Varian Delta Lebih Berbahaya dari SARS-CoV-2 yang Pertama_*

Varian delta jauh lebih berbahaya dari virus SARS-CoV-2 yang pertama kali muncul.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sebuah penelitian di Kanada mengukur virulensi SARS-CoV-2 varian delta dibandingkan dengan jenis virus SARS-CoV-2 yang pertama kali muncul. Penelitian menemukan, delta jauh lebih berbahaya sehingga membuat penderitanya kemungkinan besar jalani rawat inap.


Selama 2021 munculnya beberapa varian baru SARS-CoV-2 telah menjadi perhatian penuh. Kemunculan varian baru juga membuat situasi kian jelas karena banyak varia baru justru jauh lebih menular daripada virus yang muncul di awal pandemi.


Studi baru yang dilakukan para peneliti kesehatan masyarakat di University of Toronto, menyelidiki catatan lebih dari 200 ribu kasus Covid-19 Kanada. Virulensi diukur dengan tingkat rawat inap, masuk ICU, dan kematian.


Kasus dengan strain asli SARS-CoV-2 dibandingkan dengan kasus dengan varian awal (alpha, beta, dan gamma), lalu dengan kasus  varian delta. Dari studi tersebut ditemukan bahwa varian delta yang paling dominan. 


Melihat ketiga varian awal, para peneliti menemukan bahwa tingkat risiko rawat inap dari varian delta sebesar 52 persen dibandingkan dengan jenis virus SARS-CoV-2 lainnya. Tiga varian awal juga meningkatkan risiko masuk ICU sebesar 89 persen dan kematian sebesar 51 persen.


Tetapi melihat data dari kasus delta, para peneliti mendeteksi peningkatan besar lain dalam virulensi dari varian sebelumnya. Dibandingkan dengan strain SARS-CoV-2, varian delta meningkatkan risiko rawat inap sebesar 108 persen, risiko masuk ICU sebesar 235 persen, dan kematian sebesar 133 persen.


Penulis studi, David Fisman dan Ashley Tuite, juga menemukan varian baru SARS-CoV-2 menyebabkan tingkat infeksi yang lebih tinggi pada orang yang lebih muda. Namun, kabar baiknya adalah vaksinasi secara signifikan efektif mengurangi peningkatan risiko penyakit parah dan kematian dari berbagai varian corona, termasuk delta.


“Efek yang dilaporkan di sini mewakili tingkat perlindungan substansial terhadap kematian yang diberikan oleh vaksin (sekitar 80-90 persen), bahkan ketika vaksin gagal mencegah infeksi,” tulis Fisman dan Tuite dalam studi baru, dilansir dari newsatlas, Rabu (13/10).


Fisman dan Tuite mengatakan, munculnya varian tersebut telah memperpanjang durasi pandemi. Kanada sedang berjuang melawan pandemi yang berbeda dari yang dihadapinya pada awal 2020.


“Virusnya menjadi lebih pintar dan lebih berbahaya, yang berarti kita juga harus lebih pintar. Pemerintah Kanada dapat menjaga keamanan masyarakat dengan memberlakukan kebijakan dengan bijak, menggabungkan semua tindakan yang telah terbukti efektif,” katanya lagi.


Sumber : republika.co.id
Featured Image : unsplash.com
Alhamdulillah Allohumma Sholli ‘Ala Nabiyina Muhammad Wa Ahli Wa Ashhabihi Wa Ummatihi. Subhanallah wa bihamdihiadada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata ‘arsyihi wa midada kalimatihi. Jazakumullah sudah ikut men-share (membagikan) konten ini, insya Alloh jadi amal jariyah untuk kebaikan dunia akhirat kita. Aamiin

Report

What do you think?