in ,

Menyempurnakan Ketakwaan Seusai Ramadhan – Islampos _*

Oleh: Ammylia Rostikasari, S.S.
Aktivis Akademi Menulis Kreatif 
[email protected]

RAMADHAN yang syahdu nan khusyuk telah berlalu. Kini berganti Syawal yang menuntut setiap Muslim untuk melakukan peningkatan kualitas ibadah. Ketakwaan mestilah makin disempurnakan setelah sebulan ditempa berbagai ibadah di Bulan Ramadhan.

Namun, masih saja ada satu pertanyaan menggelayut di dalam benak. Bagaimanakah cara menyempurnakan ketakwaan seusai Ramadhan?

Bicara tentang takwa, memang tak ada habisnya. Pun penjabarannya dalam ayat-ayat cinta Sang Pencipta, begitu banyak ada dalam kalam-Nya. Satu di antaranya ada terjemah surat Ali-Imron ayat 133: “Bersegeralah kalian meraih ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”.

Sejatinya, takwa adalah menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangannya dalam semua aspek kehidupan. Bukan hanya yang bersifat spititual atau hablu minallah, melainkan juga yang mencakup hubungan manusia dengan sesamanya (hablu minannas) dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri (hablu minafsi).

Dengan demikian, kita sebagai Muslim yang berupaya memahami Islam secara kaffah (menyeluruh) mestilah menetapkan langkah-langkah untuk menyempurnakan ketakwaan. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.

Pertama, memahami akidah Islam sebagai akidah ruhiyah yang mengatur urusan ibadah juga akidah siyasiyah, yaitu landasan mencakup kehidupan dunia. Sehingga terpancarlah keharmonisan urusan dunia dan akhirat karena dilandasi motivasi keimanan kepada Sang Pencipta, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala.

Kedua, senantiasa menjadikan Islam sebagai parameter untuk menilai perbuatan baik-buruk juga terpuji dan tercela. Sehingga ketika hendak beramal hanyalah standar halal-haram yang menjadi patokan, bukan semata manfaat atau mudarat, bukan pula karena tergiur benci dan puja puji yang bersifat insani. Karena sesungguhnya, yang hendak dicapai adalah ridho Allah semata.

Ketiga, bersabar dalam meniti jalan ketaatan kepada-Nya. Sebagaimana teladan paranabi dan rasul serta orang-orang salih yang bersikukuh dalam menjalankan perintah menjauhi larangan Allah subhanahu wa ta’ala.
Rasulullah saw. Bersabda: “Sungguh di belakang kalian adalah masa kesabaran. Bersabar pada masa itu seperti menggenggam bara api. Pahala bagi yang melakukannya seperti 50 orang yang mengerjakan amalnya” (HR Abu Daud).

Keempat, amar makruf nahyi munkar atau berdakwah. Dakwah adalah tanda cinta terhadap sesama manusia. Rasa cintanya diluapkan dengan menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran. Ia akan merasa takut jika hanya berdiam diri. Karena keimanannya kepada kabar bahwa diamnya manusia akan mengundang bencana (lihat Q.S. Al-Anfal :25).

Kelima, bersegera memohon ampunan Allah Swt. Dan kembali kepada ketaatan manakala dilanda khilaf dan melakukan kemaksiatan (Q.S. Ali-Imron: 135).

Keenam, memupuk kerinduan kepada Sang Pencipta dan indah surga-Nya. Dengan begitu, insyaallah ia tak akan mudah tergoda untuk mengorbankan agamanya guna meraup pundi-pundi dunia. Karena ia akan memahami bahwa dunia adalah tempat meninggal, bukanlah tempat tinggal. Kampung akhiratlah tujuan perjalanannya. Sehingga orientasi hidupnya akan fokus ada dalam nilai ketaatan yang lurus. Kepada Allah, untuk Allah, dan Allah saja. Wallahu’alam bishowab. []

Sumber : islampos.com
Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahli Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?

Written by jumat berkah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

GIPHY App Key not set. Please check settings