Lenny Marlina: Sepenuhnya untuk Keluarga | Republika Online | Astaghfirullah

Artis Lenny Marlina mengaku punya kebiasaan khusus setiap 1 Muharam. Dia membaca doa khusus di akhir dan awal tahun. Dan itu dilakoninya selama beberapa tahun terakhir. ”Muharam kan tahun barunya orang Islam. Beda dengan tahun baru biasa. Sebagai orang Islam saya harus menghargainya,” katanya. Karena itulah ada ritual sendiri yang harus ia jalani.


Doa akhir tahun dibacanya menjelang Maghrib 1 Muharam. Sedang doa awal tahun dibaca 1 Muharam siang setelah shalat Dhuha dan puasa sepanjang hari. ”Saya berharap memperoleh berkah,” ujarnya. Bagi perempuan yang menikah dengan Bambang W Soeharto, mantan ketua Kosgoro dan Ketua Komnas HAM, Muharam juga memiliki makna khusus. Putra bungsunya lahir bertepatan dengan awal tahun Hijriah. Salah seorang leluhurnya dari Bandung juga lahir di bulan Muharam. Kanjeng Muharam. Begitu dia menyebutnya.

Dalam hal ibadah, lenny memandang ibadah sebagai urusan personal. Selaku orang tua, katanya, ia hanya bisa memberi contoh. Sebagai istri dia cuma menganjurkan. ”Dalam agama tak boleh ada paksaan.” Toh, ia mengaku bersyukur karena suami dan anak-anaknya kini rajin shalat. Bagi seorang istri dan ibu, katanya, perubahan itu rahmat yang luar biasa. ”Saya harus mensyukurinya,” katanya.

Untuk urusan doa, Lenny mengaku mendapat bekal dari Ny. Suba dari Sawangan Bogor. Perempuan itulah yang mengenalkan dia pada dzikir dan wirid yang masih dilakoninya hingga kini. Dengan dzikir, ia menghitung langkah setiap lari pagi. Dengan dzikir pula ia mengiring seluruh kegiatan. Khasiatnya, kata dia, ia lebih tenang. ”Saya tak gampang sakit hati.”

Dan lembaran-lembaran bertuliskan doa yang dimiliknya ia kumpulkannya dalam satu wadah. ”Kotak itu bakal jadi warisan paling berharga untuk keturunan saya.” Ia menyimpan banyak buku doa dalam kotak tersebut. Dan kotak itu selalu berada di dekatnya, terutama menjelang dan sesudah shalat.

Lenny mengajak suaminya pertama melaksanakan umrah saat memasuki tahun ketiga pernikahan mereka. Tahun berikutnya, bersama suaminya ia menunaikan ibadah haji. Lenny pun lalu meninggalkan dunia selebritis. “Keluarga.” Itu satu-satunya alasan dia tak lagi banyak tampil di layar kaca. Di samping itu, ia takut kerjasama dengan kru sinetron terganggu. ”Saya takut mengecewakan kru,” ujarnya.

Pembuatan sinetron, menurutnya, banyak menyita waktu. Jadwal syuting kadang molor. Padahal, dia ingin bisa melayani keluarganya sepanjang hari. ”Sebentar-sebentar saya cemas karena sudah waktunya suami pulang. Sedang saya masih di tempat syuting.”

Karena itu dia kembali ke keluarga sepenuhnya. Jika ada kegiatan yang masih dilakukannya hanyalah bisnis yang dijalaninya dari rumah dan kegiatan sosial. Atau kadang diminta menjadi pembicara seminar yang tak terlalu banyak memakan waktu. Kini hampir sepanjang waktu ia berada di rumah. ”Saya dulu banyak dosa. Kini saatnya saya bertobat buat bekal akhirat.” Waktu luang yang dianggapnya sebagai rahmat dan anugerah kini diisinya dengan memperbanyak ibadah. ”Bukan hanya shalat. Saya juga mengurus madrasah.”

Dengan banyak ibadah, ia mengaku hubungan vertikalnya makin dekat. Buahnya jika kini ia merasa sedikit saja berbuat salah, langsung mendapat teguran. ”Jadinya harus lebih hati-hati.” Namun ia mengaku lebih tenang karena bisa mencurahkan hidupnya dengan melayani keluarga. ”Bukankah itu juga ibadah?”tid/Dokrep/Maret 2001

Sumber : republika.co.id

Featured Image : freepik

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahli Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published.