Pengertian, Jenis dan Cara Menghitung Keuntungannya _*

sukuk ritel


Dalam buku
fikih ekonomi Umar bin Khattab, Dr. Jaribah sang penulis memberikan penjelasan
tentang bagaimana Umar bin Khattab menekankan investasi pada setiap warganya.

Khalifah kedua sepeninggal Abu Bakar Ash-Shiddiq tersebut selalu menyarankan kepada setiap pegawai yang telah mendapatkan penghasilan dari hasil pekerjaannya untuk tidak menghabiskan seluruh gajinya untuk konsumsi. Beliau menyarankan para pekerja untuk menyisihkan setiap gajinya untuk membeli kambing. Bila mendapat gaji lagi maka sebagian belikan kambing lagi dan seterusnya.

Hal ini memberikan gambaran tentang pentingnya menahan diri dari konsumsi ketika menerima penghasilan untuk kemudian diinvestasikan dalam bentuk kambing.

Bukankah kambing ketika dikembangbiakkan dapat menghasilkan produk berupa anak kambing ataupun susu yang kemudian bila dikelola bisa menghasilkan uang?

Fenomena Investasi Islam Zaman
Sekarang

Indonesia sebagai negara dengan umat Islam terbesar di dunia tidak kalah perkembangannya dalam bidang investasi.

Mulai dari
produk investasi berupa saham syariah, reksadana syariah, deposito syariah dan
sebagainya kini sudah banyak dihadirkan oleh berbagai institusi keuangan
syariah.

Tidak
ketinggalan, pemerintah juga mendorong tumbuhnya investasi syariah dengan
menghadirkan instrument investasi baru yaitu sukuk.

Sukuk
sendiri secara global sudah ada sejak awal peradaban Islam yaitu pada abad ke-6
masehi.

Salah satu
Khalifah Islam yaitu Marwan dari dinasti Umayyah memanfaatkan sukuk untuk membayar
tentara dan aparat negaranya, sukuk saat itu  dikenal dengan sebutan “kupon utk komoditas”

Kemudian Digunakan
oleh Kesultanan Turki sebagai instrumen public financing dalam rangka
membiayai renovasi infrastruktur yang rusak akibat perang Salib

Tahun
1990, Shell Malaysia menerbitkan Sukuk senilai US$ 40 juta (RM 125 juta)
melalui private issue di pasar modal Kuala Lumpur (Bursa Malaysia)

Sejak
tahun 2000, pasar Sukuk berkembang pesat dimana korporasi dan pemerintah menjadi
pemain utama di pasar Sukuk

Di
Indonesia, sukuk pertama kali diterbitkan oleh PT. Indosat Tbk pada tahun 2002.
Nilai penerbitan sukuk yang dilakukan oleh Indosat adalah sebesar Rp 175 Milyar
dengan tenor 5 tahun dan menggunakan akad Mudharabah.

Lalu Tahun
2004 penerbitan sukuk disusul oleh Berlian Laju Tanker, Berlina, Humpuss
Intermoda, Matahari, Sona Topas, dan Apexindo.

Kemudian
sukuk ini dibuat regulasinya pada tahun 2008 dan diformalkan namanya menjadi
Surat Berharga Syariah Negara (SBSN)

Lalu, apa
itu sukuk? Apa saja jenisnya? Dan bagaimana memulai investasi sukuk?

Itulah yang akan dibahas pada artikel kali ini.

Baca Juga: 6 Investasi Jangka Panjang untuk Hari Tua

Pengertian Sukuk

Sukuk secara
bahasa berasal dari bahasa arab yaitu, “shak”
yang memiliki arti instrument legal ataupun cek.

AAOIFI
sebuah lembaga ekonomi islam internasional mendefinisikan sukuk sebagai
Sertifikat dengan nilai yang sama mewakili bagian yang tidak terbagi dalam
kepemilikan aset berwujud, hak pakai dan layanan atau (dalam kepemilikan) aset
proyek tertentu atau aktivitas investasi khusus

Adapun pengertian dari undang-undang SBSN,sukuk adalah Surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap Aset SBSN, baik dalam mata uang Rupiah maupun valuta asing.

Perbedaan Sukuk dan Obligasi

Sukuk
sering disamakan dengan obligasi. Bahkan secara penamaan sukuk dijuga
diistilahkan sebagai obligasi syariah. Namun, terdapat perbedaan antara sukuk
dan obligasi. Perbedaan tersebut dapat terlihat dari beberapa kategori.

Dari segi
prinsip dasar, Sukuk bukan merupakan surat utang, melainkan kepemilikan bersama atas
suatu aset/proyek sedangkan obligasi adalah surat pernyataan utang dari issuer

Dilihat dari sisi klaim, pada sukuk klaim kepemilikan didasarkan pada asset/proyek yang spesifik sedangkan pada obligasi Emiten menyatakan sebagai pihak peminjam

Kemudian,
sukuk dalam hal jaminan ia tidak dijamin oleh issuer terkait imbal hasil dan penggunaan dana harus digunakan pada
kegiatan usaha yang halal. Adapun untuk obligasi sudah dijamin keuntungannya
oleh issuer karena menggunakan sistem
bunga dan untuk penggunaan dana tidak harus diperuntukan hanya untuk yang
halal.

Terakhir, sukuk sangat identik dengan adanya underlying asset. Tanpa adanya aset maka sukuk tersebut tidak sah. Adapun untuk obligasi tidak wajib adanya underlying asset. Karena sistem yang digunakan adalah bunga.

Baca Juga: 5 Investasi Jangka Pendek Kurang dari 1 Tahun

Jenis-Jenis Sukuk

Bicara
soal jenis sukuk, terdapat banyak jenis sukuk berdasarkan kategorinya. Namun
yang umum dikenal adalah sukuk yang berdasarkan pada penerbitnya.

Setidaknya
ada dua jenis sukuk berdasarkan penerbitnya yaitu sukuk korporasi dan sukuk
pemerintah.

Sukuk Korporasi

Sukuk
korporasi adalah sukuk yang diterbitkan oleh sebuah perusahaan. Mereka yang
menerbitkan sukuk bermaksud untuk mendapatkan tambahan dana untuk menjalankan
perusahaannya selain dari dana internal ataupun dari pinjaman perbankan.

Beberapa
korporasi yang menerbitkan sukuk khususnya pada tahun 2019 diantaranya, PT Adira Dinamika Multifinance menerbitkan tiga seri sukuk
dengan nilai Rp312 miliar, kemudian PT XL Axiata Tbk menerbitkan sebanyak lima
seri dengan nilai Rp260 miliar, dan PT PLN (Persero) sebanyak enam seri dengan
total nilai Rp863 miliar. Lalu PT. Indosat Tbk sebagai pelopor
penerbitan sukuk korporasi pada tahun 2019 juga menerbitkan sukuk sebanyak lima
seri  dengan nilai Rp500 miliar.

Sukuk Pemerintah

Adapun
sukuk pemerintah adalah sukuk yang dikeluarkan oleh pemerintah sebagai media
untuk menjaring dana dari masyarakat yang umumnya diperuntukan untuk mengelola
kegiatan usaha pemerintah.

Sukuk
pemerintah sendiri terbagi menjadi dua jenis diantaranya sukuk ritel dan sukuk
tabungan.

Sukuk
Ritel

Sukuk
ritel adalah adalah produk investasi syariah yang ditawarkan oleh
Pemerintah kepada individu Warga Negara Indonesia, sebagai instrumen investasi
yang aman, mudah, terjangkau, dan menguntungkan. Pada sukuk ritel, pemesanan
atau investasi bisa dimulai dengan modal minimal hanya Rp 1 juta dengan tenor
selama 3 tahun.

Sukuk
ritel bisa kamu beli pada agen penjual. Siapa aja agen penjual sukuk ritel?

Sukuk
ritel di jual oleh bank ataupun perusahaan sekuritas.

Sukuk pemerintah ini telah sesuai syariah karena dikelola berdasarkan prinsip syariah,
tidak mengandung unsur maysir (judi) gharar (ketidakjelasan) dan riba (usury),
serta telah dinyatakan sesuai syariah oleh Dewan Syariah Nasional – Majelis
Ulama Indonesia (DSN-MUI)

Penerbitan sukuk  menggunakan akad Ijarah dengan format asset to be leased. Ini adalah jenis ijarah dimana obyeknya sudah ditentukan dari
segi spesifikasinya dan sebagian obyeknya sudah terlihat pada saat terjadinya
akad namun keseluruhan atas obyek ijarah dilakukan
pada masa mendatang sesuai kesepakatan.

Pada sukuk ritel return/imbal hasil yang ditawarkan khususnya pada seri SR-011
adalah 8,05%.

Sukuk Tabungan

Sukuk
tabungan juga merupakan produk investasi syariah dari pemerintah tetapi
perbedaannya terdapat pada tenornya dimana pada sukuk tabungan tenor yang
berlaku adalah selama 2 tahun.

Menariknya per Agustus 2019, pemerintah
menawarkan produk sukuk berseri ST005. Sukuk tabungan yang baru dikeluarkan ini
menawarkan imbal hasil sebesar 7,4% dengan tenor selama 2 tahun.

Untuk pembelian sukuk tabungan, kamu bisa
membelinya di 22 mitra distribusi sukuk yang tersebar diantaranya di PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Mandiri
(Persero) Tbk, PT Bank Negara lndonesia (Persero) Tbk, PT Bank Permata Tbk, PT
Bank Rakyat lndonesia (Persero) Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, dan
PT Bank CIMB Niaga Tbk dan beberapa lembaga keuangan lainnya.

Selain itu, untuk mempermudah masyarakat dalam hal pembelian sukuk, pemerintah memfasilitasi pemberian sukuk secara online dengan mengakses situs resmi kemenkeu pada website: www.kemenkeu.go.id/sukuktabungan.

Baca Juga: Panduan Investasi Saham untuk Pemula

sukuk

Mekanisme Keuntungan Transaksi Sukuk

Untuk menjelaskan mekanisme atas keuntungan
dari transaksi sukuk, maka akan diilustrasikan sebagai berikut.

Contoh:

Nita adalah seorang karyawan di sebuah
perusahaan swasta yang tertarik membeli sukuk. Dari kedua jenis sukuk yang ia
ketahui yaitu sukuk tabungan dan sukuk ritel, Nita memilih untuk investasi di
sukuk ritel. Ia menginvestasikan uangnya pada sukuk seri ST005 sebesar 10 juta
rupiah dengan tenor 2 tahun dan imbal hasil sebesar 7,4% per tahun.

Dalam praktiknya, perhitungan imbal hasil atas sukuk dibayarkan setiap bulan. Sehingga, untuk menghitung keuntungan Nita per bulan adalah Rp10.000.000x 7,4% = Rp740.000/tahun. Karena pembagian imbal hasil diberikan setiap bulan tepatnya pada tanggal 10 maka Rp740.000/12 = Rp61.667 per bulan.

 Namun itu masih keuntungan kotor. Karena dalam sukuk perlu dibayarkan pajak sebesar 15%. Sehingga keuntungan bersi yang diterima Nita setiap bulan adalah sebesar Rp52.417 per bulan selama 2 tahun. Sehingga total dalam 2 tahun adalah sebesar 1.258.008

Bila dibuat secara sederhana dalam bentuk tabel maka ilustrasinya adalah sebagai berikut:

Alternatif Investasi : P2P Lending
Syariah

Dari semua
penjelasan yang ada tentang sukuk tersebut, apakah kamu sudah mulai tertarik
untuk berinvestasi di instrument ini?

Jikalau
masih ragu dan merasa bahwa investasi sukuk terlalu mahal di kantongmu terlebih
pendapatanmu yang mungkin masih pas-pasan tapi tetap ingin investasi.

Kamu bisa mengambil
alternatif investasi lainnya yaitu investasi di P2P Lending Syariah.

Apa itu
P2P Lending Syariah?

P2P Lending Syariah adalah platform yang menghubungkan antara pihak yang memerlukan modal untuk usaha dengan pihak lain yang memiliki kelebihan modal yang memang diniatkan untuk investasi. Salah satu startup yang menggunakan platform P2P Lending Syariah adalah Qazwa. Startup ini bertujuan untuk mendorong UMKM agar bisa meningkatkan usahanya dengan fasilitas pembiayaan.

Jadi platform ini akan menghubungkan investor/pemiliki modal dengan pihak UMKM yang memerlukan pembiayaan atas usahanya. Akad yang digunakan tentunya akad yang sesuai dengan kaidah syariah yaitu murabahah dan mudharabah.

Untuk
menjaga keamanan dan kenyamanan investor, Qazwa sudah diawasi oleh Otoritas
Jasa Keuangan sebagai pihak yang berperan dalam mengawasi laju industri keuangan
di Indonesia salah satunya fintech berbentuk
P2P Lending. Selain itu, untuk menjaga kehalalan usahanya, Qazwa juga diawasi
oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia.

Berbeda
dengan sukuk yang memerlukan biaya yang besar untuk investasi, pada P2P Lending
Syariah khususnya di Qazwa, modal minimal yang diperlukan untuk memulai
investasi adalah sebesar Rp100.000. Imbal hasil yang diberikan juga cukup
menggiurkan yaitu hinggga 24%.

Jadi, kalau kamu memiliki kendala untuk investasi di sukuk. Investasi di P2P Lending Syariah seperti Qazwa bisa menjadi alternatif terbaik untukmu.

Baca Juga: Jenis-Jenis Akad dalam P2P Lending

Kesimpulan

Sukuk adalah instrument investasi syariah yang memang sedang marak dan digencarkan khususnya oleh pemerintah. Karena instrument ini menjadi salah satu sumber pembiayaan APBN yang diperuntukan untuk kepentingan publik seperti infrastruktur, pendidikan dan sebagainya. Kalau kamu memiliki uang yang berlebih untuk investasi di Sukuk maka cobalah untuk investasi di instrument ini. Selain menguntungkan, kamu juga membantu negara untuk melakukan pembangunan yang pada akhirnya dapat bermanfaat untuk masyarakat umum.

Jika kamu tertarik dengan konten islami seperti ini, kamu bisa juga melihat tulisan lainnya di Topik Ekonomi Islam. Jika kamu lebih menyukai konten video kamu bisa mengunjungi Channel Youtube Qazwa.

Source : qazwa.id
Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin