Kisah Siti Maryam, Wanita Suci yang Dimuliakan Allah _* BE3

Siti Maryam adalah wanita paling suci diantara seluruh wanita di muka bumi. Diasuh oleh Nabi Zakariyya AS, membuat Maryam terpelihara dengan baik dan dapat menjaga kesucian dirinya.

Maryam berdiam diri di Baitul Maqdis, tempatnya dalam beribadah dan memuji keagungan Allah, sang pencipta. Mulia dan sucinya Maryam diabadikan Allah dalam Al-qur’an, bahkan ada salah satu surah dalam Al-qur’an yang menyertakan namanya, Surah Maryam.

“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu, dan melebihkan kamu atas segala wanita yang ada di dunia (Q.S Ali Imran : 42)

Demikianlah Allah memilih Maryam dan melebihkannya atas segala wanita yang ada di dunia. Sehingga, dengan mengetahui kisah kehidupan Maryam, kita bisa mengambil hikmah dan inspirasi darinya. Menjadi cerminan untuk semua wanita muslimah yang di seluruh dunia.

Maryam Lahir dalam Keluarga Imran

Ayah Maryam adalah Imran bin Yasim dan ibunya bernama Hannah binti Yaqudz. Mereka adalah kalangan kaum yang saleh di Nazareth, sebuah tempat sebelah utara Israel. Hannah, Ibunda Maryam selalu menjaga kesucian dirinya dan patuh terhadap perintah Allah SWT. Imran juga adalah seorang yang menaati perintah Allah SWT.

Meskipun sudah lama menikah, Imran dan Hannah belum juga dikaruniai seorang anak. Padahal, hal ini adalah sesuatu yang selalu didamba-dambakan oleh Hannah. Hannah selalu memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk memberikan mereka keturunan.

Sehingga suatu hari, Allah mengabulkan doa Hannah tersebut, di usia mereka yang cukup tua. Namun, tiada yang mustahil bagi Allah jika Dia menghendaki. Imran dan Hannah, sebenarnya menginginkan anak laki-laki, namun Allah menghendaki anak perempuanlah yang lahir.

Hannah sedikit kecewa dengan hal ini, namun demikian, Hannah selalu mendoakan anaknya dalam kandungan, seperti yang termaktub dalam Al-Qur’an surah Ali-Imran:35

“(Ingatlah), ketika istri Imran berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan untuk-Mu anak yang ada dalam kandunganku agar menjadi anak yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Maka terimalah ia dariku. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Sungguh betapa mulia perbuatan Hannah. Wajarlah kelak Maryam menjadi wanita paling suci yang dipilih oleh Allah. Seorang Ibu yang hebat telah mendoakannya sejak dalam kandungan. Mendoakannya untuk menjadi anak yang saleh, yang senantiasa ingat akan kebesaran Allah SWT, pencipta alam semesta dan segala isinya.

Tidak salah Al-Qur’an begitu memuliakan keluarga Imran. Karena ketaqwaan dan kepatuhannya beribadah kepada Allah SWT, keturunan keluarga Imran menjadi baik dan merupakan orang yang berserah diri pada-Nya. Termasuk betapa sabarnya Hannah dan Imran menantikan keturunan, hingga pada akhirnya lahirlah seorang anak perempuan, Siti Maryam, wanita suci, Ibunda nabi Isa AS.

“Sesungguhnya Allah telah melebihkan Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran dari segala isi alam (di zaman mereka masing-masing)” (Ali-‘Imran:33)

Demikianlah Al-qur’an mengabadikan kisah keluarga Imran, keluarga yang taqwa terhadap Allah, hingga dikaruniai putri yang suci dan mulia, Siti Maryam.

Maryam Melahirkan Nabi Isa AS

Maryam, wanita suci yang selalu menjaga sikapnya semata-mata karena Allah SWT, berdiam diri di Baitul Maqdis. Nabi Zakariyya yang tidak lain adalah pamannya sendiri, selalu rutin mengunjungi putrinya itu untuk mengantarkan makanan, namun anehnya makanan selalu tersedia untuk Maryam di sana. Hingga nabi Zakariyya bertanya,

“Hai Maryam, darimana kamu memperoleh makanan ini? Maryam menjawab “Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya, Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas (QS. Ali ‘Imran:37)

Jawaban Maryam membuat nabi Zakariyya tercengang dan mengagumi putrinya itu. Kiranya Allah telah menjaga akhlaknya dan memuliakannya sehingga menjadi putri yang taat kepadaNya. Hingga suatu hari, Maryam didatangi oleh seorang pemuda yang menyamar jadi Malaikat Jibril. Malaikat Jibril datang untuk menyampaikan wahyu Allah kepada Maryam.

“(Ingatlah) ketika malaikat berkata, “Hai Maryam, sesungguhnya Allah memberi kabar gembira kepadamu dengan kalimat daripada-Nya berupa seorang putra namanya Al Masih Isa anak Maryam. Ia seorang yang terkemuka di dunia dan di akhirat dan salah seorang yang dekat kepada Allah” (Q.S Ali ‘Imran:45)

Dan Maryam menjawab, “Bagaimana aku bisa melahirkan seorang putera, padahal tidak seorang lelakipun yang menyentuhku?” Allah berfirman, “Begitulah Allah menciptakan apa saja yang Dia kehendaki.” Apabila Allah akan menciptakan sesuatu, Dia hanya berkata, “Jadilah!” lantas terjadilah dia.” (Q.S Ali ‘Imran:47)

Demikianlah pada akhirnya Maryam mengandung dan seluruh masyarakat kaumnya mempergunjingkannya. Maryam dianggap wanita penzina. Bagaimana mungkin seorang wanita bisa hamil tanpa disentuh oleh laki-laki manapun?

Hati Maryam sedih mendengar hal ini, namun demi bayi yang diberikan Allah pada rahimnya, Maryam berusaha bersabar, dan bertahan. Hingga kandungannya mencapai usia 9 bulan, dan lahirlah nabi Isa AS.

Demi membela kehormatan Ibunya, dengan izin Allah, nabi Isa dapat berbicara sewaktu bayi. Nabi Isa mengatakan bahwa Ibunya bukan seorang pezina, sesungguhnya dia wanita suci lagi mulia yang dipilih oleh untuk melahirkannya. Sesungguhnya, dia adalah hamba yang dekat kepada Allah SWT nantinya.

Kisah Maryam begitu menyentuh hati. Demi mempertahankan anak dalam kandungannya, beliau rela dihina dan dicaci maki oleh kaumnya kala itu. Tanpa bantuan seorangpun, Maryam melahirkan Isa. Dengan izin Allah, hal itu terjadi. Allah memberi rezeki makanan dan air yang mengalir untuk Maryam dan bayinya, Isa AS.

Begitulah, Ibunda Nabi Isa AS, Siti Maryam wanita yang suci nan mulia. Bahkan Rasululullah SAW bersabda, “Pemuka wanita ahli surga ada empat. Ia adalah Maryam Binti Imran, Fatimah Binti Rasulullah SAW, Khadijah binti Khawailid, dan Asiyah” (HR. Hakim dan Muslim).

Demikianlah, kisah Maryam dapat menjadi inspirasi bagi kita perempuan muslimah, untuk  selalu menjaga kesucian diri, bersabar dan tabah di kala cobaan melanda, serta selalu bertawaqal kepada Allah SWT, sang pencipta alam semesta beserta segala isinya.

Sumber : dalamislam.com

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?

dalamislam

Written by dalamislam