Kematian | Republika Online | Astaghfirullah

Peristiwa kematian hampir setiap saat terjadi di sekeliling kita. Seakan tak mengenal belas kasihan, maut terus merenggut nyawa kehidupan manusia tanpa pandang bulu. Sungguhpun demikian, kematian tetap merupakan misteri. Hakekat kematian tidak sepenuhnya dapat diterangkan. Lalu timbul pertanyaan, mengapa kita hidup? Dan mengapa kemudian kita mati? Tak dapat diterangkan dan dibuktikan secara empirik.


Pertanyaan seperti ini hanya dapat ditemukan jawabannya dalam agama. Dalam Alquran kita menemukan banyak informasi mengenai kematian. Tak kurang dari 175 ayat berbicara masalah ini. Bahkan terdapat 175 ayat yang lain lagi berbicara mengenai hal-hal yang terkait dengan kematian itu. Kitab suci Alquran menyebut kematian sebagai keharusan dan kemustian bagi setiap pribadi (Ali Imran 185), sebagai sarana ujian bagi manusia (Al-Mulk 1-2), dan sebagai pintu gerbang menuju kehidupan yang lebih baik (An-Nisa 77).

Ini mengandung makna bahwa kehidupan dan kematian sesungguhnya memiliki tujuan. Tujuan ini menjadi jelas dan nyata justru setelah manusia mengalami kematian. Untuk itu, setiap orang musti menjalani hidup ini dengan penuh kesungguhan dan penuh rasa tanggung jawab. Menurut Murtadha Muttahari, pemikir dan filosof Iran kontemporer, dalam kitabnya al-Adl al-Ilahi, kematian bukanlah ketiadaan hidup.

Kematian hanyalah sebuah evolusi manusia (tathawwur) untuk menemukan eksistensi diri yang sesungguhnya. Jadi, kematian bukan ketiadaan hidup secara mutlak, melainkan ketiadaan hidup secara relatif atau nisbi. Kehidupan itu, kata Muttahari, tetap ada, hanya wujud dan bentuknya berbeda.

Kehidupan dunia, menurut Muttahari, berperan penting dalam menentukan evolusi manusia itu. Dalam pandangan Muttahari, kehidupan dunia tak ubahnya lembaga pendidikan (madrasah), tempat para pelajar dididik dan dibina. Ketika manusia dalam ”lembaga pendidikan” itu sudah mencapai proses kematangannya, maka tibalah waktunya bagi manusia untuk keluar dari kehidupan ini menuju kehidupan yang lebih sempurna dalam keabadian dan kedamaian di sisi Tuhan.

Inilah, menurut Muttahari, makna firman Allah SWT: ”Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa.” (A-Qamar 54-55). Bagi sebagian orang, kematian memang merupakan ”momok” yang cukup menakutkan. Hal ini boleh jadi karena yang bersangkutan tidak siap menghadapi kematian dan kehidupan setelah kematian itu. Atau karena ia terlalu berat hati untuk berpisah dengan orang-orang yang selama ini sangat dicintai.

Namun, bagi orang-orang tertentu, kematian justru merupakan sesuatu yang sangat dirindukan. Bahkan mereka memandang kematian itu sebagai kemenangan dan keberuntungan. Mengapa? Hanya dengan kematian, mereka dapat menemukan kehidupan yang sungguh sangat sejati dan abadi. Wa Allah A’lam!

Sumber : republika.co.id

Featured Image : freepik

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahli Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published.