Saleh tapi Kok Miskin? | Republika Online | Astaghfirullah


Kepuasan orang saleh tak sama dengan kesenangan orang-orang lalai

REPUBLIKA.CO.ID, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang- binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran [3]: 14).


Mengapa banyak orang saleh yang terkesan ‘miskin’? Ayat di atas menggambarkan, karena kebutuhan ( needs) dan kepuasan ( satisfaction) orang-orang saleh tidak sama dengan kegemaran dan kesenangan orang-orang yang lalai alias pencinta dunia. Kebutuhan mendasar orang saleh adalah mendapatkan kelimpahan rah mat (kasih) Allah, kebutuhan mereka terhadap makan dan minum tidaklah berlebihan. Begitu juga kebutuhan mereka terhadap materi hanya sebatas yang diperlukan. Mereka ti dak digemarkan seleranya oleh Allah untuk ber lebihan dalam pola konsumsi dan memiliki materi.


Kepuasan orang saleh adalah jika dapat menjalankan ketaatan pada Allah dan Rasul SAW sebanyak-banyaknya, ketamakan mereka adalah pada rida Allah saja. Hal inilah yang me malingkan orang saleh dari kesibukan yang dicari dan dikejar oleh orang yang lalai. Di sinilah perbedaan ukuran antara orang yang saleh dan orang yang lalai.


Kalau ada manusia yang paling banyak ujian dan cobaannya adalah para nabi dan rasul yang menganjurkan umatnya untuk beriman dan beramal saleh. Kalau kita perhatikan ha nya beberapa nabi atau sedikit sekali yang men dapat kesempatan menikmati kelezatan dunia. Jika Allah menghendaki, bisa saja se mua nabi itu seperti Sulaiman as, nyatanya sebagian besar mereka terkesan hidup dalam penderitaan dan kekurangan menurut pandangan dan ukuran keduniaan. Janji Allah kepada orang yang beriman dan beramal saleh pasti terjadi.


“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, da lam ke adaan beriman maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan ke pada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS al- Nahl [16]: 97).


Keadilan Allah tak harus sejalan dengan alur pikiran manusia. Pemikiran kita yang seharusnya percaya dan tunduk pada ilmu Allah. Kebenaran juga tak harus selalu masuk akal karena firman Allah pasti menjadi fakta bukan yang masuk akal seseoranglah yang dijadikan standar kebenaran dan fakta. Suka atau tidak suka semua hamba harus tunduk pada kehendak (iradah) dan ketetapan (qadha) Allah.


Ukuran keberhasilan bagi orang saleh bukanlah pada materi dan pandangan kedunia an. Bagi mereka kekayaan adalah ketika keinginan sudah tidak lagi dikecamuk oleh hawa nafsu ingin memiliki dunia, rasa kaya, dan kekayaan sesungguhnya adalah ketika sudah mampu mensyukuri setiap nikmat yang telah Allah berikan dan ketika sudah ringan dan bahagia hati ini kala mau berbagi dan memprioritaskan orang lain.


Lebih dari itu, puncak satisfaction orang saleh adalah kalau sudah konsisten di jalan Allah dalam mencari rezeki Allah, lalu dibelanjakannya lagi di jalan Allah, begitulah cara kerja orang saleh sehingga tak akan pernah kekurangan dalam hidupnya walau kelihatan tidak kaya raya.


Tidak ada mental pengemis dalam diri orang saleh, bukan uang dan kekuasaan yang menjadi obesesi mereka. Kesederhanaan dan asas manfaatlah yang menjadi barometer kesuksesan hidup bagi mereka. Visi mereka adalah berbahagia di dunia dan akhirat. Untuk me realisasikan visi hidupnya, ada konsep keseimbangan yang holistik dan barometer yang jelas pada orang saleh dalam menjalani hidup ini.


Ayat berikut adalah pegangan kebenaran dan sistem nilai hidup mereka. Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal, orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka pada hari kiamat. “Dan, Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS al-Baqarah [2]: 212).


Bagi orang-orang yang saleh, ujian dan cobaan yang menimpa seseorang hanya bahan ujian belaka di mata Allah untuk membuktikan kesungguhan imannya pada Allah. Karena itu, mereka mampu menikmati ujian dan cobaan yang menimpa mereka dengan sabar dan tawakal hanya kepada Allah dan hal itu semakin membuat mereka merasakan manis dan lezatnya iman kepada Allah azza wa jalla.


“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedangkan mereka tidak diuji lagi?” (QS al-Ankabut [29]: 2). Wallahu a’lam bish shawab. 


 


*Artikel ini telah dimuat pada Rubrik Tanya Jawab yang diasuh Ustaz Bachtiar Natsir pada Harian Republika edisi 18 September 2012





Sumber : republika.co.id

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahli Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published.