Penjelasan Warisan untuk Saudara | Bincang Syariah _*

BincangSyariah.Com – Kewarisan saudara dijelaskan dalam Alquran dalam dua ayat yaitu dalam surah al-Nisa’ [4]: 12 dan 176. Dalam surah al-Nisa’ ayat 12 Allah Swt. berfirman:

وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلَالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ ۚ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَٰلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ

Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu.

Dalam ayat 176, Allah Swt. berfirman

يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللَّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلَالَةِ ۚ إِنِ امْرُؤٌ هَلَكَ لَيْسَ لَهُ وَلَدٌ وَلَهُ أُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ ۚ وَهُوَ يَرِثُهَا إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهَا وَلَدٌ ۚ فَإِنْ كَانَتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثَانِ مِمَّا تَرَكَ ۚ وَإِنْ كَانُوا إِخْوَةً رِجَالًا وَنِسَاءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۗ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ أَنْ تَضِلُّوا ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Mereka meminta fatwa kepadamu tentang kalalah. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dari kedua ayat di atas dapat disimpulkan ketentuan hukum kewarisan saudara sebagai berikut:

Pertama, saudara mendapatkan warisan jika pewaris meninggal dalam keadaan kalalah. Pengertian kalalah oleh para ulama faraidh dikatakan ketika pewaris meninggal tanpa meninggalkan anak. Di sini sebagian ulama mengatakan anak laki-laki. Ketentuan tambahan lainnya adalah dan bapak pewaris telah meninggal dunia lebih dahulu dari pewaris.

Kedua, besar bagian saudara pada ayat 12 adalah jika jumlah saudara dua orang atau lebih, maka saudara mendapatkan 1/3 dan jika hanya satu orang maka saudara mendapat 1/6. Oleh para ulama menafsirkan yang dimaksud saudara di sini adalah saudara seibu, sebagaimana dalam tafsir al-Jalalain karya Al-Suyuthi.

Ketiga, pada ayat 176 besar bagian saudara seperti halnya bagian anak. Satu saudara perempuan 1/2, dua atau lebih saudara perempuan 2/3, saudara perempuan bersama saudara laki-laki bersama-sama sebagai ‘ashabah (mendapatkan sisa dengan perbandingan 2:1, yakni dua bagian untuk laki-laki, satu bagian untuk perempuan). Adapun maksud saudara dalam ayat ini adalah saudara kandung atau saudara sebapak.

Selain ketentuan di atas, saudara seibu akan tampil sebagai ahli waris jika pewaris tidak meninggalkan anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki.

Adapun saudara kandung dengan saudara sebapak dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, Jika ada saudara laki-laki sekandung, maka saudara sebapak baik laki-laki maupun perempuan tidak tampil sebagai ahli waris.

Kedua, jika ada saudara perempuan sekandung bersama dengan saudara perempuan sebapak maka saudara perempuan sekandung mendapatkan 1/2 dan saudara perempuan sebapak satu orang atau lebih mendapatkan 1/6 takmilah (penyempurna).

Ketiga, ketika ada saudara perempuan sekandung dua orang atau lebih maka saudara perempuan sebapak satu orang atau lebih tidak tampil sebagai ahli waris. Namun jika saudara sebapak tersebut bersama dengan saudara sebapak laki-laki maka saudara sebapak mendapatkan sisa/ashabah.

Wallahu a’lam.

Source : Bincangsyariah.com
Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?