Peradaban Islam Dibentuk Para Perempuan Pendukung Dakwah Rasulullah Ini _*

Michael H. Hart dalam karyanya The 100 menuliskan seratus tokoh yang dianggap paling berpengaruh dalam sejarah peradaban manusia. Yang mengagumkan, nama Nabi Muhammad SAW bertendeng pada urutan pertama, sebagai penyebar agama Islam dan penguasa Arabia.

Keberhasilan Rasulullah SAW dalam menyebarkan Islam memang begitu mengagumkan. Namun perlu diingat pula, bahwa di balik misi dakwah penegakkan Islam, ada dukungan yang amat besar dari para sahabat, baik laki-laki maupun perempuan.

Beberapa sahabat perempuan yang aktif menyokong dakwah Nabi Muhammad Saw diantaranya:

Khadijah binti Khuwailid

Perempuan yang paling berjasa dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW adalah Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Qushai al-Qurasyiah al-Asadiyah. Ia adalah istri pertama Rasulullah SAW, juga orang pertama yang meyakini kenabian Muhammad SAW.

Tubuh Khadijah sudah melemah dimakan usia tatkala suaminya memutuskan beruzlah di Gua Hira. Akan tetapi, putri Khuwailid ini tak pernah absen mengunjungi dan membawakan bekal untuk lelaki berjuluk al-Amin ini.

Saat wahyu pertama diturunkan, kala Nabi Muhammad SAW begitu kalut, pucat, gemetar dan takut, Khadijah adalah tujuan pertama utusan Allah ini. Dengan sigap, Khadijah dapat membaca keadaan, menyelimuti suaminya dan menenangkannya, Bahkan tanpa keraguan segera menyatakan keimanan.

Khadijah adalah pebisnis sukses di masanya. Ia rela mengorbankan harta bendanya demi membela dakwah Nabi Muhammad SAW. Kepada Khadijah pula segala keluh kesah Rasulullah bermuara.

Sosok Khadijah selalu diingat Rasulullah SAW, bahkan ia bersabda: Tidaklah Allah menggantikan untukku orang yang lebih baik darinya (Khadijah). Ia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku. Ia mempercayaiku tatkala orang-orang mendustaiku. Ia membantuku dengan hartanya saat orang-orang menahan (hartanya) dariku. Dan Allah menganugerahkanku anak-anak yang aku tak dapatkan dari istri-istriku yang lain. (HR. Ahmad)

Fatimah binti Muhammad SAW

Sebagai putri Rasulullah Saw, Fatimah senantiasa berada di samping ayahnya. Bahkan saat ibundanya wafat, Fatimah lah yang mengurus segala kebutuhan ayahnya, hingga ia dijuluki Ummu abiha (ibu ayahnya).

Fatimah adalah perempuan pemberani. Abdullah bin Masud pernah bercerita, “Kami sedang bersama Rasulullah SAW di masjid saat beliau sedang shalat. Ketika itu ada seekor domba yang disembelih dan tersisa isi perutnya.”

Abu Jahal kemudian bertanya “Adakah seseorang yang mau mengambil isi perut domba ini dan melemparkannya ke Muhammad?” Uqbah bin Mu’ith mengangkat tangan dan menyanggupi tantangan tersebut.

Tapat saat Rasulullah SAW sujud, Uqbah melemparkan jeroan itu ke punggung Nabi SAW. Para kafir Quraisy tertawa keras, sedangkan orang-orang di sekitar Nabi SAW tak ada yang berani bertindak.

Abdullah bin Mas’ud berkata “Kami takut untuk mengangkatnya dari punggung Nabi SAW, dan aku hanya berdiri melihatnya. Seandainya aku memiliki kekuatan, maka akan aku buang isi perut itu dari punggung Rasulullah SAW.”

Nabi Muhammad SAW masih saja bersujud hingga akhirnya Fatimah datang dan mengangkat kotoran tersebut dari punggung ayahnya.

Muhammad Ibrahim Salim dalam an-Nisa Haula ar-Rasul mengemukakan, dalam pertempuran Uhud, saat kaum musyrikin telah pergi menjauh, para sahabat perempuan, termasuk Fatimah segera menghampiri prajurit yang terluka.

Ketika Fatimah menemukan Nabi SAW, ia segera memeluk ayahnya itu dan dengan cekatan mencuci lukanya. Namun darah tak berhenti mengalir, justru mengucur semakin deras.

Istri Ali bin Abi Thalib ini lalu membakar sebuah tikar –di masa itu tikar biasanya terbuat dari daun papirus,- kemudian menyeka luka Rasulullah SAW dengan tikar yang sudah dipanaskan tersebut, hingga lukanya menutup dan darahnya berhenti mengalir.

Asma binti Abu Bakar

Asma binti Abu Bakar menjadi salah satu perempuan yang berjasa dalam perjalanan dakwah Islam. Ketika para tokoh Quraisy berencana mengepung dan membunuh Nabi Muhammad SAW, Rasulullah SAW dan Abu Bakar segera meninggalkan Makkah di malam hari.

Mengetahui target mereka tak ada di kediamannya, para musyrikin Makkah segera menuju rumah Abu Bakar dan menggedor-gedor pintunya. Asma kemudian membukakan pintu.

“Di mana ayahmu?” Tanya mereka

“Aku tak tahu di mana ayahku,” jawab Asma

Tak mendapatkan jawaban dari Asma, Abu Jahal langsung menampar putri Abu Bakar itu hingga anting-antingnya terlepas.

Asma tentu saja tahu ke mana ayahnya pergi, sebab di malam hari, ia keluar dari rumahnya dengan perbekalan makanan. Menyusuri jalan berliku dan berbatu menuju Gua Tsur, tempat Rasulullah SAW dan ayahnya bersembunyi.

Sesampainya di sana, Asma menyadari bahwa ia lupa membawa tali untuk mengikatkan bekal tersebut ke kuda Rasulullah SAW dan Abu Bakar. Maka dirobeklah selendangnya menjadi dua, satu untuk bungkus makanan dan satu lagi digunakan sebagai ikat pinggangnya. Akhirnya ia pun dijuluki dzatu nithaqain (pemilik dua ikat pinggang).

Asma tentu menyadari perbuatannya dapat membahayakan dirinya, namun ia tak gentar membela dakwah Nabi Muhammad SAW.

Nusaibah binti Ka’ab al-Anshariyah

Perempuan lain yang berjasa dalam perjalanan dakwah Nabi Saw adalah Nusaibah binti Ka’ab al-Anshariyah. Perempuan yang akrab disapa Ummu Umarah ini dikenal sebagai sahabat senior yang pemberani dan kuat.

Nusaibah pernah mengikuti beberapa pertempuran bersama pasukan muslim, di antaranya perang Uhud, Hunain, dan Yamamah. Tak hanya bertugas menyetok bahan makanan dan merawat yang terluka, tapi juga langsung turun ke medan pertempuran.

Tatkala pasukan muslim terhimpit di medan Uhud, Nusaibah justru terus menerobos melawan musuh. Terlebih saat Ibnu Qamai’ah berusaha membunuh Nabi SAW, perempuan Anshar ini langsung melindungi Rasulullah SAW dengan segenap tenaga yang dimiliki.

Akibat perlawanan tersebut, darah mengalir di sekujur tubuh Nusaibah, bahkan ada sekitar 13 luka di badannya yang membutuhkan waktu setahun untuk mengobatinya.

Karena jasa besar Nusaibah dalam perang Uhud, Rasulullah Saw kemudian bersabda “Kedudukan Nusaibah binti Ka’ab lebih baik daripada si fulan dan si fulan”.

Asma binti Yazid

Asma binti Yazid bin as-Sakan al-Asyhaliyyah adalah orator dan aktivis gender di masa Rasulullah. Tak hanya mendukung kesetaraan hak laki-laki dan perempuan, sahabat dari kalangan Anshar ini juga aktif menegakkan agama Allah Swt.

Asma binti Yazid pernah mengikuti beberapa peperangan, yaitu Khandaq, Khaibar dan Yarmuk. Ia tak hanya bertugas menyuplai makanan dan merawat yang terluka, tapi juga ikut serta menghadang musuh.

Dalam Siyar A’lam an-Nubala disebutkan bahwa sepupu Mua’adz bin Jabal ini terjun ke medan pertempuran Yarmuk dan berhasil membunuh sembilan tentara Romawi. Kekuatan Asma tak diragukan lagi, betapa tidak, pasukan Romawi, kala itu, memang tercatat sebagai prajurit terkuat dan terbesar di dunia.

Aisyah binti Abu Bakar

Salah satu bentuk dakwah yang dilakukan sahabat perempuan adalah melalui ilmu. Inilah yang aktif digencarkan Aisyah ummul mukminin. Sebagai istri yang mendapat pengajaran langsung dari Nabi Muhammad SAW, Aisyah mewarisi begitu banyak pengetahuan dari suaminya.

Kontribusi Aisyah dalam khazanah keilmuan Islam amat besar, baik dalam bidang fikih, hadis, maupun tafsir. Perempuan yang dikenal cerdas dan kritis ini bahkan menduduki urutan keempat dari al-muktsirun fi ar-riwayah (orang-orang yang paling banyak meriwayatkan hadis). Tercatat sebanyak 2.210 hadis diriwayatkan putri Ummu Ruman ini, sebagaimana tercantum dalam Taisir Musthalah Hadits.

Melalui keilmuan Aisyah, dakwah Islam dan sabda-sabda Rasulullah Saw bisa tersebar kepada umat Islam hingga saat ini.

 

*Analisis ini hasil kerjasama Islami.co & Rumah KitaB

Source : islami.co
Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?