Lelucon Bisa Menjadi Mekanisme Penanggulangan Stres, Berikut 4 Gaya Humor Menurut Psikolog _*

Suara.com – Banyak orang mengatakan bahwa orang humoris menutupi rasa sedihnya dengan membuat lelucon agar orang lain tertawa dan tidak mengetahui rasa sakit mereka, baik secara emosional maupun psikis.

Psychology Today juga menuliskan bahwa humor memiliki banyak fungsi berbeda dalam kehidupan masing-masing orang.

Terkadang seseorang menggunakan humor sebagai mekanisme untuk menanggulangi (koping) ketika sesuatu tidak berjalan dengan baik.

Para peneliti menggunakan berbagai skala untuk menilai sifat humor seseorang, tetapi yang paling umum sejauh ini adalah “Kuisioner Gaya Humor”.

Baca Juga:
Dijodohkan dengan Larissa Chou, Zikri Daulay Cuma Anggap Lelucon

Kuisioner ini dikembangkan oleh psikolog humor Rod Martin dan murid-muridnya ini digunakan untuk menilai bagaimana orang-orang menggunakan humor dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Ilustrasi seseorang sedang tertawa. [Unsplash/Ivana Cajina]
Ilustrasi seseorang sedang tertawa. [Unsplash/Ivana Cajina]

Jawaban para peserta terbagi dalam empat gaya humor, yakni:

Kecenderungan untuk berbagai lelucon dengan orang lain, melontarkan lelucon dan mengisahkan cerita lucu agar membuat orang lain tertawa.

Gaya humor ini bertujuan untuk membangun sebuah hubungan dan agar orang lain merasa nyaman.

Kecenderungan untuk mempertahankan pandangan hidup yang lucu, bahkan ketika tidak dengan orang lain. Menggunakan humor untuk mengatasi stres atau menghibur diri dengan humor.

Baca Juga:
Mengadu karena Gurunya Lempar Lelucon Cabul, Siswi Ini Malah Dituntut Rp 3 M

Kecenderungan menggunakan humor untuk meremehkan, merendahkan, atau memanipulasi orang lain.

Misalnya menggunakan ejekan, lelucon yang ofensif atau membuat orang lain tersinggung, berpotensi menggunakan lelucon seksis dan rasis.

Kecenderungan untuk menghibur orang lain dengan menggunakan diri sendiri sebagai objek, atau humor yang merendahkan diri sendiri. Misalnya, tertawa bersama orang lain ketika diejek.

Biasanya humor ini digunakan untuk menyembunyikan perasaan sebenarnya dari diri sendiri dan orang lain.

Peneliti mengategorikan affiliative humor dan self-enhancing humor sebagai gaya humor positif, sementara agressif humor dan self-defeating humor sebagai gaya yang negatif.


Sumber : suara.com
Featured Image : unsplash.com
Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahli Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihiadada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?