Pengertian Tauhid dan Pembagiannya dalam Islam _*

Pada zaman Jahiliyyah. Banyak sekali masyarakat Jazirah Arab yang menyembah berhala. Dan ‘sesuatu’ yang mereka sembah tersebut memiliki berbagai macam jenis dan rupa.

Pada zaman tersebut banyak sekali orang yang memiliki tuhan mereka masing-masing, yang mana tuhan-tuhan tersebut dibuat dan diagungkan oleh tangan-tangan manusia sendiri. Tanpa ada landasan yang benar selain dari spekulasi dan pandangan yang salah atas hati manusia.

Itulah kenapa saat Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam diturunkan untuk membenarkan akhlak para masyarakat Jahiliyyah, beliau menyebarkan ajaran Tauhid.

Yang dimaksud Tauhid adalah keyakinan bahwa Tuhan penguasa Alam semesta hanyalah satu, tidak beranak, tidak beristri, tidak bersaudara. Satu, dan hanya Allah SWT.

Namun tentu, karena masyarakat pada masa itu masih berpegang teguh kepada keyakinan nenek moyang dan mereka masih menganggap bahwa penyembahan berhala adalah hal yang sakral, mengakibatkan mereka tidak langsung bisa menerima ajaran yang disampaikan Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal itulah yang mendasari adanya banyak diskriminasi terjadi kepada Rasulullah maupun sahabat-sahabat yang mendukung perjuangan beliau.

Makna dari Tauhidsendiri, sudah berulang kali disampaikan oleh Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa hadist, yang mana salahsatu diantara hadist tersebut berbunyi :

عَنْ مُعَاذٍ – رضى الله عنه – قَالَ : كُنْتُ رِدْفَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ ، فَقَالَ :« يَا مُعَاذُ ، هَلْ تَدْرِى حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ ؟ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ ؟ » . قُلْتُ : اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ . قَالَ :« فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِه شَيْئاً ، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً » . فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَفَلاَ أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ ؟ قَالَ :« لاَ تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا ».

Dari Mu’adz radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Aku pernah dibonceng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas sebuah keledai yang bernama ‘Ufair, lalu Beliau bersabda, “Wahai Mu’adz, tahukah kamu hak Allah yang wajib dipenuhi hamba-hamba-Nya? Dan apa hak hamba yang pasti dipenuhi Allah?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya hak Allah yang wajib dipenuhi hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan hak hamba yang pasti dipenuhi Allah adalah Dia tidak akan mengazab orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku beritahu kan kabar gembira ini kepada manusia?” Beliau menjawab, “Tidak perlu kamu sampaikan, nanti mereka akan bersandar.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist diatas menjelaskan tentang maksud dari Tauhid dan kenapa Tauhid merupakan hak Allah yang wajib dipenuhi oleh setiap hamba.

Tentu dalam memaknai arti Tauhid lebih dalam, tidak berhenti sampai disitu saja. Dikarenakan sejatinya Tauhid dapat dijabarkan menjadi beberapa bagian. Yang mana bagian-bagian tersebut setidaknya harus diketahui maknanya agar kita lebih paham tentang maksud dari ajaran Tauhid.

Asal usul Pembagian Tauhid berdasar dari Al Qur’an

Sejatinya, pembagian maksud dari Tauhid tidak secara langsung dijabarkan dalam Al-Qur’an. Namun para ulama yang mengkaji hal tersebut memiliki pembagian yang didasari dari salah satu ayat yang mana ayat tersebut mewakili makna dari Tauhid tersebut. Ayat yang dimaksud adalah QS. Maryam ayat 65, yang berbunyi :

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً

Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan segala sesuatu yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (Maryam: 65).

Atas ayat diatas, para ulamamenjabarkan makna dari Tauhid menjadi tiga bagian. Ketiga bagian tersebutadalah sebagai berikut :

  • Dalam firman-Nya (رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ)(Rabb (yang menguasai) langit dan bumi) merupakan penetapan Tauhid rububiyah.
  • Dalam firman-Nya (فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْلِعِبَادَتِهِ) (maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadahkepada-Nya) merupakan penetapan Tauhid uluhiyah.
  • Dan dalam firman-Nya (هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً)(Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia?) merupakanpenetapan Tauhid asma’ wa shifat.

Sehingga dapatdiketahui bahwa pembagian Tauhid dibagi menjadi tiga. Yaitu Tauhid rububiyah, Tauhid uluhiyah, dan Tauhid asma’ washifat.

Penjelasan Tiga Cabang Tauhid

Setelah mengetahui bahwa Tauhid memiliki 3 bagian. Maka kita harus pula memahami atas tiga cabang tersebut. Berikut adalah penjelasannya.

1. Tauhid Rububiyah

Yang dimaksud adalah kita harus percaya bahwapenciptaan, pengurusan dan pemerintahan alam semesta dan segala isinya hanyalahAllah dan tidak ada yang lain. Hal ini sejalan dengan QS. Al A’raf ayat 54 yangberbunyi :

أَلاَلَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah” (Al- A’raf: 54).

Menegaskan bahwa tidak ada selain Allah adalah penyebab terbentuknya alam semesta beserta isinya. Dan tidak ada selain Allah pula yang memerintah alam semesta.

2. Tauhid Uluhiyah

Yangkedua ini memiliki makna sebagai Tauhid Ibadah. Yaitu tidak ada makhluk selainAllah yang berhak diibadahi dan tidak ada makhluk selain Allah yang berhakuntuk disembah. Hal ini sejalan dengan QS. Luqman ayat  30 :

ذَلِكَ بِأَنَّ اللهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَايَدْعُونَ مِن دُونِهِ الْبَاطِلُ

”Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya yang mereka seru selain Allah adalah batil” (Luqman: 30).

Yang mana memiliki makna bahwa haram hukumnya menyembah selain Allah, karena hal tersebut merupakan perkara yang bathil dan tidak boleh dilakukan.

3. Tauhid Asma’ wa Sifat

Yangdimaksud adalah mempercayai Allah Atas nama-nama yang telah ditetapkan oleh-Nyasendiri. Dan tidakmengingkari nama-nama tersebut. Percaya bahwa nama-nama tersebut benar tanpa mengilustrasikan (Takyif), menyerupakan dengan sesuatu(Tamtsil), menyimpangkan makna (Tahrif), atau bahkan menolak nama atau sifattersebut. Contoh adalah Al Bashiiryaitu Allah maha melihat, makabegitulah adanya. Hal ini sejalan dengan makna dari QS. Asy-Syuura ayat 11 yangberbunyi :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ

”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Asy-Syuura: 11)

Makna dari tauhid asma’ wasifat adalah mempercayai Allah atas segala nama dan Sifat yang Allah miliki.

Tentunya,dalam mempelajari pengertian tauhid dan pembagiannya dalam islam, dapat  menjadikan kita lebih paham atas ajaran Allahdan lebih pula menambah keimanan karena dalam mengamalkan ajaran tiga cabangtauhid, kita akan mengetahui bahwasannya Allah selalu mengawasi atas segalaperbuatan kita, dan membenarkan ajaran-ajaran Islam yanbg disampaikan karenasegala sesuatunya menjadi saling berhubungan.

Adapunkita sebagai umat muslim harus berhati-hari dalam bertindak karena Allah jugamenjanjikan siksa yang pedih bagi mereka yang melalaikan aturanNya.

Apapun itu, semoga penjelasan diatas dapat bermanfaat dan menjadikan kita sebagai manusia yang lebih baik dari kemarin. Amin InsyaAllah.

Sumber : dalamislam.com

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin