Meluruskan Pemahaman Tentang Zuhud | Bincang Syariah _*

BincangSyariah.Com—  Zuhud menempati maqam tertinggi. Tak sembarang orang bisa menggapainya. Ibarat kelas, zuhud berada dalam level atas. Untuk menggapai taraf zuhud butuh usaha yang besar. Dan juga membutuhkan sarana yang efektif.

Sejatinya, zuhud tempatnya di hati. Ia erat kaitannya dengan hati yang luhur. Makna ringkas zuhud adalah kosongnya hati dari selain Allah. Syekh Abdul Qadir al Jailani dalam kitab Fath al Rabbani menuliskan terkait zuhud; “Keluarkanlah dunia dalam hati mu. Lantas letakkan dunia itu di tangan mu. Bila, taruh dunia itu disaku mu. Bila sudah engkau lakukan, niscaya dunia itu takkan membahayakan mu,” begitu katanya.

Dunia memang mampu menciptakan manusia menjadi monster. Tubuhnya masih manusia, tapi hati dan sikapnya tak ubah monster. Ganas. Menerkam. Mematikan. Jasad manusia, tetapi kelakuan lebih buruk dari iblis.

Bila hati manusia telah dikuasai dunia, ia akan tamak. Manusia yang hatinya diisi oleh kecintaan dunia yang berlebihan, maka ia akan menjadi manusia rakus. Mencinta dunia bak minum air laut. Semakin diminum, semakin haus. Tak akan puas. Meskipun manusia diberikan emas sebesar gunung Uhud, niscaya ia akan kekurangan. Ia ingin lebih dari itu. Itulah watak asli manusia.

Tak heran bila korupsi merajalela. Itu imbas dari kecintaan dunia yang berlebihan. Bila dilihat, perut manusia hanya kisaran sejengkal saja, tetapi yang sejengkal itu tak akan pernah puas, meskipun seluruh dunia ini engaku masukkan ke dalam perut mu. Itu tak akan muat.

Untuk menimalisir itu, zuhud merupakan solusi ampuh. Namun, belakangan makna zuhud bergeser. Ada pemahaman yang salah tentang zuhud. Banyak kalangan yang mendifinisikan zuhud sebagai meninggal dunia. Dalam artian tak membutuhkan uang. Tak perlu ada nafkah bagi keluarga. Membenci harta. Dan segala yang berbau duniawi.

Pemahaman keliru zuhud model ini dapat terlihat oleh Syekh Abdul Qadir Isa. Dalam buku Haqaiq at Tashawuf, ia mengatakan zuhud bukanlah berarti manusia disuruh meninggalkan dunia dari tangan. Padahal, di dalam hatinya masih memikirkan dunia.

Dalam Islam tak ada salahnya menjadi orang kaya. Tak juga dikutuk memiliki harta yang banyak. Tak ada larangan menjadi pejabat yang tinggi. Tidak ada larangan sama sekali. Islam bahkan menyuruh manusia untuk kaya.

Pasalnya, salah satu rukun Islam yang ke lima adalah naik haji. Ketika hendak naik haji, syarat utamanya adalah mampu. Mampu dari segi belanja untuk anak dan istri. Begitu pun mampu untuk belanja selama naik haji.

Meluruskan Pemahaman tentang Zuhud

Sekali lagi ditegaskan zuhud itu sikap hati. Zuhud itu berada dalam hati. Ahmad bin Ujaibah dalam kitab al Mikraj at Tashawuf ila Haqaiq at Tashawuf menjelaskan zuhud yang benar adalah letaknya di hati. Sikap zuhud itu adalah mengosongkan hati dari ketergantungan dari selain Allah.

Dunia ini tak boleh ditinggalkan. Ia adalah investasi akhirat. Barang siapa yang mempergunakan dunia yang ia peroleh— harta kekayaan, anak yang sukses, jabatan yang tinggi— sesuai dengan anjuran syariat Islam, misalnya, harta untuk menolong. Jabatan untuk mensejahterakan rakyat, maka dunia itu akan menjadi penolongnya.

“Jangan meninggalkan dunia karena akhirat tak akan di dapat kecuali dengan dunia,” begitu kata Al Manawi dalam kitab Faidh al Qadir Syarah al Jami ash Shagir. Sejatinya kenikmatan dunia adalah kendaraan orang yang beriman mendekatkan diri kepada Ilahi. Dengan harta, kekayaan, anak, dan keluarga, dan jabatan sebagai tabungan menuju ilahi kelak.

Pemahaman zuhud yang moderat di sampaikan oleh az Zuhri, sebagaimana tercantum dalam kitab Haqaiq at Thasawuf, makna zuhud yang hakiki adalah sikap bersyukur kepada Allah  atas limpahan rezeki halal yang diberikan Allah. Selanjut, menahan diri  dari mencari rezeki yang haram. Dan menerima lapang dada rezeki yang Allah berikan. Tidak buas, apalagi tamak. Itulah zuhud sejati.

Lebih lanjut, Rasululah dalam sebuah hadis yang bertujuan untuk meluruskan pemahaman tentang zuhud. Hadis ini  diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi mengatakan zuhud bukanlah menjauhi harta secara keseluruhan. Akan tetapi lebih kepada sikap menyamakan antara ada atau tidaknya harta, dan menjadikan hati tidak bergantung padanya. Rasululah bersabda;

الزهادة في الدنيا ليست بتحريم الحلال ولا اضاعة المال ولكن الزهادة في الدنيا ان لا تكون بما في يديك او ثق مما في يد الله وان تكون في ثواب المصيبة اذا انت اصبت بها ارغب فيها لو انها ابقيت لك

Artinya: zuhud terhadap dunia bukanlah mengharamkan yang halal dan menyianyiakan harta. Akan tetapi, zuhud terhadap dunia adalah, engkau lebih percaya pada apa yang di sisi Allah dari pada apa yang di tangan mu, dan pehala pelbagai musibah yang menimpamu membuat mu lebih suka seandainya dia terus menimpa mu. (H.R Tirmidzi)

Titik tekan dalam zuhud adalah hati. Sikap dalam hati manusia. Zuhud adalah usaha untuk membunuh sifat buas manusia. Agar tak tamak dan rakus. Zuhud bukan untuk menjauhkan manusia dari dunia. Bukanlah pula untuk menganjurkan manusia miskin harta.

Rasululah sebagai suri teladan manusia, Beliau masih memanfaatkan dunia. Memiliki istri. Punya anak. Menikah. Makan daging. Minum susu. Mengosumsmsi roti. Dan lebih dari itu, Rasul memiliki jabatan prestisius. Beliau dan Khadijah pengusaha sukses. Artinya, beliau tak membenci dunia, tetapi memanfaatkan itu untuk kemaslahatan manusia.

Demikian penjelsan terkait meluruskan pemahaman tentang zuhud. Semoga bermanfaat.

(Baca: Menjadi Zuhud dengan Hidup Minimalis)

Celengan Pemuda Tersesat
Celengan Pemuda Tersesat

Source : Bincangsyariah.com
Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?