Pengajian Gus Baha: Mengikuti Sunnah Nabi Itu Tidak Mesti Sama Persis dengan Nabi _*

Gus Baha’ atau KH. Bahauddin Nursalim dalam satu pengajiannya menyatakan bahwa dalam mengkampayekan mengikuti sunnah Nabi hendaklah proposional. Proposional yang beliau maksud adalah  mengikuti sunnah Nabi bukan berarti berlaku persis dengan Nabi. Hal ini berdasar dinamika kehidupan para sahabat yang hidup menyaksikan nabi serta disaksikan nabi, ada beberapa di antaranya yang berbeda sikap dengan nabi. Tapi, ternyata nabi sendiri membenarkannya.

Salah satu contohnya, dan ini juga diungkapkan oleh Gus Baha’, adalah apa yang termaktub dalam pidato Sahabat ‘Umar ibn Khattab tatkala dilantik menjadi khalifah, yang terdokumentasikan dalam kitab Hayatus Shohabah. Riwayat pidato sahabat ‘Umar ini ada dalam Syarah Ushulis Sunnah karya al-Laklai dan Kitab al-Mustadrak karya Imam al-Hakim. Selain itu, juga dikutip oleh Imam al-Munawi dalam Faidul Qadir dan Ibn ‘Asyakir dalam Tarikh Dimasyq. Teks asli pidatonya sebagai berikut:

يا أيها الناس، إِني قد علمت أنكم تؤنسون مني شدة وغلظة، وذلك أني كنت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم وكنت عبده وخادمه، وكان كما قال الله تعالى: {بِالْمُؤْمِنِينَ رَءوفٌ رَّحِيمٌ} (التوبة: 128). فكنت بين يديه كالسيف المسلول إلا أن يغمدني أو ينهاني عن أمر فأكفَّ، وإلا قدمت على الناس لمكان لينه، فلم أزل مع رسول الله صلى الله عليه وسلم على ذلك حتى توفاه الله وهو عني راضٍ، والحمد لله على ذلك كثيراً، وأنا به أسعد

ثم قمت ذلك المقام مع أبي بكر خليفة رسول الله صلى الله عليه وسلم بعده. وكان قد علمتم في كرمه، ودَعته ولينه، فكنت خادمه كالسيف بين يديه أخلط شدتي بلينه؛ إِلا أن يتقدم إليّ فأكف وإِلا قدمت. فلم أزل على ذلك حتى توفاه الله وهو عني راضٍ، والحمد لله على ذلك كثيراً، وأنا به أسعد

ثم صار أمركم إِليَّ اليوم، وأنا أعلم فسيقول قائل: كان يشتد علينا والأمر إِلى غيره فكيف به إِذا صار إليه؟ واعلموا أنكم لا تسألون عني أحداً، قد عرفتموني، وجربتموني، وعرفتم من سنّة نبيكم ما عرفت، وما أصبحت نادماً على شيء أكون أحب أن أسأل رسول الله صلى الله عليه وسلم عنه إلا وقد سألته.

فاعلموا أن شدَّتي التي كنتم ترون قد ازدادت أضعافاً إِذا صار الأمر إليّ على الظالم، والمعتدي، والأخذ للمسلمين لضعيفهم من قويهم، وإني بعد شدتي تلك واضع خدِّي بالأرض لأهل العفاف والكفّ منكم والتسليم

وإني لا آبى إن كان بيني وبين أحد منكم شيء من أحكامكم أن أمشي معه إلى من أحببتم منكم، فلينظر فيما بيني وبينه أحد منكم. فاتَّقوا الله عباد الله،وأعينوني على أنفسكم بكفّها عني، وأعينوني على نفسي (بالأمر) بالمعروف، والنهي عن المنكر، وإحضاري النصيحة فيما ولاني الله من أمركم. ثم نزل

 

“Wahai orang-orang, aku tahu bahwa kalian tidak mempermasalahkan sikap keras dan kasar dariku. Aku bersama Rasulullah salallahualaihi wasallam dan menjadi pelayan dan pembantu-Nya. Seperti yang Allah firmankan: “Bersikap baik serta asih terhadap orang-orang mu’min” (At-Taubah ayat 128). Maka aku bagaikan pedang yang terhunus di sisi-Nya, sampai beliau menahanku atau mencegahku sehingga aku berhenti. Bila tidak, maka aku hadapi orang-orang sebagai ganti sikap beliau yang halus. Aku selalu seperti itu bersama Rasulullah salallahualaihi wasallam sampai Beliau wafat, dan Beliau ridha terhadapku. Segala puji yang banyak milik Allah atas hal tersebut. Dan dengannya aku memperoleh keselamatan.

Aku terus pada posisi tersebut saat bersama Abu Bakar; Pengganti Rasulullah setelah wafatnya Nabi. Kalian tahu kemuliaan Abu Bakar, kewelasannya, dan kehalusannya. Aku menjadi pembantunya seakan pedang di hadapannya. Aku padukan sifat kerasku dengan sifat halusnya, kecuali bila ia meenghalangiku, maka aku berhenti. Bila tidak, aku bertindak. Aku senantiasa seperti itu sampai Allah memanggilnya, sementara ia ridha padaku. Segala puji yang banyak atas hal tersebut. Dan dengannya aku memperoleh keselamatan.

Sampai urusan kalian hari ini ada padaku. Aku tahu. Akan ada yang berkomentar “Umar bersikap kasar pada kita saat kepemimpinan ada pada selainnya, bagaimana jadinya nanti saat ia menjadi pemimpin?” Ketahuilah, sesunguhnya kalian tidak akan bertanya pada salah seorang, tentangku. Kalian telah mengenalku. Kalian telah berpengalaman denganku. Kalian telah mengetahui sunnah nabi yang telah aku ketahui. Dan tidaklah pernah aku memasuki pagi dalam keadaan menyesal atas sesuatu yang ingin aku tanyakan pada Nabi, kecuali telah aku tanyakan pada-Nya.

Ketahuilah, sifat kerasku yang telah kalian lihat akan menjadi berlipat-lipat ganda ketika aku menjadi pemimpin. Itu aku lakukan pada orang zalim, orang berbuat kesalahan dengan sengaja, dan saat mengambil hak orang-orang muslim dari yang kuat ke yang lemah. Dan sesungguhnya selain sikap kerasku tersebut, aku letakkan pipiku pada orang-orang baik, melindungi serta menyelamatkan kalian.

Aku tidak menolak apabila antara aku dan salah seorang kalian ada suatu permasalahan, aku berjalan bersamanya menuju sosok yang kalian sukai dari kelompok kalian. Lalu sosok itu teliti ulang masalah antara diriku dan dirinya. Bertaqwalah wahai hamba-hamba Allah. Dan berikan aku pertolongan dengan menjaga permasalahan tersebut, pada kalian, dariku. Dan berilah aku pertolongan untuk memerintahkan kebaikan dan menncegah kemungkaran, serta bagaimana aku memberikan nasihat tentang permasalahan kalian yang Allah kuasakan padaku.

Apa yang disampaikan sahabat Umar tersebut menunjukkan, bahwa sahabat Umar dalam membela Nabi seringkali berbeda sikap dengan Nabi. Nabi Muhammad adalah sosok yang halus serta lebih memilih menghindari pertikaian. Sahabat Umar berkebalikannya. Ia berwatak kasar serta tak segan-segan bertindak kasar kalau memang dianggap perlu. Dalam membela Islam, ia tak segan-segan bertikai sampai Nabi sendiri menghentikannya. Dan ini semua sepengetahuan Nabi serta Beliau mendiamkannya.

Ini adalah sekelumit contoh bagaimana sunnah Nabi bukanlah persoalan mengikuti bagaimana Nabi bertindak. Tapi, bila dikembalikan pada kajian ilmu hadis, adalah soal bagaimana perkataan, perilaku serta pengakuan Nabi muncul terkait dengan permasalahan yang hendak diikuti. Bisa jadi, ada beberapa permasalahan yang Nabi tidak memberikan contoh. Tapi, ada sahabat yang melakukannya dan Nabi mendiamkannya.

Atau, dalam bahasa Gus Baha’, sunnah Nabi bisa saja soal tambal sulam. Dalam artian, kadang yang apa tidak Nabi lakukan, oleh para sahabat dilakukan. Dan pada waktu itu, nabi mendiamkannya yang berarti menunjukkan bahwa Nabi tidak mempermasalahkannya. Sehingga secara tidak langsung sunnah Nabi bisa saja tidak terbentuk dengan Nabi melakukannya sendiri. Tapi, terkadang, bagaimana Nabi tidak melakukannya sebab mungkin terhalang oleh semisal perangai beliau, lalu para sahabat bertindak sebagai ganti Nabi tidak bertindak. Dan semua itu sepengetahuan Nabi.

Kesimpulannya, perihal mengikuti sunnah Nabi tidaklah segampang menanyakan adakah dasar Nabi melakukannya atau tidak? Tapi, penting juga melihat dinamika kehidupan para sahabat. Orang-orang yang ada di sekitar Nabi, yang lebih tahu tentang bagaimana sikap nabi atas berbagai hal.

Source : islami.co
Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?