Kisah Zainab Binti Jahsy Terlengkap

Pada masa kenabian, Rasulullah menikah dengan beberapa wanita termasuk di antaranya Zainab binti Jahsy. Siapakah Zainab binti Jahsy? Untuk mengenal lebih mengenai Zainab binti Zahsy simak ulasan di bawah.

Biografi Zainab binti Jahsy

Zainab binti Jahsy Al-Asadiyyah lahir pada tahun 590 M. Ayahnya bernama Jahsy bin Riab bin Yuammar bin Shabrah bin Kabir bin Ghanam bin Dudan adalah seorang golongan Quraisy yang dermawan dan berakhlak baik dan Ibunya bernama Umaimah binti Abdul Muthalib bin Hasyi bin Abdul MAnaf bin Qushay. Ibunya adalah bibi dari Rasulullah SAW.

Zainab binti Jahsy sejak kecil bersama keluarganya telah masuk Islam dan hijrahn ke Madinah bersama-sama. Zainab pun merupakan wanita yang taat beragama, dermawan dan baik. Zainab memiliki sifat mulia dan cantik serta merupakan wanita terpandang di Makkah.

Tidak heran karena Zainab dibesarkan di keluarga yang terhormat, hingga orang Quraisy menyebutnya dengan perempuan Quraisy yang cantik.

Zainab Menikah dengan Zaid bin Haritsah

Sebelum menjadi istri Rasulullah SAW, Zainab adalah seorang istri dari Zaid bin Haritsah dan namanya adalah Barrah. Hal ini tercatum dalam hadist Al-Bukhari dan Muslim.

“Namaku Barrah, akan tetapi Rasulullah SAW kemudian memberiku nama Zainab.” (HR. Muslim dalam AlAdab 14 : 140)

Zaid bin Haritsah adalah seorang hamba sahaya Khadijah binti Khuwalid dan Rasuullah SAW. Zaid sebelum menikah dengan Zainab, tinggal bersama Rasulullah SAW serta mendapatkan kenikmatan keislamannya. Zaid bin Haritsah di persaudarakan dengan Hamzah bin Abdul Muthalib oleh Rasul ketika Rasul hijrah ke Madinah.

Ketika sampai di Madinah, Rasul meminang Zainab binti Jahsy untuk Zaid bin Haritsah. Awalnya, Zainab menolak menikah dengan Zaid. Rasulullah SAW menerangkan kedudukan Zaid bin Haritsah di hati beliau dalam firman Allah SWT QS. Al-Ahzab : 36

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabil Allah an Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”

Akhirnya Zainab menikah dengan Zaid sebagai perintah dari Allah SWT, meskipun sebenarnya Zainab tidak menyukai Zaid. Zainab kemudian menceritakan masalah kurang harmonisnya kedekatan dengan Zaid dan Rasul menyarankan untuk tetap bersabar.

Zaid berusaha untuk bertahan namun tetap terjadi talak perceraian antara Zainab dengan Zaid bin Haritsah.

Zainab Menjadi Istri Rasulullah SAW

Rasulullah menikah dengan Zainab pada bulan Dzulqoidah tahun 5 H. Zainab adalah janda umur 30 tahun dan mantan istri Zaid bin Haritsah, bekas hamba Rasulullah. Pernikahan Zainab binti Jahsy disebut-sebut adalah perintah Allah SWT setelah peristiwa talak.

Setelah masa iddahnya, Rasulullah berkata kepada Zaid, “Pergilah, sebut aku pada dirinya.” Nabi hendak menikahinya. Zaid berkata, “Saat Rasulullah menyatakan itu, aku pun merasa gembira. Aku pergi menemuinya, saat berdiri di depan pintunya, kusampaikan padanya, ‘Wahai Zainab, Rasulullah mengutusku dan menyebut dirimu’. Zainab menjawab, ‘Aku belum mau berbicara apapun hingga aku mendapat keputusan dari Rabb-ku’. Kemudian ia pergi menuju ruang shalatnya (Riwayat Muslim dalam kitab an-Nikah, 1428)

Banyak yang menggunjing Rasulullah SAW lantaran menikahi Zainab, seorang mantan istri dari anak angkatnya sendiri. Mereka orang yang tidak menyukai Rasul pun berkata, “Muhammad ini mengharamkan (mantan) istri dari anak, tapi dia sendiri menikahi (mantan) istri anaknya.

Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 37 menerangkan bahwa Zainab akan menjadi istrinya dalam isi kandungan yang tersembunyi.

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Dan (ingatlah) ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah lipahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya. Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah sedang kamu menyebunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih kamu takutiMaka tatkala Zaid yang telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), kami kawinkan kamu dengan dia upaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untu mengawini (istri-istri anak-anak angkat itu) apabila anak-anak angkat itu menyelesaikan keperluannya dari pada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi .” (QS. Al-Ahzab : 37)

Perayaan pernikahan Rasulullah SAW dengan Zainab binti Jahsy adalah pesta yang paling besar dan paling utama dibandingkan pesta pernikahan dengan istri-istri Rasul yang lain. Rasul bahkan menjamu tamu yang datang dengan roti dan daging sampai para tamu kenyang semua.

Meninggalnya Zainab binti Jahsy Dan Kedudukan Di Hati Rasul

Zainab meninggal setelah wafat nabi Muhammad SAW tepat ketika masa kekhalifahan Umar bin khattab tahun 20 H. Zainab bin Jahsy meninggal pada umur 53 tahun dan dimakamkan di Jannatul Baqi.

Zainab semasa hidupnya adalah seorang Ummu Mukminin yang memiliki kedudukan di hati Rasulullah SAW hingga tutup usia.

Kedudukan Zainab di hati Rasul bahkan terlukis dalam penilaian Ibunda Aisyah. Beliau mengatakan, “Zainab adalah wanita yang menyamaiku dibanding istri-istri Nabi yang lain. Aku tak pernah melihat seorang wanita pun yang lebih baik agamanya, lebih bertakwa, lebih jujur ucapannya, lenih menyambung silaturahim, lebih besar sedekahnya, lebih semangat mengkhidmatkan diri dalam beramal dan mendekatkan diri kepada Allah dibanding dirinya. Hanya saja (kekurangannya), ia agak keras da cepat marah. Namun, ia cepat kembali.” (HR. Muslim dalam kitab Fadhail ash-Shahabah 2442 dan an-Nasai 3946)

Sumber : Dalamislam.com
Kisah Zainab Binti Jahsy Terlengkap
Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi.


Posted

in

by