Lola Amaria: Dekat pada Allah Saat Terjepit | Republika Online | Astaghfirullah

Allah SWT itu Maha Pemurah dan Penyayang. Ia akan memberikan berbagai kenikmatan kepada hamba-hamba-Nya. Hanya saja kenikmatan itu tidak akan datang begitu saja. Ia harus diraih dengan bekerja keras dan berdoa


Iman seseorang, menurut ulama besar Imam Ghazali, seringkali naik dan turun. Ia sangat terkait dengan kondisi seseorang. Apabila dalam kondisi menggembirakan, misalnya memperoleh kemudahan hidup baik berupa rizki yang melimpah atau kesehatan yang prima, manusia acapkali lupa bahwa semua itu adalah anugerah dari Allah. Sebaliknya, apabila manusia dalam kesusahan bisa berupa musibah, rizki yang seret, sakit, dan lainnya  barulah ia teringat kepada Allah SWT.

Ia berharap dan berdoa agar Tuhan segera mengeluarkannya dari segala kesulitan. Hal yang demikian juga dialami Lola Amaria, artis yang melejit namanya ketika memerankan tokoh Tinung dalam film Ca Bau Kan. Walaupun musibah itu ‘kecil’ saja, namun menurut Lola, telah memberi pengaruh besar dalam dirinya. Peristiwa ‘kecil’ itu adalah ia ditodong beberapa garong saat mengendarai mobil sendirian di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, persis di depan Balai Kartini, beberapa tahun lalu.

Saat itu, Lola menceritakan, lalulintas dalam keadaan macet, dan hari pun sudah beranjak malam. Di depan mobilnya ada truk besar, dan di sebelahnya deretan kendaraan ngantre padat. ”Praktis saya hanya menunggu jalannya truk di depan saya.” Ketika itu, karena harus menghubungi seseorang ia masih sempat bertelepon-ria. ”Tiba-tiba ada tiga anggota Kapak Merah nyamperin saya, terus minta handphone,” kata pemeran utama film Novel Tanpa Huruf ‘R’ yang bercerita tentang pencarian Tuhan itu.

Menurutnya, yang ada saat itu perasaan takut dan khawatir bercampur aduk. Muncul keinginan memberikan HP-nya kepada para garong, namun di saat yang sama muncul dalam pikirannya ‘enak banget kasih HP. Belinya saja dengan peras keringat’. Dalam kondisi seperti itu, Lola sempat menyembunyikan HP-nya. Apa yang terjadi? Tiga anggota Kapak Merah itu marah dan menggedor-gedor kaca mobilnya dengan kapak mereka.

”Saya semakin bingung dan panik. Akhirnya saya pasrah saja kepada Allah agar melindungi saya. Segala doa pun saya panjatkan. Pendek kata, saya merasa sangat dekat kepada Tuhan.”

Ternyata, lanjut Lola, dalam keadaan terjepit seperti itu Allah mendengarkan doanya. Allah menolongnya lewat pengendara mobil di sebelahnya yang memberi jalan kepada mobil Lola. ”Saya refleks langsung menyalip dan menjalankan mobil di depan kendaraan orang itu. Ternyata para perampok itu juga ngacir. Semua itu berjalan hanya dalam hitungan detik. Alhamdulillah, Allah masih kasihan pada saya,” ujar artis yang sedang belajar menjadi produser film ini.

Lola menuturkan, peristiwa semacam itu sebetulnya juga banyak dialami orang lain. Namun, katanya, bagi dirinya pengalaman itu sangat membekas. Antara lain ia semakin dekat kepada Allah. Tidak saja di waktu susah, tapi terlebih lagi di kala senang. Dari peristiwa itu, ia juga semakin yakin bahwa Allah tidak akan memberi kesusahan atau kesulitan di luar batas kemanpuan hamba-Nya. Menurutnya, Allah itu Maha Pemurah.

Berbagai kenikmatan telah dan akan selalu diberikan kepada manusia, termasuk dirinya. Hanya saja, ia melanjutkan, kenikmatan itu tidak datang begitu saja. Ia harus diraih dengan bekerja keras dan berdoa. Dengan filsafat hidup seperti itu, Lola mengaku menjalani hidup mengalir saja seperti air sungai. Bekerja keras dan kemudian berserah diri kepada Tuhan. Mengenai hasilnya, itu bukan yang utama. Ia pun tidak pernah memasang target yang muluk-muluk dalam hidupnya.

Ia khawatir bila memasang target dan ternyata tidak terpenuhi bisa menyebabkan frustasi. ”Sebagai misal, tahun ini saya bikin film. Kalau memang tidak berhasil, minimal bisa belajar bikin film. Itu sudah Alhamdulillah,” tutur model wajah Femina tahun 1995 ini. ”Jadi yang penting bekerja dan berusaha. Jangan pernah berhenti,” lanjut Lola yang mengukur kesuksesan bukan dari segi materi tapi seberapa jauh ia bisa berbuat bagi orang lain sesuai bidangnya.

Menurut Lola, kegagalan itu hal yang biasa. Ia mencontohkan, ketika seseorang mengharapkan nilai 9 tapi ternyata hanya mendapat 5, itu bisa dibilang gagal. ”Tapi, kegagalan itu jangan disesali atau diratapi. Namun, justru harus dijadikan untuk memacu diri.” Lola mengakatan, apa yang telah diraihnya kini belum maksimal. Meskipun begitu ia merasa bersyukur bahwa ia sudah menikmati membintangi beberapa film dan semuanya menjadi peran utama.

”Mungkin dibanding orang-orang seusia saya, saya mempunyai point untuk menuju ke langkah selanjutnya.” Keberhasilan Lola membintangi sejumlah film, katanya, karena akting merupakan panggilan hatinya. Menurutnya, ia tidak akan bisa bekerja maksimal bila pekerjaan itu tidak ia senangi. Walaupun begitu, katanya, ia merintis karirnya bukan berawal dari film.

Perjalanan karir Lola Amaria berangkat dari model dan menjadi wajah Femina di tahun 1995. Ia lalu menjadi bintang iklan dan kemudian mencoba terjun di sinetron. Nama Lola mulai dikenal masyarakat melalui sinetron ‘Penari’ meskipun tidak menjadi peran utama. Pada 1999, gadis kelahiran Jakarta, 30 Juli 1977 ini pun merambah ke dunia film. Tabir adalah film pertama yang dibintanginya. Dalam film yang menceritakan tentang korban kerusuhan Mei 1998 itu ia menjadi pemeran pertama.

Setelah itu, berbagai film pun ia bintangi. ”Aku berusaha bahwa seorang pemain yang baik harus bisa melakukan peran apa saja. Itu tergantung bagaimana kita melakukan pendekatan terhadap peran itu sendiri,” ujar artis yang aktingnya banyak mendapat pujian dari para kritikus film ini. Tentang berbagai pujian terhadapnya itu, ia mengatakan tidak mau larut. Sebab, katanya, bila ia larut dalam buaian pujian, ia akan merasa terpuruk bila kemudian mendapatkan kritik atau makian.

”Paling tidak itu yang membuat saya tambah matang.” Selain itu, katanya, ia juga selalu berusaha menyeimbangkan kehidupan jasmani dengan rohani. Menurutnya, bila rohani tidak diisi kehidupan akan limbung. Begitu kena cobaan ia akan stres berat. Untuk mengisi rohaninya itu, ia selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT, antara lain lewat shalat lima waktu. ”Dalam setiap ibadah saya selalu berdoa agar selalu diberi kesabaran dan ketabahan.”

Lola adalah anak ketiga dari sembilan bersaudar . Karena keluarga besar, di usia tiga tahun ia diminta oleh saudara orang tuanya yang kebetulan tidak mempunyai anak. Setelah bapak angkatnya meninggal, kata Lola, barulah ia dekat dengan orang tua kandung. Lola mengaku beruntung dibesarkan oleh orang tua angkat yang banyak mengajarkan nilai-nilai hidup. ”Orang tua angkat saya telah mengajarkan kepada saya untuk bertanggung jawab terhadap pekerjaan, apa yang kita lakukan harus disiplin, jujur dan tidak boleh munafik,” ungkap wanita anak apasang Amarullah dan Romlah ini.

Banyak hal, lanjut Lola, yang sampai sekarang masih ia ingat dan selalu dipegang teguh. ”Pelajaran berharga yang bisa saya petik yaitu saya jadi mempunyai sikap dalam menghadapi hidup ini,” kata dara kelahiran Jakarta, 30 Juli 1977.(bowo leksono/DokRep/Januari 2003)  

Sumber : republika.co.id

Featured Image : freepik

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahli Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published.