Saat Rasulullah Disihir Orang Yahudi, Allah Turunkan 2 Surat Ini _*

loading…

Sejarah sihir pertama kali terjadi di masa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Berawal dari kaum Bani Israel yang sering menggunakannya untuk mencelakakan orang yang menjadi targetnya.

Sihir disebut juga guna-guna, santet dan ilmu hitam. Di masa Nabi Sulaiman, para setan sering mencuri kabar dari para Malaikat yang naik turun ke langit kemudian menyampaikan hal itu kepada para tukang sihir dan dukun.

Baca Juga: Terkena Sihir? Begini Terapi Pengobatannya

Hal ini diabadikan Allah dalam Al-Qur’an: “…Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan, dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Dan sungguh, mereka sudah tahu, barangsiapa membeli (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat. Dan sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka tahu.” (QS Al-Baqarah: 102)

Rasulullah Disihir Orang Yahudi
Tak hanya manusia biasa, sihir dan guna-guna ini juga pernah dialami manusia agung Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau terkena sihir oleh orang Yahudi yang ingin mencelakai beliau.

Riwayat Ibnu Abbas menceritakan bahwa pada suatu waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengalami sakit yang cukup parah. Setelah diteliti oleh dua Malaikat yang menjenguk beliau, ternyata beliau terkena sihir Labid bin ‘Asham, seorang Yahudi. Sihirnya berupa gulungan ijuk yang teridiri dari 11 buhul pada seutas tali. Oleh karena itu, Allah Yang Maha Agung memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar membaca dua surat ini (Al-Falaq dan An-Nas), yang terdiri dari 11 ayat. Setiap satu ayat dibaca, lepaslah buhul tali pada gulungan ijuk tersebut. Setelah itu, badan Beliau pun menjadi sehat kembali. (HR Abu Nu’aim)

Diceritakan dalam Hadis yang diriwayatkan Abu Nu’aim, ketika Nabi mengalami sakit amat parah, Allah mengutus dua Malaikat untuk menjenguk beliau. Salah satu Malaikat duduk di sebelah kepala dan yang satunya duduk di bagian kaki. Kedua Malaikat itu terlibat dialog.

“Apa yang kamu lihat terhadap diri Rasulullah?” tanya Malaikat yang berada di bagian kaki.

“Beliau kena sihir,” jawab Malaikat yang di bagian kepala. “Siapa gerangan yang menyihirnya?”

Jawab Malaikat: “Labid bin Al-A’sham, seorang Yahudi. Sihirnya berupa ijuk gulungan yang diletakkan di sumur sebelah sana, pada keluarga si anu, di bawah batu besar. Maka timbalah air sumur dan angkatlah batu besar itu, kemudian ambil dan bakarlah ijuk tersebut.”

Rasulullah memperhatikan dialog tamunya itu. Esok harinya, beliau memerintahkan ‘Amar bin Yasir dan sahabat untuk mendatangi sumur yang dikatakan Malaikat. Ketika sampai di sumur, terlihat airnya sangat merah seperti darah. Maka air pun ditimba dan batu besar diangkat. Gulungan ijuk itu dikeluarkan kemudian dibakar.

Ketika diamati, dalam gulungan ijuk terdapat 11 buhul pada seutas tali. Maka terbuktilah apa yang dikatakan Malaikat yang berpura-pura menjadi tamu dan menjenguk Rasulullah itu. Malaikat menjelma sebagai manusia, dua insan yang bersaudara.

Maka turunlah Surat perlindungan Al-Falaq dan An-Naas. Sehubungan dengan sakitnya Rasulullah, Beliau diperintahkan Allah Ta’ala membaca kedua surah tersebut. Setiap satu ayat dibaca, maka lepaslah buhul tali pada gulungan ijuk yang digunakan untuk menyihir beliau. Maka begitu beliau selesai membaca, badan pun sehat seperti sedia kala.

Inilah keutamaan Surat Al-Falaq dan An-Naas yang disebut Al-Mu’awwidzatain. Surat ini dapat diamalkan untuk perlindungan dari kejahatan setan, jin maupun sihir manusia.

Surat Al-Falaq dan Terjemahannya

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ . مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ . وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ . وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ . وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Qul a’uudzu birobbil falaq. Min syarri maa kholaq. Wa min syarri ghoosiqin idzaa waqob. Wa min syarrin naffaatsaati fil ‘uqod. Wa min syarri haasidin idzaa hasad.

“Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”. (QS.Al-Falaq:1-5)

Surat An-Naas dan Terjemahannya:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ . مَلِكِ النَّاسِ . إِلَهِ النَّاسِ . مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ . الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ . مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

Qul a’uudzu birobbinnaas. Malikin naas. Ilaahin naas. Min syarril waswaasil khonnaas. Alladzii yuwaswisu fii shuduurin naas, minal jinnati wan naas.

“Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (QS An-Naas:1-6)

Baca Juga: Asbabun Nuzul Surah Al-Falaq dan An-Naas Berkaitan dengan Sihir

(rhs)

Sumber : sindonews.com
Featured Image : unsplash.com
Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahli Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihiadada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?