Kiat Meraih Keuntungan | Republika Online | Astaghfirullah

Bagaimana strategi supaya kita mendapat kesuksesan atau keuntungan dalam bekerja, berbisnis, atau dalam melakukan aktivitas apapun? Strategi yang pertama kuncinya adalah adil. Adil adalah pilar awal kesuksesan dalam hidup ini. Adil itu bukan sama rata, tetapi menempati hak dengan proporsional (menempatkan sesuatu pada tempatnya). Adil berarti tidak ada yang terzalimi. Kalau orang dizalimi biasanya akan sakit hati dan (kalau ada penyakit di hatinya) akan dendam. Kedendaman ini akan kembali menghancurkan yang menzalimi. Penyebab terjadinya aksi penghancuran oleh para buruh karena mereka merasa diperlakukan tidak adil. Ketidakadilan adalah awal kehancuran keberkahan usaha kita.


Ketidakadilan dalam bisnis menghancurkan tatanan ekonomi. Contoh lainnya, adanya sebuah provinsi yang hendak melepaskan diri dari negeri ini karena merasa diperlakukan tidak adil karena hasil buminya disedot siang-malam selama berpuluh-puluh tahun, tetapi rakyat di sekitarnya semakin nestapa. Begitu pula, seorang atasan yang tidak adil akan dibenci oleh karyawannya, orang tua yang tidak adil terhadap anak-anaknya akan timbul pertengkaran di rumah. Negara Amerika jika berbuat tidak adil, maka hasilnya akan dituai suatu saat kelak. Rindukanlah keadilan merata di mana-mana, sampai tidak ada hak siapapun yang terzalimi.

Bersyukurlah jika tidak ada orang yang terzalimi karena itulah keberuntungan kita. Sebaliknya, kita tidak akan mendapat keberuntungan dengan berbuat zalim karena justru kutukan, laknat, dan ancaman yang akan datang. Strategi yang kedua adalah jujur. Kalau kita jujur, terbuka, dan transparan, maka orang tidak akan pernah ada yang tertipu dan menjadi sukar berburuk sangka. Manajemen yang penuh dengan kejujuran maka tidak akan ada kecurigaan satu sama lain, sehingga aktivitas bisnisnya akan lebih bersinergi. Kita membutuhkan pebisnis yang jujur.

Kalau kita membeli barang seharga Rp 10.000 dan ingin mendapatkan keuntungan sebesar Rp 1.000, katakan saja, “Saya hendak mengambil keuntungan sebesar Rp 1.000 sedangkan saya membelinya seharga Rp 10.000” Tidak perlu berdusta. Tidak apa-apa jika pembeli tidak jadi membeli karena yang membagikan rezeki hanyalah Allah semata. Yang penting kita bisa jujur. Pebisnis seperti ini yang sekarang langka. Ini memang cara berbisnis yang sulit, oleh karenanya pedagang yang jujur itu kedudukannya akan setara dengan para Nabi dan Rasul di akhirat.

Penjual yang jujur akan mengundang simpati para pembelinya karena mereka merasa tidak dibohongi. Di samping itu mereka akan menyarankan kawan-kawannya untuk membeli kepadanya, sehingga berbondong-bondong orang mendatanginya. Maka kejujurannya itulah di antaranya yang bisa membuat barang dagangannya laku terjual, sehingga menghasilkan keuntungan yang lebih banyak. Strategi yang ketiga adalah profesional, yaitu bisnis yang orientasinya membuat orang lain merasakan sigma kepuasan. Ini lebih tinggi daripada adil karena kalau adil itu hanya sampai haknya terpenuhi, tetapi kalau ihsan itu melampaui terpenuhinya hak karena mengupayakan orang lain mendapatkan kepuasan. Rasulullah SAW adalah seorang yang sangat ihsan.

Tidak ada satupun orang yang bertemu dengan beliau melainkan menemukan banyak kepuasan dari sikap beliau, puas terhadap kejujurannya, senyumannya, tutur katanya, etika dan kesopanannya. Begitu pula dalam berbisnis, ciptakanlah sigma kepuasan. Saat bertemu dengan penjual, puas karena keramahannya. Saat bertransaksi, puas karena kejujurannya. Saat mendapatkan barang, puas karena kualitasnya. Biarkan para pembeli merasakan banyak kepuasan, sehingga timbul sigma kepuasan pada para pembeli. Entrepreneur Muslim sejati tidak hanya memikirkan kepuasan dirinya, tetapi juga memikirkan bagaimana memuaskan sebanyak mungkin orang lain.

Kepuasan kita adalah memuaskan orang lain, bukan mengecewakan orang lain. Strategi yang keempat adalah bisnis yang kreatif dan inovatif, yaitu bisnis yang benar-benar menjunjung tinggi kualitas, bisa memberikan solusi dan memiliki orientasi untuk masa depan. Strategi yang kelima adalah bisnis yang multi-manfaat, yaitu bisnis yang tidak hanya menguntungkan penjual, tetapi juga bisa menguntungkan banyak orang. Jadi ciri entrepreneur Muslim sejati yang sedang dinantikan kehadirannya saat ini, adalah pebisnis yang sangat adil, jujur, profesional, kreatif, dan inovatif. Singkatnya, mereka yang bisa memberikan multimanfaat.mq

Penulis : KH Abdullah Gymnastiar 

REPUBLIKA – Jumat, 06 September 2002

Sumber : republika.co.id

Featured Image : freepik

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahli Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published.