Shohibul Qurban: Pengertian dan Syaratnya _*

Di setiap perayaan hari raya qurban, selalu ada yang berniat untuk merayakannya dengan berbagi antar sesama yaitu dengan cara berqurban. Dan acap kali kita sering mendengar tentang shohibul qurban.

Lalu, apa makna dari Shohibul qurban itu sendiri? Disyariatkannya qurban sebagai simbol pengorbanan hamba kepada Allah Ta’ala, bentuk ketaatan kepada-Nya dan rasa syukur atas nikmat kehidupan yang diberikan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya.

Hubungan rasa syukur atas nikmat kehidupan dengan berqurban yang berarti menyembelih binatang dapat dilihat dari dua sisi.

Berqurban merupakan ibadah yang paling dicintai Allah Ta’ala di hari Nahr, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat At-Tirmidzi dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anhu. bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah anak Adam beramal di hari Nahr yang paling dicintai Allah melebihi menumpahkan darah (berqurban). Qurban itu akan datang di hari Kiamat dengan tanduk, bulu dan kukunya. Dan sesungguhnya darah akan cepat sampai di suatu tempat sebelum darah tersebut menetes ke bumi. Maka perbaikilah jiwa dengan berqurban”.

Pengertian Shohibul Qurban

Sebagaimana penjelasan dalam hadits dan terjemah Al-Qur’an, bahwa diwajibkannya berkurban bagi orang yang mampu. Semakin banyak umat muslim yang berniat untuk berqurban.

Orang yang memiliki niat dan melaksanakan qurban itulah yang dinamakan Shohibul Qurban.

Syarat Orang yang Ingin Qurban atau Shohibul Qurban

Seperti ibadah lainnya, kurban pun juga memiliki syarat yang tengah diajarkan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم. Adapun syarat-syarat orang yang ingin kurban yaitu:

  • Seorang muslim atau muslimah,
  • Telah memasuki usia baligh yang ditandai dengan:
    • Keluar mani anak laki-laki ataupun perempuan baik dalam keadaan jaga atau mimpi sebagai tanda berubahnya horman di dalam diri mereka,
    • Keluar darah haid pada usia 9 tahun (untuk perempuan). Jika darah haid atau mani sama sekali tidak keluar maka ditunggu hingga umurnya 15 tahun,
    • Dan jika sudah genap 15 tahun mka ia dinyatakan telah baligh dengan usia tersebut. Jika yang berkurban adalah anak yang belum baligh maka tidak diminta untuk melakukan sembelihan, akan tetapi sunnah bagi walinya untuk berkurban atas nama anak tersebut.
  • Mempunyai akal. Orang yang termasuk dalam kategori abnormal tidak diminta untuk melakukan kurban namun sunnah bagi walinya untuk berkurban atas nama orang tersebut,
  • Memiliki kemampuan untuk berkurban. Mampu disini memiliki arti yaitu mempunyai kelebihan dari makanan pokok, pakaian serta tempat tinggal untuk dirinya sendiri dan keluarga pada saat Hari Raya Idul Adha dan Hari Tasyrik.

Sumber : dalamislam.com

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihiadada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?