Pandangan Islam Tentang Mengidolakan Artis _*

“Tiada yang lebih manis dari rasa syukur, tiada yang lebih luas dari keikhlasan, tiada rasa cinta yang begitu besar dari keagungan-Nya, tiada manusia yang penuh kemuliaan dari pada Rasul-Nya”

Rekaman mata boleh jadi pembawa jeratan nafsu yang memburu baik itu dari parasnya yang elok rupawan mempoles warna yang menawan, atau sekedar penampilannya yang menarik desiran darah merah berlanjut membumbung tinggi hingga ke kepala.

Apalagi melihat para boyband maupun girlgroup Korea yang sedang menyanyi dan menari ria menghibur jutaan pasang mata hingga pikiran mereka hangus terbakar kefanatikan pada manusia.

Jujur Ini bukanlah menunjukkan ketidaksukaan kepada suatu kelompok namun sedikit mengajak diri untuk berpikir mendalam dan menyeluruh kepada hal yang harus kita analisis, teliti, dalami, dan pahami. Yang paling etis bagiku adalah dorongan untuk saling berbagi tidak ada salahnya untuk saling membenahi: “sampaikanlah ilmu walau hanya satu ayat.”

Jika ketampanan dan kecantikan yang diprioritaskan, maka lembaran masa akan mengubahnya dari yang terlihat begitu segar lambat laun akan habis layu juga.

Jika kepiawaiannya dalam menari melalaikanmu, maka keroposnya tulang akan memberi penilaian bahwa selagi masih di dunia maka engkau masih bermain bersama kesendagurauan yang mengajak ketidakkekalan. Jika kemasyuran yang menarik hadirmu maka akan ada masa dimana akan terkubur semua pencapaiannya.

Ada hadits yang disebut hadits tasyabbuh (penyerupaan) berbunyi: “Barang siapa menyerupai suatu kaum, ia termasuk kaum itu.”

Kita tidak boleh menyerupai suatu kaum baik itu idola sejati, artis selebriti, ataupun mengikuti cara sembahyang sekalipun hanya memberi selamat dalam perayaan mereka. Maka dari itu lepaskan idola-idola yang membutakan cahaya muhasabah kepada Allah SWT.

Patut diketahui bahwa tiada yang bisa menolong kita selain Alquran yang menjadi syafaat yaumul akhir, mengikuti sunnah Rasul, ilmu bermanfaat, dan amalan kebajikan.

Kita dilahirkan dalam keadaan sendiri dan kembali dalam pertanggung jawaban dengan seorang diri pula. Kematian itu rahasia ilahi yang tak akan pernah bisa dikompromi.

Lho islam kok nggak toleran kepada agama lain, katanya agama perdamaian? Toleransi itu tidak harus mengikuti tata caranya, namun bagaimana kita bisa memahami jalan terbaik dalam hal toleransi antar umat beragama dalam urusan peribadatan kepada Tuhan.

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ

“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (Q. S. Al Kafirun ayat 6)

Ayat inilah yang memberi sinar jalan keluar dalam permasalahan ekstensi arti dari toleransi. Tolong menolong dalam bermuamallah itu harus, namun tolong menolong dalam penyembahan harus berdiri berdikari masing-masing tanpa paksaan dalam penyamaan.

Move on itu memang tidak segampang mengeluarkan kata-kata bijak atau hanya sekedar membalikkan telapak tangan. Namun lebih dari pada itu, tanggung jawabnya besar, disambung ujian menggunung dan harus siap andil dalam memegang kesungguhan yang kuat dalam membuat benteng pertahanan yang kokoh dengan kesabaran.

Orang-orang yang mengidolakan artis Korea maupun idola dari negara manapun, pada kenyataannya mereka telah menyekutukan Tuhan Yang Maha Esa dengan rasa bangganya.

Jikapun mendapatkan kepuasan dari mengidolakan artis, belum tentu bisa merasakan kenyamanan dan ketentraman hati di saat menghadap sang Ilahi, bersama merasakan telepati hati dalam kekhusukan yang hakiki.

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar [39]: 52).

Sedangkan di ayat ini menjelaskan Allah tidak akan pernah meninggalkanmu, baik itu di masa paling terpuruk sekalipun, walau dosa kita sebanyak buih di samudra, sebesar gunung yang menjulang tinggi atau seluas daratan, maka akan dihapus dosa kita kecuali dosa syirik (menyekutukan Allah).

Tiada manusia yang jauh dari kelalaian dan dosa. Maka dari pada itu kepada kita semua mari mendekat kepada Allah maka engkau akan merasakan betapa besar nikmat yang di berikan oleh Tuhanmu.

فَبِاَىِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman ayat 21)

Jika pun kita membutuhkan sosok teladan, maka Rasulullah ada di barisan paling terdepan dan diikuti para sahabat, wali, ulama dan orang-orang yang taat beragama, sebagaimana contohnya Salman Al-Farisi (pencari cahaya hidayah), Umar bin Khatab (antiislam menjadi panglima islam), dll.

Ada sebuah kisah nyata yang membuat kagum, yaitu seorang anak SMA perempuan yang ingin sekali berhijrah dan ingin lebih memahami tentang islam, namun terhalang oleh keluarga yang masih minim dalam pengetahuan terhadap keislaman.

Di saat itu MasyaAllah-nya, dia memberanikan diri untuk nekat pergi sendiri menuju suatu tempat yang dikenal dengan sebutan Kampung Madinah Indonesia, tanpa sepengetahuan orang tuanya.

Di malam yang terasa panjang dan sepi dia pergi ke tempat tujuan, pada kenyataan jaraknya begitu jauh antar provinsi tanpa hadirnya sanak saudara atau “kabur”, sehingga membuat keluarganya panik dan mencarinya kesana-kemari.

Alhamdulillah ternyata dia selamat sampai tujuan, melalui telepon yang diangkat oleh murrobi, tempat pengumpulan handphone disana karena pihak keluarganya selalu saja menghubungi. Sehingga keluarganya menyusul dia ke sana untuk memastikan anak gadis mereka baik-baik saja.

Kejadian tersebut adalah cahaya jalan ilahi untuk mengetuk pintu hidayah keluarganya melalui azzam atau tekad anaknya. Tidak ada di dunia ini yang terjadi karena hanya kebetulan saja tanpa kehendak sang pencipta. Wallahualambissawab.

Lihatlah pada sisi kemauan gadis ini, dia menghalaukan rasa takutnya pergi sendiri demi menuntut ilmu agar lebih memahami islam,cerita ini berdasarkan kisah nyata.

Namun tak sedikit ada orang yang bermati-matian mengidolakan artis. Di mana itu memang hak mereka, namun dalam sesama bersaudara itu adalah kewajiban setiap muslim dalam menasehati jika sudah melewati batas aturan-Nya.

Ada orang yang berjuang sampai titik nadir untuk menjadi lebih baik, bahkan rela mati-matian dalam menjemput hidayah namun kadang kala kita lebih suka melepaskan luasnya nikmat demi sesuatu yang membuat lalai dalam merenungi liang lahat. Gunakan waktu selagi ada karena penyesalan tak pernah hadir mengawali, namun menunggu muka di akhir masa yang tak abadi.

Sumber : dalamislam.com

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihiadada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?