Menyikapi Istilah Sekedar Islam KTP _*

Julukan “Islam KTP” agaknya sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Sebutan tersebut diberikan kepada orang yang dianggap sebagai seorang muslim tetapi tidak mencerminkan kepribadian seorang yang mukmin.

Islam KTP menggambarkan dengan jelas, bahwa keislaman seseorang hanya dijadikan sebagai status pada kolom kartu identitasnya, tidak heran jika banyak kaum muslim bertingkah seperti layaknya seorang non muslim.

Keimanan bukanlah sebuah warisan yang dapat diturunkan oleh orang tua kepada anaknya. Karena sebuah keyakinan, hanya bisa didapatkan ketika orang tersebut benar-benar dapat membuktikan kebenarannya. Begitupun dengan keyakinan kepada Islam, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT dan Muhammad SAW adalah utusan Allah SWT, maka seseorang yang meyakininya sudah seharusnya dapat membuktikan kebenaran tersebut.

Aqidah Islam adalah iman kepada Allah SWT, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, hari kiamat, qadha dan qadar, baik buruknya dari Allah SWT. Keimanan tersebut merupakan sebuah pembenaran yang pasti sesuai dengan kenyataan berdasarkan dalil.

Sebagaimana kita ketahui bahwa fitrahnya manusia dalam memercayai sesuatu, adalah dengan membuktikannya melalui pancaindra dan dapat diterima dengan akal. Oleh karena itu dalam beriman, Islam mengajarkan keimanan yang didapat melalui proses berpikir, inilah yang dinamakan dengan dalil aqli.

Dalil aqli bukan digunakan untuk melihat wujud Allah SWT, karena sudah jelas, bagaimana lemah dan terbatasnya akal dan tubuh manusia. Sehebat apapun akal manusia, pasti mengalami trial and error. Dalil aqli digunakan untuk membuktikan eksistensi Allah SWT sebagai pencipta alam semesta beserta isinya. Dengan demikian, untuk meyakini keberadaan Allah SWT sebagai pencipta, dibutuhkan proses berpikir tentang penciptaan pada manusia, alam semesta, dan kehidupan.

Fakta luar biasa yang sesungguhnya kita dapat saksikan bersama, bagaimana seorang manusia lahir hanya karena terjadinya pertemuan antara sel sperma dengan indung telur, kemudian matahari dan bulan yang silih berganti menyinari bumi, planet-planet yang tidak pernah berada diluar jalur rotasinya, gunung-gunung menjulang tanpa penyangga, ataupun langit yang tetap di atas meski tanpa adanya tiang, dan banyak lagi perkara yang lebih menakjubkan berada di antara manusia. Jika diperhatikan dan dipikirkan, maka sesungguhnya sudah jelas tanda-tanda penciptaanNya.

Al-Qur’an secara gamblang telah menggambarkan bagaimana penciptaan manusia, alam semesta, dan kehidupan. Pada penciptaan manusia, Al-Qur’an telah menyebutkan dalam surat Al-Mu’minun ayat 12-14, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah [12]. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)[13]. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik [14]”.

Lalu penciptaan alam semesta telah disampaikan dalam surat Ali-Imran ayat 190, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”.

Dan Al-Qur’an telah menjelaskan bagaimana proses kehidupan berjalan atas kehendak Allah SWT. Surat Taha ayat 53 telah mengabarkan, “(Tuhan) yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu, dan menjadikan jalan-jalan di atasnya bagimu, dan yang menurunkan air (hujan) dari langit. Kemudian Kami tumbuhkan dengannya (air hujan itu) berjenis-jenis aneka macam tumbuh-tumbuhan”.

Dari penjelasan di atas, Al-Qur’an membuktikan tentang kebenaran yang dibawanya. Al-Qur’an telah ada jauh sebelum ilmu pengetahuan dan teknologi mengalami kemajuan yang sangat pesat, hingga mampu menunjukkan kebenaran yang disampaikan oleh Al-Qur’an.

Keberadaan Al-Qur’an dan hadits sebagai dalil naqli, merupakan sebuah petunjuk dan informasi tentang semua perkara keimanan yang tidak dapat terindera dan terpikirkan oleh akal seperti keberadaan malaikat, hari kiamat, yaumul hisab, surga ataupun neraka.

Dengan demikian maka, sejatinya dalil aqli dan dalil naqli akan mengantarkan manusia memperoleh keimanan yang tidak sekedar warisan ataupun status pada KTP, namun meyakini dengan pasti, membuktikannya dengan kenyataan berasaskan dalil.

Sumber : dalamislam.com

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihiadada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?