sosial.

Menurut Max Weber, tindakan sosial merupakan bahasan pokok dalam sosiologi. Tidak semua tindakan manusia bisa dikatakan sebagai tindakan sosial.

Sebagaimana yang telah disinggung di muka bahwa tindakan sosial adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh seseorang apabila tindakannya tersebut dapat memberikan sugesti kepada orang lain. Atau bisa juga dikatakan bahwa tindakan sosial adalah tindakan yang memberikan makna kepada orang lain.

Disebut tindakan sosial jikalau orientasi tindakan tersebut tertuju kepada orang lain. sebuah tindakan adalah perilaku manusia yang mempunyai makna subyektif bagi pelakunya.

Sosiologi bertujuan memahami (verstehen) mengapa tindakan sosial mempunyai arah dan akibat tertentu, sedangkan setiap tindakan mempunyai makna subyektif bagi pelakunya.

Maka ahli sosiologi yang hendak melakukan penafsiran bermakna atau yang hendak memahami makna subyektif suatu tindakan sosial harus dapat membayangkan dirinya ada di tempat pelaku untuk dapat menghayati pengalamannya.

Sesuai dengan penjelasan di atas bahwa dalam melakukan tindakan sosial itu yang terutama adalah tertuju kepada orang lain. Sehingga seorang agen pendakwah harus memperhatikan lingkungan masyarakat seperti apa dan harus berorientasi tindakannya kepada orang lain.

Dalam berdakwah pun kita harus mengetahui perkakas apa yang akan kita gunakan. Pada kali ini penulis mengambil kartu remi sebagai perkakasnya, hal ini untuk menggambarkan keadaan masyarakat di sekitar penulis.

Masyarakat yang memang jika dilihat memiliki daya tarik terhadap permainan remi ini bisa dijadikan sebagai alat untuk menumbuhkan tindakan sosial tersebut. Seorang agen harus terjun dalam circle mereka agar setidaknya dapat mengetahui celah untuk dimasukkan nilai-nilai dakwah.

Hal itu diberikan contoh oleh guru dari si penulis dalam menyebarkan dakwahnya. Beliau berkecimpung dengan mereka yang memang menjadi target dengan mengajak bermain remi, akan tetapi tidak bermain finansial.

Hal itu dilakukan secara kontinyu. Nilai-nilai dakwah yang diselipkan bisa bermacam-macam, ketika azan tiba maka sang guru menjeda permainannya untuk salat terlebih dahulu; pada saat bermain remi sang guru menawarkan untuk sajian makanan dan minuman.

Secara tidak langsung hal itu sudah memberikan dua hubungan, yaitu hubungan kepada Tuhan dan kepada manusia. Hal itu memang tidak langsung memberikan hasil yang diharapkan. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, satu per satu orang mulai terbawa sugesti hingga mereka akhirnya masuk dalam circle yang diproyeksikan guru si penulis tersebut.

Hal itu merupakan sebuah tindakan sosial yang di mana seorang agen melakukan tindakannya yang diorientasikan kepada orang lain supaya mereka bisa masuk dalam nilai-nilai keislaman melalui jalur kartu remi.

Trik itu bisa mempengaruhi mereka yang semula sulit sekali untuk melangkahkan kaki ke tempat ibadah, akhirnya mulai mau sedikit demi sedikit.

Mereka yang awalnya sulit sekali untuk memberikan sedikit rezekinya dalam bersedekah kepada sesama, perlahan mulai mau untuk bersedekah. Tindakan bermain remi tersebut dapat memberikan makna kepada sekumpulan orang hingga mereka dapat mengarah kepada tujuan dari sang agen tersebut.

Sumber : dalamislam.com

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihiadada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?