Tafsir Surat al-Waqi’ah Ayat 13 – 14: Umat Terdahulu atau Umat Nabi Muhammad yang Paling Banyak di Surga ? _*

BincangSyariah.Com – Setelah pada artikel sebelumnya dijelaskan tentang deskripsi kenikmatan surga, artikel ini akan menguraikan tentang siapa yang akan menjadi penduduk di dalamnya. Dua ayat yang hendak dijelaskan ini sedikit banyak berbicara tentang kelompok yang paling awal dan kelompok yang akhir. Artikel ini juga akan menerangkan bagaimana diskusi para mufasir mengenai apa yang dimaksud dengan kelompok awal dan kelompok akhir ini. Allah Swt berfirman:

ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ () وَقَلِيلٌ مِنَ الْآخِرِينَ ()

Segolongan besar dari orang-orang terdahulu. Dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.

Terkait penafsiran orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian, Ibn Jarir al-Thabari menafsirkan bahwa yang pertama adalah umat dari Nabi dan Rasul terdahulu, sedangkan yang kedua adalah umat Nabi Muhammad Saw sebagai penutup dari para Nabi dan Rasul. Ketika menafsirkan ayat ini, al-Thabari tidak menyertakan riwayat apa pun. Penulis ingin mengatakan bahwa al-Thabari pun memiliki pendapat tafsirnya sendiri yang terlepas dari riwayat yang dia kumpulkan.

Kata tsullah pada ayat di atas menurut Imam al-Qusyairi berarti kelompok (al-jama’ah). al-Qusyairi mengetengahkan dua pendapat ketika menafsirkan dua ayat ini. Pendapat pertama sama seperti pendapat al-Thabari, yakni yang dimaksud dengan kelompok terdahulu adalah umat dari para Nabi sebelum Nabi Muhammad Saw. Sedangkan kelompok terakhir adalah umat Nabi Muhamamd Saw. Pendapat kedua menyatakan bahwa yang pertama adalah para sahabat Nabi yang bertemu dengannya, sedangkan yang terakhir adalah umat Nabi yang tidak sempat berjumpa dengan Nabi.

Seperti halnya al-Qusyairi ketika memaknai kata tsullah, M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah berpendapat bahwa kata ini berarti sekelompok orang, baik sedikit ataupun banyak. Sebagian ulama, kata Quraish, berpendapat bahwa kata ini merujuk pada kelompok orang yang banyak. Mereka yang memaknai kata tsullah dengan kelompok banyak, meyakini bahwa yang dimaksud dengan ayat di atas hanya berlaku bagi umat Nabi Muhammad saja. Pendapat seperti ini ditolah oleh Quraish, menurutnya pendapat tersebut tidak sejalan dengan ayat-ayat sebelumnya. Menurut Quraish, ayat ini bercerita tentang umat manusia secara keseluruhan, bukan hanya umat Nabi Muhammad.

Dalam Al-Qur’an dan Tafsirnya Kementerian Agama RI, dijelaskan bahwa prosentase umat terdahulu yang masuk dalam kategori al-sabiquun al-muqarrabuun lebih besar dibandingkan dengan prosentase umat Nabi Muhammad Saw. Akan tetapi, karena jumlah umat Nabi Muhammad Saw jauh lebih besar dan lebih banyak dari umat nabi-nabi yang lain, maka jumlah umat Nabi Muhamamd Saw yang termasuk kategori al-sabiquun al-muqarrabuun jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah umat-umat terdahulu.

Berbeda dengan para mufasir yang telah dijelaskan pendapatnya di atas, ketika menafsirkan dua ayat ini Buya Hamka melalui Tafsir Al-Azhar berbicara panjang lebar. Menurut Hamka, kedua ayat ini menerangkan bahwa di zaman dulu banyak orang-orang yang berlomba-lomba menuju jalan kebaikan. Lalu belakangan, di hari kemudian, semakin lama semakin sedikit orang yang mendekat kepada Tuhan. Meski seperti ini penafsirannya, bagi Hamka, ayat ini tidak sedang menyuruh orang untuk berputus asa. Hal ini sesuai dengan harapan Rasulullah Saw yang terdapat dalam riwayat Imam Ahmad:

إني لأرجو ان تكونوا ربع اهل الجنة ثلث اهل الجنة بل انتم نصف اهل الجنة او شطر اهل الجنة وتقاسموهم النصف الثاني (رواه الإمام أحمد عن أبي هريرة)

“Besarlah harapanku semoga kalian ini menjadi seperempat dari ahli surga, sepertiga ahli surga, bahkan kalian separuh dari ahli surga, dan yang separuh lagi biarlah mereka bagi-bagikan.”

Selain mengutip hadis di atas, Buya Hamka juga mengutip dua hadis yang menafsirkan terkait apa yang dimaksud dengan umat yang terbaik apakah yang terdahulu atau yang belakangan. Menurut Hamka, baik yang paling awal dengan yang belakangan saling membutuhkan satu sama lain. Ajaran agama membutuhkan umat pertama yang menyampaikan kepada umat yang datang belakangan, umat pertama pun memerlukan umat belakangan yang berdiri menegakkan ajaran agama agar umat manusia senantiasa berpegang teguh pada ajaran ini. Hamka menganalogikan dengan tumbuh-tumbuhan yang ada di suatu lahan. Mereka membutuhkan air hujan secara terus menerus. Hujan pertama menjadi sangat penting, karena jika tidak ada hujan pertama, maka tidak aka nada yang tumbuh di bumi. Wallahu A’lam.

Source : Bincangsyariah.com
Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahlihi Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?