Suami Sebagai Pemimpin Keluarga | Republika Online | Astaghfirullah

“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS Muhammad [47]: 22)


Sesungguhnya kewajiban suami itu bukan hanya mencari uang atau mencari nafkah lahir. Akan tetapi seorang suami juga mempunyai kewajiban untuk menanamkan sebuah visi dalam rumah tangganya. Yakni, hendak dibawa kemana rumah tangganya kelak? Di samping itu, selayaknya seorang suami dapat menjadi suri tauladan bagi istri dan anak-anaknya serta mampu mengontrol moral keluarga agar tetap terkendali.

Dalam hal ini, tentu saja Rasulullah Muhammad Saw teramat patut untuk dijadikan sebagai sosok panutan suami ideal. Rasulullah berlaku halus dan lemah lembut sikapnya kepada istri-istrinya. Beliau tidak pernah marah hingga mengeluarkan kata-kata kasar.

Dan jikalau beliau marah, beliau hanya akan mendiamkan saja. Dan itupun merupakan bagian dari pendidikan yang beliau ajarkan kepada istrinya. Sampai suatu ketika pernah diriwayatkan bahwa saat Rasul pulang larut malam dan istrinya Siti Aisyah sudah tertidur, beliau sedikit pun tidak mengetuk pintu dan marah-marah. Demikian lembutnya beliau kepada istri, sehingga Rasulullah yang mulia ini pun rela tidur di teras rumah tanpa membangunkan istri yang disayanginya.

Di sini, disebutkan tentang kelembutan Rasul SAW sebagai suami. Sebab, sebagaimana dicontohkan beliau, walau bagaimana pun, seorang suami tetap pemimpin keluarga. Dan kalau tidak hati-hati, seseorang yang merasa dirinya sebagai pemimpin, dalam skala apapun, cenderung mampu menggunakan kekasaran. Hal inilah yang tampaknya harus kemudian digarisbawahi.

Maka dari itu, mulai dari sekarang, usahakan satu saja. Cobalah berlaku lemah lembut. Kekerasan di dalam Islam itu sangat menjadi alternatif terakhir, bahkan bersabar itu lebih baik apalagi kepada istri yang kita pilih sendiri.

Sebagai contoh, Rasulullah Muhammad SAW sangat memuliakan sekali istri-istrinya. Di rumah, beliau membantu pekerjaan istri-istrinya. Bahkan untuk salah satu istrinya, Rasul memanggilnya dengan panggilan kesayangan “Humairah” atau “yang kemerah-merahan”. Artinya, (dalam hal ini untuk kita para suami) carilah apa yang membuat istri senang. Beliau benar-benar senang bercengkerama dengan keluarganya. Anak-istri beliau dibahagiakan dan dimuliakan dengan bimbingan ukhrawi.

Sewajarnya seorang suami sudah seharusnya mampu membimbing istri agar berakhlak mulia. Kalau punya uang, dibimbing supaya jadi ahli sedekah. Kalau ada waktu, bimbing supaya waktunya bermanfaat. Ingat, kehormatan seorang suami bukan karena gelar, pangkat, kedudukan, harta, jabatan, maupun popularitas. Yang paling penting dari itu semua adalah selain suami harus berlemah lembut, hendaknya ia menjadi contoh, dan dalam hal mendidik adalah bagaimana suami mendidik anak dan istrinya agar mampu mengenal Allah (ma`rifatullah) dan bisa tahu arti hidup ini agar bisa mengarungi hidup ini di jalan yang diridhai-Nya. Wallahu a`lam bishshawaab.

Penulis : Abdullah Gymnastiar/dr/mns/mqp 

REPUBLIKA – Senin, 30 Juni 2003        

Sumber : republika.co.id

Featured Image : freepik

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahli Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published.