Sejarah Masjid Raya Bandung, Masjid Megah di Bumi Pasundan

[ad_1]

Sejarah Masjid Raya Bandung, Masjid Megah di Bumi Pasundan

Masjid Raya Bandung dulunya bernama Masjid Agung Bandung adalah masjid yang berada di Kota Bandung, Jawa Barat. Masjid ini memiliki sejarah di bumi sunda. Simak kisah sejarah Masjid Raya Bandung di bawah ini.

Awal Mula Sejarah Masjid Raya Bandung

Perkembangan Pada Abad ke-18

Pada tahun 1812, Masjid Raya Bandung didirikan pertama kali di Bandung bersamaan dipindahkannya pusat kota Bandung dari Krapyak, sekitar sepuluh kilometer selatan kota Bandung ke pusat kota sekarang.

Pada mula, Mjid Raya bndung dibangun denganbentuk bangunan panggung tradisional yang sederhana, bertiang kayu, berdinding anyaman bambu, beratap rumbia dan dilengkapi sebuah kolam besar sebagai tempat mengambil air wudhu.

Pada tahun 1825, air kolam ini berfungsi sebagai sumber air untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di daerah Alun-Alun bandung. Pada tahun 1826, setahun setelah kebakaran dilakukan perombakkan terhadap bangunan masjid dengan mengganti dinding bilik bambu erta atapnya dengan bahan dari kayu.

Pada tahun 1850 terjadi perombakan lagi seiring dengan pembangunan Jalan Groote Postweg yang kini lebih dikenal dengan Jaan Asia Afrika. Masjid Raya Bandung mengalami perluasan dan perobakkan atas instruksi Bupati R. A Wiranatakusumah IV atap masjid diganti dengan genteng sedangkan dindingnya diganti dengan tembok batu-bata.

Pada tahun 1851, kemegahan Masjid Raya Bandung diabadikan dalam lukisan oleh seorang pelukis dari Inggris benama w Spreat. Lukisan tersebut menampakkan limas besar bersusun tiga tinggi menjulang dan masyarakat menyebutknya dengan sebutan bale nyungcung.

Pada tahun 1875, bangunan masjid mengalami perubahan dengan penambahan pondasi dan pagar tembok yang mengelilingi masjid.

Perkembangan Pada Abad Ke-19

Seiring perkembangan waktu, masyarakat Bandung menjadikan Masjid Raya Bandung sebagai pusat kegiatan keagamaan yang melibatkan umat seperti pengajian, perayaan muludan, rajaban, dan hari besar Islam lainnya. Beberapa masyarakat juga ada yang menyelenggarakan akad nikah di masjid ini.

Pada tahun 1900 dilengkapi sejumlah perubahan untuk seperti pembuatan mihrab dan pawatren (teras di samping kiri dan kanan). Kemudian, pada tahun 1930, dilakukan perombakkan kembali dengan membangun sebuah pendopo sebagai teras masjid serta pembangunan dua buah menara yang berbentu persis seperti bentuk atap masjid.

Kekhasan ini yang membuat Masjid Raya Bandung menjadi cantik dan dikenal bentuk nyungcungnya.

Menjelang Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955, Masjid Raya Bandung mengalami perombakan besar-besaran. Atas rancangan presiden pertama RI, I.R Soerkarno, merubah total ai antaranya kubah dari yang sebelumnya di sebut dengan nyungcung menjadi kubah persegi empat bergaya timur tengah seperti bawang.

Menara di kiri dan kanan masjida serta pawastren juga teras depan dibongkar menjadi ruangan masjid. Pada saat itu, Masjid Raya Bandung hanya digunakan sebagai tempat ibadh para tamu konferensi Asia Afrika.

Kubah berbentuk bawang rancangan Sukarno hanya bertahan sekitar 15 tahun. Pada tahun 1967 terjadi kerusakan akibat tertiup angin kencang dan akhirnya mendapat perbaikan. Kemudian. Pada tahun 1970, kubah bawang diganti dengan bentuk bukan bawang lagi.

Berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat tahun 1973, Masjid Raya Bandung mengalami perubahan besar-besaran lagi. Lantai masjid semakin diperluas dan dibuat bertingkat. Tempat ruang basement digunakan sebagai tempat wudhu.

Di depan masjid dibangun menara baru dengan ornamen logam berbentuk bulat seperti bawang dan atap kubah masjid berbentuk Joglo.

Perkembangan Abad Ke-20 Hingga Sekarang

Pada tahun 2001 terjadi perobakan terakhir yang akhirnya dirancang untuk penataan ulang alun-alun Bandung yang kehadirannya tidak terpisahkan dari Masjid Raya Bandung. Proses pembangunannya memakan waktu selama 829 hari atau 2 tahun 99 hari.

Masjid Raya Bandung diresmikan tanggal 4 Juni 2003 oleh Gubernur Jawa Barat H.R. Nuriana. Pembangunannya dinyatakan selesai pada tanggal 13 Januari 2004. Pada saat itu masjid ini, berubah nama menjadi Masjid Raya Bandung yang tadinya bernama Masjid Agung Bandung.

Arsitektur Pada Masjid Raya Bandung

Arsitektur Masjid Raya Bandung merupakan hasil rancangan 4 orang dari Bandung yakni bernama Ir. H. Keulman, Ir. H. Arie Atmadibrata, Ir. H. Numan dan Prof. Dr. Slamet Wiraonjaya.

Rancangan masjid masih tetap mempertahankan sebagian bangunan lama termasuk penghubung masjid dengan alun-alun yang melintas di atas jalan alun-alun barat dan dinding berbentuk sisik ikan di sisi depan masjid.

Salah satu perubahan pada pada bangunan lama adalah perubahan bentuk atap masjid dari bentuk atap limas diganti kubah besar setengah bola berdiameter 30 meter sekaligus menjadi kubah utama.

Untuk mengurangi beban, kubah tersebut didirikan dengan kontruksi space frame yang kemudian ditutup dengan material metal yang dipanaskandalam suhu sangat tinggi. Selain satu kubah utama dengan dua kubah yang ukurannya semakin kacil masing-maing berdiameter 25 meter ditempatkan di atar kontruksi tambahan.

Dua kubah tersebut sama seperti kubah utama memakai konturksi space frame namun ditutup dengan bahan transfaran untuk memberi efek cahaya ke dalam masjid.

Terdapat sebuah dua menara kembar yang mengapit bangunan utama masjid. Pada lantai tertinggi di lantai 19, para pengunjung yang datang bisa menikmati pemandangan 360 derajat kota Bandung.

Tampilan Dalam Masjid Raya Bandung

Di dalam masjid terdapat dua bagian ruangan, yaitu : ruang dalam bagian depan yang cukup luas dan ruang sholat utama. Ruang dalam bagian depan masjid dipakai sebagai aula untuk acara pengajian, pernikahan dan beberapa tempat istirahat pengunjung.

Bagian shola t utama terletak di ruang terpisah dari ruag dalam bagian depan. Kedua ruangan ini dihubungkan dengan jembatan yang di bawahnya terdapat ruang wudhu. Ruangan utama ini sangat luas dan memiliki dua lantai.

[ad_2]

Sumber : Dalamislam.com

Alhamdulillah Allohumma Sholli β€˜Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi β€˜adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata β€˜arsyihi wa midada kalimatihi.

Report

What do you think?

dalamislam

Written by dalamislam