Mencintai Tanah Air dan Membentuk Generasi Gemilang Menurut Islam _*

Bangsa secara umum dapat diartikan sebagai suatu kelompok manusia yang terdiri atas perbedaan suku, adat istiadat, dan memiliki kesamaan dalam bahasa ideologi, sejarah serta tujuan dalam mewujudkan kebangkitan negara.

Menurut para ahli bangsa secara umum dapat diartikan sebagai “kesatuan orang-orang dari keturunan, sejarah, agama dan adat yang sama”. Secara islami pembahasan tentang perbedaan dalam suatu bangsa bukanlah sebagai titik dari pergolakan. Namun sebuah bukti dari makna titik persatuan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman di dalam Alquran surah Al-Hujurat ayat 13.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”(QS.Al-Hujurat:13)

Berdasarkan ayat tersebut biasanya manusia itu tidak dapat hidup sendiri dan memerlukan tenaga orang. Dari kalangan para ahli seperti Aristoteles yaitu seorang filsuf Yunani, murid dari Plato dan guru dari Alexander Agung. Dimana ia telah banyak menghasilkan berbagai subyek yang berbeda, termasuk fisika, metafisika, puisi, logika, retorika, politik, pemerintahan, etnis, biologi dan zoologi.

Aristoteles menyebutkan manusia sebagai makhluk sosial dengan istilah Zoon Politicon. Menurut Adam Smith, ia menyebut istilah makhluk sosial dengan Homo Homini Socius, yang berarti manusia menjadi sahabat bagi manusia lainnya yang cenderung tidak pernah merasa puas dengan apa yang diperolehnya dan selalu berusaha secara terus menerus dalam memenuhi kebutuhannya.

Menurut Thomas Hobbes menggunakan istilah Homini Lupus untuk menyebut manusia sebagai makhluk sosial, yang berarti manusia yang satu menjadi serigala bagi manusia lainnnya. Artinya membutuhkan orang lain.

Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan manusia lainnya. Adapun firman Allah SWT dalam Al-Qur’an mengenai manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial tertera dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 71:

وَٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan, sebagian mereka menjadi para penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang ma’ruf, mencegah yang munkar, dan melaksanakan shalat secara berkesinambungan, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan dirahmati Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Perkasa, lagi Maha Bijaksana”(QS.At-Taubah:71).

Ayat ini menerangkan bahwa orang mukmin, pria maupun wanita saling menjadi pembela di antara mereka. Selaku mukmin ia membela mukmin lainnya karena hubungan agama. Akhir ayat ini menegaskan bahwa Allah pasti akan melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada orang-orang yang dikehendaki sesuai dengan amalan-amalan yang telah dikerjakannya.

Dalam bernegara, terdapat rakyat sebagai titik pondasi dalam mensejahterakan kehidupan. Sehingga,apabila tarif kehidupan rakyatnya baik, kesehatan meningkat, pendidikan terelaksasi. Maka dari itu akan mudah mewujudkan generasi gemilang yang siap bersaing di layar kaca nasional ataupun internasional sebagai bukti cinta tanah air.

Cinta tanah air juga sebenarnya sudah ratusan tahun silam Rasulullah ﷺ telah menyerahkan kepada umatnya dalam menjaga ketahanan negara.Ketika hijrah dari Makkah Al-Mukarramah ke Al-Madinah Al-Munawwarah beliau berdiri di perbatasan kota Makkah, lalu menatapnya dengan sedih lantas bersabda:

ما أطيبَكِ من بلدٍ وأحبَّكِ إليَّ، ولولا أنَّ قومي أخرجوني منكِ ما سَكَنتُ غيرَكِ

Alangkah baiknya kau sebagai negeri (kota) dan betapa cintanya diriku terhadapmu. Seandainya kaumku tidak mengusirku darimu (Makkah), niscaya aku tidak akan tinggal di kota selainmu.” (HR At-Tirmidzi)

Hadis ini sebagai pelajaran untuk kita generasi muda, terhadap cinta tanah air dengan memajukan karya-karyanya dan menjaga ekosistem. Bila dilihat potensi generasi muda saat ini telah banyak meluncurkan karya gemilang juga mampu bersaing dengan negara asing. Baik dalam tingkat nasional, ASEAN ataupun dunia.

Disamping itu semua banyak pula mengalami miris pendidikan hingga terjerumus pada lingkungan negatif. Akibatnya, tingkat kriminalitas dari kalangan muda lambat laut semakin merambah tinggi. Bukan hanya itu dengan adanya jumlah kelahiran yang berskala besar juga menjadi tantangan dalam menciptakan bibit generasi muda yang gemilang.

Dilihat dari data pusat statistik pada 2019 jumlah angka kelahiran negara Indonesia mengalami 4,7 juta jiwa. Ini merupakan angka nominal sangat fantastis bukan.

Untuk itu dengan banyaknya perubahan data kelahiran maka ini menjadi hal paling penting terhadap suatu negara dalam mencetak generasi berkarakter, dan berakhlakul karimah pada jiwa muda saat ini. Kemajuan suatu bangsa terdapat bagaimana generasi selanjutnya.

Jika dikaitkan dengan kondisi sekarang ini. Baik dalam keadaan sosial, budaya, pergaulan, ekonomi dan pendidikan, telah banyak perilaku negatif yang tengah menjalar di kehidupan para generasi gemilang bangsa ini. Mulai dari free sexs, pornografi, pelecehan seksual, pengedar narkotika atau sebagai penggunanya dan paling mengerikannya adalah banyaknya anak dibunuh karena hal sepele. Sungguh, jika ini tidak dicegah dengan dibaluri pengetahuan dalam mencetak generasi. Maka ibu Pertiwi ini akan hancur berkeping tidak berarah.

Kegemilangan atau kemajuan suatu bangsa secara mendasar terletak pada wanitanya. Berguna melahirkan potensi tombak bangsa dalam perjuangan baik dalam hal politik ataupun ekonomi. Dahulu kala, pada masa Rasulullah ﷺ wanita hanya bisa berperan sebagai al-madrosatul ‘ula untuk anaknya saja dan menjadi istri dari suaminya. Namun, sekarang wanita bisa berkarir seperti kaum Adam. Dari dalam negeri ini banyak generasi bangsa dari kaum Hawa bersaing dalam hal fashion, sebagai politikus,atau sebagai aktifitas organisasi dunia.

Ir.Seokarno Hatta pernah mengatakan “Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.”

Artinya,jika dalam negara itu laki-lakinya baik maka keutuhan dalam menjaga NKRI ini akan tercapai. Dan jika perempuannya bagus dan kuat
maka akan tercipta sosok pemimpin bijaksana.

Allah subhanahu wa Ta’ala menerangkan dalam QS.An-Nisa’:1 yaitu :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan (jagalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS.An-Nisa’:1)

Bahkan nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda “jika perempuannya baik,maka baiklah negaranya.Dan jika perempuannya jelek,maka jelek pula negaranya.”(HR.Ahmad).

Kenapa harus ibu? Dan kenapa harus wanita? Karena ibu merupakan sosok lembut yang sebenarnya sangat kuat. Ia mampu menahan beratnya mengandung. Ia selalu membawa anaknya kemana-mana dalam kandungannya. Meski menjadi mempersulit aktivitasnya, ia tetap tegar menjaga kandungannya.

Dalam hadits lain Rasulullah ﷺ juga bersabda “dari Abu Hurairah. Dia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang lebih berhak saya hormati?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Orang tersebut bertanya lagi, “Lalu siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi, “Setelah itu siapa?” Rasulullah menjawab, “Ibumu.” Orang tersebut bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Akhirnya Rasulullah pun menjawab, “Kemudian ayahmu,” (HR. Muslim).

Faktanya sebelum Islam masuk, wanita merupakan hal yang menjijikkan, sebuah kesialan. Bahkan yang paling parahnya barangsiapa yang melahirkan anak perempuan maka wajib dibunuh. Seiring dengan berubahan dari abad ke-abad baginda nabi Muhammad ﷺ datang dengan membawa risalah untuk mengangkat derajat wanita.

Karena pada umumnya, tiada laki-laki tanpa adanya wanita,tiada kehidupan tanpa adanya Wanita, tiada seorang pemimpin (Khalifah) tanpa adanya perjuangan seorang wanita didalamnya. Tiada seorang pelindung bagi wanita kecuali laki-laki. Dalam QS.An-Nisa : 34 bahwa laki-laki adalah pemimpin perempuan.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.” (QS.An-Nisa’ :34)

Jadi, semua kita ini adalah pemimpin dalam memajukan potensi majunya negara hingga mencapai puncak makmur. Karena semua yang kita lakukan tak jauh dari apa yang akan kita pertanggungjawaban. Seorang imam, seorang suami, seorang wanita, bahkan seorang budak. Semua adalah pemimpin!

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ. فَالإمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُولَةٌ، وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ. أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ

Dari Abdullah, Nabi ﷺ bersabda: Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggungjawabannya. Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.”(Hadits Sahih Riwayat al-Bukhari: 4789)

Sudah semestinya untuk diketahui generasi gemilang pada intinya terletak pada:

Kenapa harus wanita? Karena jiwa-jiwa pemimpin lahir dari rahim wanita. Jika wanitanya baik maka baik pula negaranya dengan membiasakan tabiat malunya. Syaik al – Masyarawy mengatakan”sifat termahal dan terindah wanita itu, tatkala ia cantik, tinggi, ataupun kulitnya putih tapi Allah mensifati wanita dengan sifat Al-Haya’ (pemalu), maka semakin tinggi rasa malu wanita, semakin tinggi kemuliaannya”.

اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَة

Artinya: “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah isteri yang shalihah.” (HR Muslim dari Abdullah bin Amr).

2. Pemudanya (laki-laki)

Yaitu sebagai armada dimasa kini dan untuk hari mendatang.Dimana kemajuan intelektual diarahkan oleh para laki-laki sesuai dengan firman Allah subhanahu wa Ta’ala dalam QS. An-nisa: 34 (laki-laki adalah pemimpin dari perempuan). Jika pemudanya sudah cinta tanah air, maka keutuhan dalam NKRI akan maksimal.

3. Keadaan Pendidikan Dalam Negeri

Inti pergerakannya dalam hal ini berpacu pada para pelajar dan tholabul ‘ilmi. Gigih dalam belajar,tekat dalam berjuang, dan bekerjasama. Dalam hal ini, siswa-siswi perlu bimbingan akhlak dan moralitas demi menunjang generasi gemilang berkarakter bangsa ini.

Agar terjauhkan dari hal negatif yang tidak pantas dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, sekolah, masyarakat dan keluarga. Hingga membawa negara maju dalam ilmu teknologi, ekonomi, sains, geografi, ataupun astronomi.

Untuk itu nilai utama dalam menjaga keutuhan bibit unggul bangsa adalah memberikan asupan dan tayangan bermanfaat agar tidak terjerumus dengan pergaulan bebas,dan tidak terlalu cinta kepada budaya asing (banyak mengandung unsur negatif) serta unsur SARA.

Akhir dari dampaknya timbullah banyak perpecahan dari berbagai golongan masyarakat. Kita sadari pula bahwa negara ini terjaga dengan keragaman suku, agama, ras, budaya dan adat-istiadat dari kerukunannya. Tanpa membedakan satu dengan lainnya.

Demikian juga memupuk generasi milenial melalui akses teknologi informasi saat ini tentang perjuangan pahlawan serta mengikuti sertakan generasi sekarang ini dalam kebudayaan NKRI. Hingga akhirnya, terbinalah cita-cita bangsa yang sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Sumber : dalamislam.com

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihiadada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?