Umat | Republika Online | Astaghfirullah

Kata umat, seperti disebut ar-Raghib al-Ashfihani dalam bukunya Mu’jam Mufradat Alfadz Alquran, diartikan sebagai ”semua kelompok yang dihimpun oleh sesuatu, seperti agama yang sama, waktu atau tempat yang sama baik penghimpunannya secara terpaksa maupun atas kehendak mereka”. Definisi ini tampaknya ingin menjelaskan pengertian (cakupan) umat tidak hanya menunjuk kepada kelompok agama tertentu tetapi juga kepada agama lain.


Alquran dan Hadis sendiri menggolongkan makhluk binatang ke dalam kategori umat. Tiada satu burung pun yang terbang dengan kedua sayapnya kecuali umat-umatmu juga seperti kamu (Q. S. 6: 38). ”Semua yang berkeliaran,” sabda Nabi SAW, ”adalah juga umat dari umat-umat Tuhan” (H.R. Imam Muslim).

Selain kelompok umat di atas, Alquran menyebut seseorang yang terkumpul dalam dirinya sifat-sifat terpuji, seperti Nabi Ibrahim sebagai umat. Sementara Rasulullah juga menggolongkan manusia-manusia yang durhaka kepada agama sebagai umat. ”Semua umatku masuk surga kecuali yang enggan,” kata Nabi SAW (H.R. Bukhari).

Kata umat di dalam Alquran disebut sebanyak 52 kali dalam bentuk tunggal. Al-Damighani dalam kamus Alqurannya memerinci sembilan pengertian kata umat yang terdapat dalam Alquran, yaitu: kelompok, agama (tauhid), waktu yang panjang, kaum, pemimpin, generasi silam, umat Islam, orang-orang kafir, dan seluruh umat manusia.

Semua pengertian umat yang terungkap dalam tulisan ini, menunjukkan bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang luwes, terbuka dan moderat, yang dapat menampung sekian himpunan umat yang hidup di bumi ini. Umat Islam, menurut Alquran, adalah Ummatan Wasathan (Q.S.2:143). Yusuf Qardawi dalam bukunya Al Khashais al-Ammah li al-Islam menjelaskan pengertian wasathan sama dengan tawazzun, yaitu keseimbangan antara dua arah atau jalan yang saling berhadapan atau bertentangan; tidak terpengaruh oleh kepentingan individu, kelompok, ras dan suku.

Dengan demikian, Ummatan Wasathan adalah umat yang adil, toleran, senang berdialog, mau hidup rukun dan tidak bersikap ekstrem yang dapat memicu lahirnya konflik pribadi dan masyarakat. Ummatan Wasathan juga berarti umat yang posisinya selalu berada di tengah yang dapat dilihat oleh semua pihak. Mereka menjadi syuhada dalam arti saksi dan sekaligus disaksikan.

Mereka adalah umat yang harus mampu menjadi teladan bagi yang lain dalam menegakkan keadilan, membela kebenaran, dan melenyapkan tindakan kekerasan, keterbelakangan, dan kemiskinan umat. Karena itu, dalam konteks negara kita yang sangat heterogen — terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama — sudah barang tentu Islam senantiasa menempatkan perbedaan dan keanekaan ini dalam posisi umat yang potensial untuk diajak bersama-sama membangun bangsa dan menegakkan kebenaran Ilahi di muka bumi. – ahi

Sumber : republika.co.id

Featured Image : freepik

Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahli Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihi ‘adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Leave a Reply

Your email address will not be published.