Sejarah Puasa Senin Kamis _*

Salah satu dari macam-macam puasa sunnah yang kerap dilakukan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah puasa Senin Kamis.

Puasa Senin Kamis adalah salah satu puasa sunnah yang dilakukan pada hari Senin dan/atau Kamis dan merupakan puasa sunnah yang disepakati oleh para ulama.

Syaikh Wahbah Az Zuhaili menyatakan,

“Puasa-puasa sunnah yang disepakati para ulama antara lain puasa hari Senin dan Kamis setiap pekan berdasarkan perkataan Usamah bin Zaid, ‘Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa puasa pada hari Senin dan Kamis. Suatu ketika beliau ditanya tentang hal itu lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya amal-amal manusia dibeberkan (kepada Allah) pada hari Senin dan Kamis.” (Syaikh Wahbah Az Zuhalili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu)

Bagaimanakah sejarah puasa Senin Kamis?

Puasa Senin Kamis adalah puasa sunnah yang selalu dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam sebuah riwayat, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari Senin dan Kamis.” (HR An-Nasa’i dan Ibnu Majah).

Hadits di atas menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kerap melaksanakan puasa Senin Kamis secara rutin.

Karena dicontohkan langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. sudah selayaknya kaum muslimin melaksanakan puasa Senin Kamis secara rutin.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walapun itu sedikit.” (HR. Muslim)

Sejarah puasa Senin Kamis sendiri dapat diketahui dari beberapa alasan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa Senin Kamis atau keutamaan puasa Senin Kamis.

Alasan dirutinkannya puasa Senin Kamis salah satunya adalah karena hari Senin merupakan hari kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya dengan puasa Senin Kamis. Maka beliau menjawab, “Hari Senin adalah hari lahirku, hari aku mulai diutus atau hari mulai diturunkannya wahyu.” (HR. Muslim)

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lahir pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awal Tahun Gajah.

Berdasarkan hadits di atas, wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menurut Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfuri terjadi pada hari Senin tanggal 21 Ramadhan di malam hari.

Adapun ayat yang pertama kali turun menurut pendapat para ulama adalah surat Al ‘Alaq ayat 1-5.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau menyebutkan,

“Awal turunnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dimulai dengan ar ru’ya ash shadiqah (mimpi yang benar dalam tidur). Dan tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. Kemudian Beliau dianugerahi rasa ingin untuk menyendiri. Nabi pun memilih gua Hira dan ber-tahannuts. Yaitu ibadah di malam hari dalam beberapa waktu. Kemudian beliau kembali kepada keluarganya untuk mempersiapkan bekal untuk ber-tahannuts kembali. Kemudian Beliau menemui Khadijah mempersiapkan bekal. Sampai akhirnya datang Al Haq saat Beliau di gua Hira. Malaikat Jibril datang dan berkata: “Bacalah!” Beliau menjawab, “Aku tidak bisa baca”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan, “Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi, “Bacalah!” Beliau menjawab, “Aku tidak bisa baca”. Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi, “Bacalah!”. Beliau menjawab, “Aku tidak bisa baca”. Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi, (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah)” (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Segala amal perbuatan diperiksa di hadapan Allah

Alasan lainnya adalah karena di hari-hari itulah segala amal perbuatan manusia, baik macam-macam amal shaleh maupun amal buruk diperiksa di hadapan Allah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu bersabda,

“Amal-amal manusia diperiksa di hadapan Allah dalam setiap pekan (Jumu’ah) dua kali, yaitu pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang beriman terampuni dosanya, kecuali seorang hamba yang di antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan.” (HR. Muslim)

Dalil lainnya adalah hadits yang diriwayatkan An-Nasa’i sebagai berikut.

Dari Usamah bin Zaid, ia berkata, aku bertanya, “Ya Rasulullah, sesungguhnya engkau berpuasa sampai hampir saja tidak berbuka dan engkau berbuka sampai hampir saja tidak berpuasa kecuali pada dua hari. Jika keduanya masuk dalam puasamu dan jika tidak begitu, engkau berpuasa pada keduanya.” Beliau bertanya, “Apakah nama dua hari itu?” Aku menjawab, “Hari Senin dan Kamis.” Beliau bersabda, “Itulah dua hari yang diperlihatkan amal padanya kepada Rabb semesta alam. Maka aku ingin diperlihatkan amalku saat sedang berpuasa.” (HR. An Nasa’i, hasan)

4. Dibukanya pintu surga

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,

“Pintu-pintu surga di buka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap orang ini sampai keduanya berdamai.” (HR. Muslim)

Sumber : dalamislam.com

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?