Sejarah Masjid Cut Meutia, Salah Satu Masjid Peninggalan Belanda

 

Masjid Cut Meutia

Awal Mula didirikannya Masjid Cut Meutia

Masjid cut meutia adalah salah satu masjid yang terletak di jalan cut meutia nomor 1. Bangunan ini menjadi bangunan masjid yang menjadi salah satu peninggalan sejarah dari zaman penjajahan kolonal Belanda.

Masjid meutia diresmikan pada tahun 1987 oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu Ali Sadikin. Dan diterapkan sebagai cagar budaya pada tahun 1961.

Karena bangunan tersebut merupakan bangunan peninggalan belanda. Masjid cute meutia arsitek khas belanda berpadu dengan seni kaligrafi islam.

Berbagai corak tulisan arab menghias dinding masjid yang kokoh, Selama berpuluh tahun. Nama cut meutia diambil dari nama jalan tempat masjid itu berdiri.

Gaya eropa klasik sangat kental di bangunan masjid yang berlokasi di jalan taman cut meutia nomor 1 kelurahan kebon sirih, menteng jakarta pusat ini. Jika dilihat sekilas tidak akan percaya bahwa yang di lihat itu adalah masjid.

Saat memasuki gedung bentuknya yang sama sekali tidak menggambarkan masjid akan semakin meyakinkan orang bahwa bangunan itu bukanlah masjid. Masjid bernama cut meutia ini memang sering mencuri perhatian masyarakat karena desain arsitektur yang sangat unik dan tidak memiliki kubah.

Pada saat penjajahan belanda, masjid tersebut sangat berpengaruh. Bukan sebagai tempat beribadah, awalnya bangunan ini digunakan sebagai bangunan pemerintahan.

Selain itu keunikan lainnya adalah pola bangunan utama masjid lain. Seperti bangunan utama masjid tidak simetris dengan arah kiblat (miring 15 derajat dari dinding bangunan).

Berikut cerita unik tentang sejarah masjid meutia. Dengan semua ciri khas dan sejarahnya yang panjang tersebut masjid meutia berusaha dilestarikan dengan semaksimal mungkin.

Berapa perawatan yang dimaksudkan agar tidak ada lagi bangunan yang rusak. Karena masjid meutia salah satu peninggalan dari zaman penjajahan Belanda.

Perkembangan Masjid Cut Meutia Sampai Sekarang

Masjid mutia merupakan salah satu bangunan kuno yang masih lestari. Meski bangunan ini sudah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda, suasana nyaman masih bisa di peroleh para pengunjung yang datang untuk beribadah.

Muhammad Hussein, ketua remaja islam masjid cut meutia mengakatakan , dimasa lampau bangunan ini memiliki fungsi yang vital. Salah satunya sebagai kantor biro arsitek dan kantor pos.

” Masjid ini memang dahulu sempat mengalami beberapa pergantian gedung, dan awal merupakan kantor arsitek belanda yang bernama Vennootschap Bouwploeg ditahun 1879″ Ucapan dilansir dari laman historia.

Tak hanya itu bangunan tersebut juga pernah didaulat menjadi markas tentara belanda. Hingga jepang selama masa penjajahan.

” Disini juga pernah menjadi kantor KAI, lalu sempat juga dijadikan sebagai kantor majelis permusyawaratan rakyat sementara dimana saat itu masih di pimpin olehjendral A.H.Nasution” imbuh hussein.

Setelah proses pemindahan gedung MPRS selesai di senaya, gedung tersebut lantas dijadikan cagar budaya oleh AH Nasution. Hingga direntang waktu berikutnya diresmikan sebagai bangunan masjid oleh gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin.

Setelah masa kemerdekaan indonesia masjid yang bisa menampung 3.000 anggota jamaah ini pernah menjadi kantor perumahan, kantor urusan agama, hingga sekertaris majelis permusyawaratan rakyatsementara (MPRS). Barulah pada masa gubernur Ali Sadikin gedung itu di hibahkan ke pemerintaha privinsi DKI jakarta.

Sempat hendak dirobohkan pada saat itu. Namun atas usulan Nasution pada saat itu, bangunan tersebut tidak jadi dirobohkan.

Tiga tahaun berselang , Pendirian masjid yang dianalisis oleh gubernur Ali Sadikin itu diketahui telah disahkan, sesuai surat bernomor SK 5184/1987 tertanggal 18 Agustus 1987. Perubahan fungsi gedung ini menjadi masjid berawal dari pemikiran warga yang ingin memiliki masjid di kawasan itu.

Mereka mendatangi jendral A.H. Nasution sebagai ketua MPRS dan meminta gedung Bouw-ploeg bisa di ahli fungsikan menjadi masjid. Permintaan itu di setujui oleh wakil Gubernur Dr. Soewondo dan akhirnya jadilah masjid dengan nama Masjid Cut Meutia.

Namun sebelum itu A.H. Nasution terlebih dahulu membuat perkumpulan remaja. Tak lama setelah berdiri, perkumpulan remaja masjid juga diresmikan dengan nama remaja islam masjid meutia atau yang populer disebutdengan sebutan Ricma.

Di sebelah barat masjid meutia terdapat stasiun Gondangdia. Disisi timur ada jalan protokol besarsebagai tempat lalu lalang.

Awalnya masjidini bernama yayasan masjidal-jihad yang didirikan oleh eksponen seperti akbar tanjung, dan fahmi idris. Dalam kurun waktu order lama, Nama Bouwploeng sendiri kini masih tersisa di barat stasiun sebagai nama pasar Boplo dibarat stasiun kereta api gondangdia.

Tak heran jika masjid tetap ramai dikunjungi meskipun saat pandemi covid-19. Sebagaibentuk antisipasi Hussein bersama ricma menerapkan serangkai protokol kesehatan. salah satunya membatasi saf saaat melaksanakan shalat jamaah.

Hampir semua bagian gedung dibiarkan seperti aslinya. Tanpa adasatupun yang dirubah dari gedung tersebut.

Keunikan bangunannya membuat banyak turis domenstik dan mancanegara rutin berkunjung ke masjid meutia. Dan tak sedikit pengunjung yang akhirnya tertarik mempelajari tentang agama islam.

Dengan luas tanah 5.000 meter persegi dan berada di jantung kota, Masjid cut ini menjadi salah satu pusat aktivitas keislaman. Para pemudah rutin menggelaran acara keagamaan.

Selain itu tidak sedikit pula yang menjadikan masjid cut meutia sebagai tempat ibadah favorite. setiap hari masjid meutia selalu di datangi banyak jamaah.

Sumber : Dalamislam.com

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi.

Report

What do you think?

Written by dalamislam