Konsep Wakaf dalam Ekonomi Islam dan Praktiknya di Indonesia _*

wakaf adalah


Fenomena wakaf kini kian diagalakkan. Gembar gembor wakaf sebagai salah satu instrumen keuangan Islam menjadi sangat penting untuk terus digaungkan.

Bila mengingat sejarah, wakaf menjadi salah satu instrumen yang banyak memberikan kesejahteraan bagi umat. Salah satu yang paling terkenal adalah wakaf sumur Usman bin Affan. Wakaf tersebut adalah hasil negosiasi Usman bin Affan dengan seorang Yahudi yang menguasai sebuah sumur. Saat itu semua warga yang ingin memperoleh air, ia harus membelinya dari orang yahudi tersebut.

Melihat kondisi tersebut, Usman bin Affan hendak membeli sumur tersebut. Karena orang yahudi melarang keseluruhan sumur di jual akhirnya disepakati setengahnya untuk Usman bin Affan. Dikarenakan setengah kepemilikan milik Usman, maka operasionalisasi dari sumur tersebut diselang-seling setiap harinya. Sehari milik Yahudi sehari milik Usman. Pada saat harinya Usman, ia menggratiskan sumur tersebut. Seiring berjalannya waktu, masyarakat tidak ada lagi yang mengambil air dihari miliknya Yahudi. Semua menunggu hari kepemilikannya Usman. Alhasil sumur menjadi sepi dan Yahudi menjual semua kepemilikan sumur kepada Usman bin Affan.

Sehari milik Yahudi sehari milik Usman. Pada saat harinya Usman, ia menggratiskan sumur tersebut. Seiring berjalannya waktu, masyarakat tidak ada lagi yang mengambil air dihari miliknya Yahudi. Semua menunggu hari kepemilikannya Usman. Alhasil sumur menjadi sepi dan Yahudi menjual semua kepemilikan sumur kepada Usman bin Affan.

Sumur tersebut hingga saat ini banyak menghasilkan manfaat. Hasil dari kebermanfaatan sumur tersebut kemudian disisihkan sebagian untuk umat dan sebagian lagi ditabung untuk menghasilkan wakaf baru. Bahkan, Usman bin Affan kini memiliki rekening atas nama dirinya di salah satu Bank di Saudi.

Selain Usman bin Affan, kebermanfaatan wakaf juga dihasilkan oleh khalifah lain seperti Umar bin Khattab yang mewakafkan tanah di khaibar. Ali bin Abi Thalib mewakafkan hartanya di Yanbu dan Khaibar.

Begitu besar manfaat wakaf yang dihasilkan. Untuk bisa lebih memahami tentang wakaf maka pada artikel ini akan dijelaskan secara mendalam tentang konsep, contoh dan praktiknya.

Baca Juga: Persiapkan Tabungan Umroh dari Sekarang

Definisi

Wakaf secara bahasa berasal dari kata waqafa yang memiliki arti yaitu berhenti, diam, atau menahan.

Ulama Yusuf bin Hasan mendefinisikan dari segi bahasa yaitu menahan sesuatu.

Definisi menurut syara‘ adalah menahan harta-benda yang memungkinkan untuk mengambil manfaatnya beserta kekalnya dzat harta-benda itu sendiri, dilarang untuk menasaharrufkan dzatnya. Sedang menasharrufkan kemanfaatannya itu dalam hal kebaikan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menurut Imam An-Nawawi penulis kitab Riyadhus Shalihin dan Hadist al-arbain wakaf adalah menahan harta yang dapat diambil manfaatnya untuk orang lain serta menggunakannya untuk kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah.

Kemudian, Abu Yusuf mendifinisikannya sebagai menahan suatu benda menjadi milik Allah SWT, dan memberikan manfaat dari harta tersebut untuk siapa saja yang membutuhkannya.

Baca Juga: Jual Beli dalam Islam Serta Contohnya

Landasan Hukum

Wakaf

Dalil dari anjuran untuk berwakaf ada beberapa dalil, diantaranya terdapat pada QS. Ali-Imran ayat 92 yang artinya,

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.

Kemudian terdapat juga pada QS. Al-Baqarah ayat 267 yang artinya,

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Meskipun tidak secara tersurat disebutkan “wakaf” tapi secara substansial ayat tersebut memiliki inti yang sama.

Lalu pada terdapat pula pada hadist yaitu Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Umar pernah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, lalu ia menghadap Nabi SAW mohon petunjuk beliau tentang pengelolaannya seraya berkata,

“Wahai Rasulullah, saya mendapatkan tanah di Khaibar. Yang menurut saya, saya belum pernah memiliki tanah yang lebih baik daripada tanah tersebut. Beliau bersabda, “Kalau engkau mau, kau tahan pohonnya dan sedekahkan buahnya”

Lalu Umar mewakafkan tanahnya dengan syarat pohonnya tidak boleh dijual, tidak boleh dihadiahkan, dan tidak boleh diwarisi. Hasil dari pohon tersebut disedekahkan kepada kaum fakir, kerabat-kerabat, budak-budak, orang-orang yang membela agama Allah, tamu, dan musafir yang kehabisan bekal. Namun tidak masalah bagi pengurus wakaf untuk memakan hasilnya dengan baik dan memberi makan teman-temannya yang tidak memiliki harta. (Muttafaq ‘alaih. HR. Bukhari, no. 2772; Muslim, no. 1632).

Secara landasan hukum yang legal di Indonesia, telah ada undang yang mengatur tentang ini. Yaitu Undang-Undang Republik Indonesia nomor 41 tahun 2004.

Baca Juga: Pembiayaan Syariah dan Contohnya

Wakaf

Rukun dan Syarat

Sebagaimana sebuah ibadah, pasti harus ada rukun dan syarat yang menyertai agar suatu ibadah secara utuh dapat dikerjakan tanpa cacat. Begitupun dengan instrumen ini. Berikut adalah lima rukun beserta syaratnya.

1. Al-Waqif (Orang yang Berwakaf)

Rukun pertama adalah adanya orang yang berwakaf. Mereka yang ingin berwakaf harus memenuhi beberapa syarat. Diantaranya, orang yang berwakaf harus merdeka dan memiliki secara penuh harta yang akan diwakafkan. Tidak boleh harta tersebut dimiliki oleh orang lain ataupun masih dalam tanggungan hutang.

Kemudian orang yang berwakaf juga harus berakal sempurna. Apa maksudnya? Orang yang berakal, sederhananya adalah orang yang bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sedangkan yang tidak waras alias gila adalah orang yang tidak bisa membedakan baik dan buruk diharamkan untuk berwakaf.

Orang yang berwakaf juga harus cukup secara umur. Ukurannya adalah mereka yang sudah berusia dewasa dan sebagaimana syarat sebelumnya yaitu berakal sempurna.

Terakhir, waqif tidak boleh orang yang sedang tertekan. Mereka yang berwakaf harus murni keikhlasannya dan jernih pikirannya untuk mewakafkan hartanya.

2. Al-Mauquf (Benda yang Diwakafkan)

Rukun selanjutnya adalah terkait benda yang diwakafkan. Benda yang berupa harta tersebut juga harus memenuhi syarat agar dapat diwakafkan. Beberapa syarat yang harus dipenuhi diantaranya yaitu harta diketahui wujudnya. Sebuah harta yang tidak jelas penampakannya alias gharar dilarang untuk diwakafkan.

Benda yang diwakafkan juga harus dimiliki secara penuh oleh pemiliknya. Tidak boleh milik orang lain ataupun masih ditanggung dalam hutang.

Hartanya tidak memiliki hak khiyar (hak yang dimiliki oleh pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi jual beli untuk melanjutkan transaksi tersebut atau membatalkannya). Sehingga ketika harta sudah sah untuk diwakafkan maka tidak bisa dibatalkan.

3. Mauquf Alaih

Mauquf Alaih adalah pihak-pihak yang akan menerima manfaat dari wakaf yang dikelola. Ketika seseorang hendak mewakafkan hartanya maka harus ditentukan siapa penerima manfaat tersebut. Misal, kalau kamu mewakafkan harta berupa bangunan rumah maka kamu bisa state bahwa penerima manfaat atas rumah tersebut adalah anak-anak di sekitar rumah karena bangunan rumah tersebut akan dijadikan tempat pendidikan. Untuk itu, Mauquf Alaih juga harus diketahui secara pasti keberadaannya.

Tujuan dari penggunaannya tidak boleh diarahkan kepada hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT.

Baca Juga: Panduan Lengkap Investasi Properti

4. Sighah

Sighah adalah ijab kabul. Karena aktivitas ini melibatkan pihak yang berwakaf dan yang akan mengelolanya maka perlu ada ijab kabul untuk memperkuat akad yang digunakan. Ijab kabul/sighah dapat diucapkan menggunakan bahasa apapun dengan tujuan untuk mewakafkan. Ucapan sederhananya seperti, “aku mewakafkan harta ini untuk bla bla bla bla”

5. Nazhir

Nazhir adalah pihak yang mengelola wakaf. Bila orang yang berwakaf tidak menuntut bahwa ia haruslah orang Islam, maka dalam konteks nazhir orang yang mengelolanya haruslah beragama Islam.

Selain itu, nazhir haruslah yang sudah aqil baligh juga berakal secara sempurna. Nazhir juga haruslah yang mampu menjaga amanah dan terpercaya. Serta memiliki kemampuan jasmani dan rohani untuk menjalankan amanah waqaf. Dikarenakan adanya ketentuan yang diatur dalam pengelolaan harta wakaf, maka nazhir perlu dilatih manajemen harta instrumen ini.

Praktiknya di Indonesia

Wakaf

Hadirnya instrumen ini di Indonesia sudah mulai ada pada tahun 1922 sebagaimana penelitian Koesoemah Atmaja. Pada penelitian tersebut ia menyebutkan bahwa telah terdapat wakaf di seluruh nusantara, mulai dari Aceh, Gayo, Tapanuli, Jambi, Palembang, Bengkulu, Minahasa, Gorontalo (Sulawesi), Lombok, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat dengan istilah serta benda wakaf yang berbeda-beda.

Pada era reformasi, praktik ini diatur dengan cukup rapih dengan dihadirkannya undang-undang wakaf. Menurut Direktorat Pemberdayaan Wakaf tahun 2006, penyusunan undang-undang ini didasari usulan pembentukan BWI berdasarkan surat Menteri Agama pada era Presiden Megawati Soekarnoputri, surat Menteri Agama Nomor: MA/320/2002 tertanggal 5 September 2002 dalam rangka menampung implementasi wakaf produktif melalui wacana wakaf uang sehingga perlu adanya lembaga khusus yang menjadi nazhir secara nasional.

Hingga saat ini, segala macam hal terkait dengan wakaf diatur oleh lembaga resmi yang memang khusus mengelolanya yaitu Badan Wakaf Indonesia.

Baca Juga: Cara Mengetahui Investasi Bodong dan Menghindarinya

Praktik Kontemporer

Wakaf

Jikalau kamu mengira bahwa wakaf hanya berupa benda-benda tak berpindah seperti tanah kuburan dan masjid berarti kamu masih perlu tahu lebih dalam tentang ini.

Pada era saat ini, wakaf sudah ada yang bersifat produktif. Inilah yang terus digalakkan oleh berbagai praktisi ekonomi islam. Hal ini dikarenakan manfaat dari wakaf produktif yang memiliki efek multiplier.

Secara definisi, wakaf produktif adalah sebuah bentuk pengelolaan donasi yang diperoleh dari umat untuk kemudian diproduktifkan hingga mampu menghasilkan keuntungan yang kemudian disalurkan kepada penerima manfaat atau bisa juga untuk menghasilkan objek wakaf yang baru.

Wakaf produktif yang terkenal ada dua yaitu uang dan melalui uang.

Apa
bedanya?

Wakaf uang adalah yang langsung diberikan dalam bentuk uang tunai tanpa ada arahan akan digunakan untuk objek apa. Sedangkan melalui uang adalah wakaf yang diberikan secara tunai dan sudah diketahui objek yang akan didanai.

Salah satu institusi yang sudah menerapkan konsep ini adalah Dompet Dhuafa. Dengan dana wakaf, institusi ini berhasil membuat apotek dan klinik. Ada juga beberapa proyek wakaf yang dikerjakan oleh dompet dhuafa. Selain dompet dhuafa, institusi lain yaitu global wakaf juga menggencarkan gerakan wakaf produktif. Ada empat sektor yang ditembak oleh institusi ini yaitu pangan, pendidikan, kesehatan dan ekonomi produktif.

Selain itu platform-platform untuk memperkuat berkembangnya wakaf produktif juga sudah mulai banyak dihadirkan. Platform tersebut berbentuk crowdfunding. Platform tersebut diantaranya kitawakaf dan wakavia.

Baca Juga: Apakah P2P Lending Halal?

Kesimpulan

Itulah penjelasan lengkap terkait dengan wakaf yang perlu kamu ketahui. Pada dasarnya instrumen ini masih perlu digalakkan karena hadirnya instrumen ini dapat memberikan kebermanfaatan yang luas untuk kesejahteraan masyarakat.

Jika kamu tertarik dengan konten keislaman seperti, kamu bisa juga melihat tulisan lainnya di Topik Islam. Jika kamu lebih menyukai konten video kamu bisa mengunjungi Channel Youtube Qazwa.

Source : qazwa.id
Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?