Pengakuan Para Sahabat dan Ahli Sejarah tentang Kefaqihan Sayyidah Aisyah _*

BincangSyariah.Com – Sepeninggal Siti Khadijah radliyallahu ‘anha, banyak yang menyarankan agar Baginda Nabi shalllallahu ‘alaihi wasallam segera menikah lagi untuk mencari penggantinya. Bagaimanapun juga, dengan mangkatnya Sang Istri tercinta, ada keluarga dan anak yang membutuhkan kasih sayang dan perawatan dari seorang ibu.

Akhirnya, jatuhlah pilihan Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada Saudah binti Zam’ah radliyallahu ‘anha. Seorang sosok wanita yang sudah berstatus janda, yang pandai mengatur keluarga dan penyayang terhadap anak-anak. Bersamanya, Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sering dibuatnya tersenyum. Sebagaimana hal ini, disampaikan oleh al-Imam al-Hafidh al-Dzahabi dalam kitab Karyanya Siyaru A’lami al-Nubala.

Selama kurang lebih 3 tahun bersama Sayyidah Saudah binti Zam’ah (w. 54 H), Baginda Nabi memiliki banyak waktu luang untuk melakukan da’wah, dan mengadakan persiapan untuk melakukan hijrah untuk memulai periode baru dalam risalah. Hingga akhirnya, beliau menetap dan bermuqim di Madinah.

Di kota inilah, Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berjumpa dengan sosok perempuan yang memiliki banyak keistimewaan yang memungkinkan merawat warisan risalah kenabian, dan siap untuk untuk menyampaikan pengetahuan, serta siap untuk dinuqil ajaran-ajarannya sepeninggal beliau shallallahu ‘alaihi wasallam kelak.

Perempuan itu adalah putri dari sahabat karib beliau sendiri, yang rela menemani beliau melakukan perjalanan hijrah. Dialah putri Sayyidina Abu Bakar Al-Shiddiq radliyallahu ‘anhu (w. 13 H) yang lahir dari rahim Ummu Rumman radliyallahu ‘anha dan bernama Sayyidah ‘Aisyah. (Baca: Lagu Aisyah Istri Rasulullah dan Fakta Sejarah Berdasarkan Hadis Nabi)

Sebagai seorang putri dari Sayyidina Abu Bakar al-Shiddiq, Aisyah tumbuh kembang dalam keluarga yang penuh berkah dengan kasih sayang serta pemeliharaan. Ia sama sekali tidak tersentuh oleh ajaran-ajaran jahiliyah yang tengah marak di lingkungan masyarakatnya. Sebagaimana ia hidup di tengah keluarga yang cerdik pandai, maka dia banyak menguasai ilmu-ilmu yang berkembang di tengah bangsanya. Ia menguasai syi’ir dengan sangat fasih, bahkan mengetahui hari-hari yang dikenal oleh orang Arab. Maklum, bapaknya adalah seorang saudagar yang acap melakukan niaga, sehingga Aisyah banyak mewarisi ilmunya.

Berbicara mengenai keahlian Aisyah dalam menguasai ilmu Sya’ir dan kelak akan sangat bermanfaat dalam memahami ilmu tafsir dan hadits, ada banyak kesaksian dari para sejarawan tentangnya termasuk dari kalangan sahabat. Bagaimana kesaksian para sahabat dan para sejarawan tentang Aisyah ini? (Baca: 11 Istri Nabi Muhammad Saw ini adalah Janda, Hanya Satu yang Tidak)

Pertama, ‘Amir al-Sya’bi (w. 103H), generasi Tabi’in, menggambarkan sosok ummu al-mu’minin Aisyah radliyallahu ‘anha dengan rasa ta’jubnya terhadap keluasan dan kedalaman pengetahuannya melalui rangkaian dialog yang direkam oleh dalam Musnad Ishaq. Suatu ketika Sayyidah Aisyah pernah berkata:

رويت للبيد نحوا من ألف بيت وكان الشعبي يذكرها فيتعجب من فقهها وعلمها ثم يقول : ما ظنكم بأدب النبوة!؟

“’Aku hafal dengan sya’ir baid hingga mencapai kurang lebih 1000 bait.’ Lalu Al-Sya’bi memintanya agar membacakan di hadapannya. (Setelah dibacakan) Betapa al-Sya’bi ta’jub terhadap pemahaman Aisyah dan pengetahuannya, lalu ia berkata: “Tiada kalian kan pernah bisa membayangkan, tentang bagaimana tradisi kenabian itu berlangsung!? (kecuali setelah mendengar penjelasan Sayyidah Aisyah)” (Ishaq bin Ibrahim al-Marwazy, Musnad Ummi al-Mu’minin ‘Aisyah radliyallahu ‘anha, Madinah: Maktabah al-Aiman, tt., Juz 2, halaman 30)

Kedua, Abu Zinad al-Madany, suatu ketika juga berkata:

مارأيت أحدا أروى الشعر من عروة فقيل له: ما أرواك يا أبا عبد الله؟ قال: وما روايتي من رواية عائشة ما كان ينزل بها شيء إلا أنشدت فيه شعرا

Tiada aku pernah melihat seseorang yang paling banyak riwayat syairnya dibanding Urwah.” Lalu Urwah ibn Zubair ditanya: “Apa saja yang telah kamu riwayatkan, Wahai Abu Abdillah?” Lalu Urwah menjawab: “Tiada satupun riwayat sya’ir yang aku hafal selain dari Siti Aisyah. Tiada sesuatu berlangsung dan terjadi padanya, melainkan ia menyusunnya dalam bait syair.” (al-Isti’ab li ibn Abd al-Barr, Juz 4, halaman 357).

Ketiga, Badaru al-Din al-Zarkasy sendiri di dalam al-Ijabah-nya juga mengatakan:

كانت عائشة أفصحهن لسانا

“Siti Aisyah itu orang yang paling fasih lisannya.” (al-Ijabah li Iradi ma istadrakathu ‘Aisyah ala al-Shahabah, halaman 50)

Keempat, Abu Umar ibn Abdu al-Barr, di dalam kitabnya mengatakan:

إنها كانت وحيدة عصرها في ثلاثة علوم: علم الفقه و علم الطب وعلم الشعر

“Sayyidah Aisyah merupakan perempuan tunggal di zamannya, yang menguasai tiga ilmu sekaligus, yaitu ilmu fiqih, ilmu kedokteran dan ilmu sya’ir.” (al-Isti’ab li ibn Abd al-Barr, Juz 4, halaman 357)

Kelima, datang dari kalangan sahabat terkemuka, yaitu Muawiyah bin Abi Sufyan, suatu ketika berkata:

جاء أن معاوية رضي الله عنه سأل زيادا يوما أي الناس أبلغ؟ فقال له: أنت يا أمير المؤمنين. فقال له: اعزم عليك. فقال له: حيث عزمت علي فأبلغ الناس عائشة. فقال معاوية: ما فتحت بابا قط تريد أن تبلغه إلا أغلقته ولاأغلقته بابا تريد أن تفتحه إلا فتحته

“Suatu hari Muawiyah radliyallahu ‘anhu datang menemui Ziyad dan bertanya: Adakah manusia lain yang memiliki kemampuan sempurna? Ziyad menjawab: Andalah orangnya, Wahai, Amirul Mukminin! Muawiyah lalu berkata: Aku tidak butuh pujianmu. Lalu Ziyad berkata: Menurutku, orang yang paling sempurna pengetahuannya adalah Aisyah. Muawiyah lalu berkata: “Tiada aku kan pernah membuka suatu pintu sama sekali untuknya melainkan ia sendiri yang menghendaki ditutup. Dan tiada aku kan pernah menutup suatu pintu yang ia kehendaki untuk dibuka, melainkan ia sendiri yang kan membukanya.” (Ishaq bin Ibrahim al-Marwazy, Musnad Ummi al-Mu’minin ‘Aisyah radliyallahu ‘anha, Madinah: Maktabah al-Aiman, tt., Juz 2, halaman 30)

Ada sebuah hadits yang menggambarkan bagaimana kecerdasan Sayyidah Aisyah yang kemudian menyebabkan ia digelari sebagai mu’allimatu al-shahabah (pendidik para sahabat perempuan). Termaktub dalam Kitab Shahih Bukhari:

أنَّ امْرَأَةً سَأَلَتِ النبيَّ صلى الله عليه وسلم عن غُسْلِهَا مِنَ المَحِيضِ، فأمَرَهَا كيفَ تَغْتَسِلُ، قالَ: خُذِي فِرْصَةً  مِن مَسْكٍ، فَتَطَهَّرِي بهَا قالَتْ: كيفَ أتَطَهَّرُ؟ قالَ: تَطَهَّرِي بهَا، قالَتْ: كيفَ؟ قالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ! تَطَهَّرِي، فَاجْتَبَذْتُهَا إلَيَّ فَقُلتُ: تَتَبَّعِي بهَا أثَرَ الدَّم

“Sesungguhnya seorang perempuan telah datang menghadap Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya mengenai mandi junubnya selepas haidl. Kemudian Nabi memerintahkannya bagaimana caranya mandi. Beliau bersabda: “Ambillah firshah (secarik kapas atau sutra) lalu pegang! Kemudian bersucilah kamu dengannya!” Perempuan itu bingung: “Bagaimana cara aku bersuci?” Nabi bersabda lagi: “Ya pokoknya bersucilah kamu dengannya!” Perempuan itu bertanya lagi: “Bagaimana caranya?” Lalu beliau berujar: “Subhanallah! Bersucilah kamu!” Kemudian beliau menyuruh perempuan itu menemuiku. Kemudian aku jelaskan padanya: “Tutul-tutulkan firshah itu untuk mengetahui bekasnya darah!” (HR. Imam Bukhari, Nomor Hadits 308, Juz 1, halaman 493)

Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok yang sangat pemalu. Bagi beliau sulit untuk menjelaskan apa yang dikehendaki bila hal itu menyangkut hal-hal yang bersifat pribadi. Untuk itulah beliau menyuruh agar Sayyidah Aisyah radliyallahu ‘anha menjelaskan hal itu kepada sahabat perempuan yang datang dan berkonsultasi kepadanya.

Demikianlah sekelumit kesaksian sahabat mengenai kealiman dan kefakihan Sayyidah Aisyah radliyallahu ‘anha sehingga ia diperistri Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Seolah beliau memang dipersiapkan untuk menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan ajaran yang termaktub dalam risalah kenabian. Sebagai kepanjangan tangan dari Baginda, beliau dikaruniai kemahiran dalam berbagai ilmu, yang tidak banyak perempuan-perempuan di masanya mampu menguasainya. Uniknya lagi beliau menguasai ilmu kedokteran. Darimanakah ilmu ini ia peroleh? Tunggu kupasan berikutnya di situs ini! Insyaallah!

Source : Bincangsyariah.com
Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?