Nikmatnya Makan Gudeg Basah di Dapur Tradisional yang Legendaris _*


Yogyakarta

Sekali nyicip gudeg legendaris di Yogyakarta ini bikin ketagihan. Dimasak di dapur tradisional dan bisa makan di dapur sambil berbincang dengan penjualnya.

Gudeg merupakan kuline ikonik Jogja. Ada beragam versi gudeg yang dijual dan dikenal di wilayah Jawa Tengah. Ada yang kering, setengah basah dan basah. Masing-masing punya ciri khas dan racikan.

Salah satu yang legendaris adalah Gudeg Pawon yang berlokasi Jalan Janturan UH/IV No 36, Kecamatan Umbulharjo, Yogyakarta. Tempat makan gudeg ini sudah beroperasi sejak tahun 1958.

Sudah ada sejak 63 tahun silam, Gudeg Pawon memang dikelola secara turun temurun. Kini dikelola oleh Wanto yang merupakan generasi kedua.

Penasaran dengan rasanya, detikcom dalam rangkaian Ekspedisi 3.000 Kilometer Bersama Wuling menyambangi warungnya (07/10). Ternyata warung gudeg ini jam bukanya berubah sejak masa pandemi karena aturan PPKM.

1. Sempat Berpindah-pindah Tempat

Dapur Tradisional yang LegendarisDapur Tradisional yang Legendaris Foto: detikcom/Riska Fitria

Kepadadetikcom (07/10),Wanto menceritakan perjalanan usahagudegnya. Ia mengatakan bahwa Gudeg Pawon awalnya dirintis oleh sang ibu pada tahun 1958.

Saat itu ibunya jualan gudeg sempat pindah ke beberapa tempat. Ia berpindah-pindah dari satu pasar ke pasar lainnya. “Ya pindah-pindah di pasar-pasar sekitar Yogyakarta. Dulu pernah di pasar Sentuh,” ujar Wanto.

Kemudian di tahun 2000 barulah ibunya memutuskan untuk berjualan di rumah. Saat itu, gudeg hanya dipromosikan dari mulut ke mulut hingga akhirnya menjadi ramai dan populer.

Baca Juga: Resep Gudeg Jogja yang Sedap Ngangeni

2. Disajikan Langsung di Dapur Tradisional

Dapur Tradisional yang LegendarisDapur Tradisional yang Legendaris Foto: detikcom/Riska Fitria

Bukan di etalase, gudeg yang ditawarkan olehWanto ini disajikan langsung di dapur tradisional. Karenanya warung makannya tersebut dinamakan Gudeg Pawon.

Kata ‘pawon’ diambil dari bahasa Jawa artinya dapur. Dapurnya sangat tradisional, masih menggunakan tungku batu bata dan apikayu bakar. Aroma wangi bumbu bisa langsung dihirup sedap oleh pembeli. Persis seperti di dapur sendiri.

Menurut Wanto, teknik memasak secara tradisional itu bisa berpengaruh pada cita rasa masakan. “Kalau masaknya pakai kayu bayar itu jadi lebih enak rasanya,” tutur Wanto.

Selain itu gudeg juga menggunakan resep secara turun temurun. Oleh karena itu kelezatan Gudeg Pawon konsisten dari dulu hingga saat ini. Nyaris tak ada yang berubah.


Simak Video “Bikin Laper: Gudeg Jogja di Alam Sutera Tangerang
[Gambas:Video 20detik]


Sumber : detik.com
Featured Image : unsplash.com
Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?